30 December 2025, 20:02

Aktivis Greenpeace Dapat Teror Bangkai Ayam di Rumah: Ada Pesan “Jagalah Ucapanmu”

Rumah Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, mendapat kiriman bangkai ayam pada Selasa (30/12/2025).

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
1,514
Aktivis Greenpeace Dapat Teror Bangkai Ayam di Rumah: Ada Pesan “Jagalah Ucapanmu”
Ilustrasi. Aktivis Greenpeace dapat teror. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)

JAKARTA,Perspektif.co.id - Rumah Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, mendapat kiriman bangkai ayam pada Selasa (30/12/2025). Bangkai ayam itu ditemukan di teras rumah pada pagi hari tanpa pembungkus, dengan selembar pesan ancaman yang diikat pada bagian kaki ayam.

Dalam keterangan yang dipublikasikan Greenpeace Indonesia, pada kaki bangkai ayam tersebut terikat plastik berisi kertas bertuliskan pesan: “JAGALAH UCAPANMU APABILA ANDA INGIN MENJAGA KELUARGAMU, MULUTMU HARIMAUMU”

Greenpeace menyebut, Iqbal sempat mendengar suara “gedebuk” di teras rumah pada dini hari, namun bangkai ayam baru ditemukan sekitar pukul 05.30 WIB oleh anggota keluarga. Setelah itu, Iqbal memeriksa dan melakukan dokumentasi atas kiriman tersebut. 

Kepala Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak menduga kiriman tersebut merupakan bentuk teror yang terkait dengan kerja-kerja kampanye Iqbal. Menurut Leonard, pola intimidasi semacam itu belakangan juga menimpa masyarakat sipil lain, termasuk jurnalis dan pegiat media sosial. Greenpeace turut menyinggung adanya laporan serupa dari disjoki asal Aceh, DJ Donny, serta pengakuan pemengaruh dan kreator konten asal Aceh Sherly Annavita mengenai vandalisme pada kendaraan pribadi dan kiriman telur busuk ke tempat tinggalnya, yang juga disertai surat bernada mengancam. 

Leonard menyatakan sulit untuk tidak mengaitkan kiriman bangkai ayam kepada Iqbal sebagai upaya pembungkaman terhadap suara kritis. “Sulit untuk tak mengaitkan kiriman bangkai ayam ini dengan upaya pembungkaman terhadap orang-orang yang gencar menyampaikan kritik atas situasi Indonesia saat ini. Ada satu kemiripan pola yang kami amati, sehingga kami menilai ini teror yang terjadi sistematis terhadap orang-orang yang belakangan banyak mengkritik pemerintah ihwal penanganan bencana Sumatera,” kata Leonard. 

Greenpeace menjelaskan, dalam beberapa waktu terakhir Iqbal melalui akun media sosial pribadinya kerap menayangkan unggahan mengenai banjir di Sumatra dan menyoroti respons pemerintah yang dinilai lambat dalam penanganan bencana. Greenpeace menyebut pernyataan-pernyataan itu berangkat dari temuan tim di lapangan pascabencana, termasuk analisis organisasi. Di saat bersamaan, Greenpeace menyatakan Iqbal juga menerima serangan di kolom komentar dan pesan langsung bernada ancaman dalam beberapa hari terakhir.

Dalam pernyataannya, Leonard menegaskan kritik publik bukan ancaman, melainkan bagian dari mekanisme demokrasi dan pengingat agar kekuasaan tetap akuntabel. Ia juga menyinggung faktor lingkungan yang dinilai berkaitan dengan bencana, termasuk deforestasi dan alih fungsi lahan, serta mengaitkannya dengan keputusan kebijakan. “Kritik publik… lahir dari keprihatinan dan solidaritas terhadap para korban. Apalagi di balik banjir Sumatera ini ada persoalan perusakan lingkungan, yakni deforestasi dan alih fungsi lahan yang terjadi menahun… Belum lagi pemerintahan Prabowo malah akan membuka jutaan hektare lahan di Papua, yang bakal merugikan Masyarakat Adat dan memperburuk dampak krisis iklim,” ujar Leonard. 

Greenpeace Indonesia mengecam meningkatnya intimidasi terhadap masyarakat sipil, dan menegaskan kebebasan berbicara dijamin konstitusi. Leonard menekankan teror tidak akan menghentikan kerja-kerja kampanye organisasi. “Upaya teror tak akan membuat kami gentar. Greenpeace akan terus bersuara untuk keadilan iklim, HAM, dan demokrasi,” kata Leonard. 

Berita Terkait