JAKARTA, Perspekti.co.id - — Layar bioskop akhir pekan ini dipenuhi film lintas genre, dari drama keluarga, horor komedi, hingga thriller bernuansa teknologi. Dalam daftar rilisan pekan ini, tema masa depan dan kecerdasan buatan (AI) ikut menonjol lewat Esok Tanpa Ibu dan Mercy, yang sama-sama menyorot sisi emosional sekaligus sisi gelap teknologi ketika masuk ke ruang paling personal manusia.
Di sisi film lokal, penonton yang mencari hiburan “tegang tapi ngakak” bisa melirik Sebelum Dijemput Nenek, sementara pencinta horor murni yang mengandalkan atmosfer mencekam bisa memilih Sengkolo: Petaka Satu Suro dengan latar mitos malam keramat. Adapun dari ranah thriller horor, Primate membawa premis liburan yang berubah jadi mimpi buruk ketika seekor simpanse peliharaan mendadak menjadi ancaman mematikan.
Sebelum Dijemput Nenek memadukan unsur horor dan komedi lewat kisah Hestu dan Akbar, saudara kembar yang hidupnya mendadak jungkir balik setelah sang nenek meninggal. Alih-alih “selesai urusan”, arwah nenek justru terus datang dengan permintaan yang bikin keduanya panik: minta ditemani ke alam baka. Dalam situasi serbadarurat, mereka meminta bantuan Ki Mangun—dukun yang digambarkan teledor—yang memberi tenggat tujuh hari agar mereka menemukan “pengganti” untuk memenuhi permintaan tersebut. Cerita makin kacau dengan hadirnya tokoh lain yang memperkeruh keadaan, termasuk Kotrek yang emosian dan Nisa yang polos. Film ini mengusung rating R13.
Sejumlah nama komika dan aktor muda ikut memperkuat warna horor-komedinya, termasuk Angga Yunanda dan Dodit Mulyanto. Sutradara Fajar Martha Santosa juga menekankan ritme “ketawa–tegang–ketawa” sebagai pengalaman yang ingin dibawa film ini. “Penonton akan diajak tertawa, lalu tegang, lalu tertawa lagi,” tutur Fajar Martha dalam salah satu keterangan yang beredar.
Sementara itu, Esok Tanpa Ibu membawa drama keluarga yang menekan sisi emosional penonton, berpusat pada Rama yang punya ikatan sangat kuat dengan ibunya, Laras. Hubungan Rama dengan ayahnya, Hendri, justru digambarkan sering dingin karena perbedaan cara pandang. Niat liburan keluarga untuk memperbaiki suasana berubah tragis ketika kecelakaan membuat Laras berada dalam kondisi kritis, meninggalkan Rama dalam kesepian dan kerinduan. Di titik itulah Rama—dibantu temannya, Zila—menggunakan teknologi AI bernama i-Bu untuk meniru suara dan kepribadian sang ibu, demi mempertahankan “rasa hadir” Laras dalam hidupnya. Film ini juga diberi rating R13.
Dari jalur thriller horor, Primate mengangkat cerita liburan di Hawaii yang berubah jadi teror berdarah. Fokus ancaman datang dari Ben, simpanse peliharaan keluarga yang sebelumnya dianggap jinak, lalu menjadi agresif setelah terinfeksi rabies. Kekacauan meledak ketika serangan Ben memaksa sekelompok remaja bertahan di dalam rumah, berpacu dengan waktu dan rasa panik karena sang primata tak lagi sekadar liar, tapi juga “pintar” dalam memburu. Sejumlah ulasan menyebut film ini mengandalkan tensi cepat dan kekerasan grafis yang kuat, dan saat ini beredar sebagai tontonan yang ditujukan untuk penonton dewasa (setara rating “hard R” di beberapa pasar).
Horor lokal yang mengandalkan mitos malam keramat hadir lewat Sengkolo: Petaka Satu Suro. Berlatar desa pesisir terpencil, ketenangan warga diguncang rangkaian kejadian mistis menjelang malam 1 Suro. Teror disebut mengincar perempuan hamil, membuat suasana desa berubah mencekam dan penuh curiga. Di pusat cerita ada Rahayu, seorang bidan yang sedang menantikan kelahiran anak keduanya, namun harus menghadapi duka dan ancaman kekuatan jahat yang mengejar nyawa orang-orang terdekatnya—bahkan saat ia sendiri mesti berjuang melahirkan. Film ini beredar dengan kategori penonton dewasa (D17).
Adapun Mercy mengambil latar masa depan dan menaruh “pengadilan” sebagai arena pertarungan paling dingin: manusia versus sistem. Cerita mengikuti Chris Raven, detektif LAPD yang terbangun di kursi eksekusi karena dituduh membunuh istrinya. Ia diberi waktu 90 menit untuk membuktikan dirinya tidak bersalah di hadapan hakim berbasis AI bernama Maddox. Di bawah “Mercy Program”, terdakwa bisa mengakses bukti digital dan kamera di seluruh kota untuk membangun pembelaan sendiri—tanpa juri dan tanpa banding. Dalam berbagai sinopsis, sistem ini digambarkan bekerja lewat statistik dan probabilitas, termasuk ambang tertentu yang mengarah pada eksekusi ketika peluang kesalahan dinilai terlalu tinggi (disebut mencapai 92%). Film ini juga menonjolkan beban reputasi Raven sebagai pecandu alkohol dan temperamental yang justru memperberat posisinya.
Dengan kombinasi drama keluarga bernuansa teknologi, horor komedi yang “ramai”, horor mitos lokal, hingga thriller AI yang menekan psikologis, jajaran film pekan ini memberi pilihan yang lebar untuk penonton akhir pekan—tinggal sesuaikan selera: mau “merinding sambil ketawa”, “nangis diam-diam”, atau “deg-degan dikejar sistem”.