TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Gelombang besar kecerdasan buatan kembali mendominasi panggung global ketika Mobile World Congress (MWC) 2026 dibuka di Barcelona. Sejak hari pertama, para pemimpin industri menyoroti bagaimana AI bukan lagi sekadar jargon, melainkan fondasi strategis untuk mendorong nilai bisnis baru, mempercepat transformasi jaringan, dan menghidupkan kembali ambisi monetisasi 5G. Dengan lebih dari 109.000 peserta dari 205 negara, acara ini memperlihatkan bagaimana AI kini menjadi pusat gravitasi seluruh ekosistem teknologi, mulai dari perangkat, jaringan, hingga operasi telekomunikasi.
“AI akan membawa killer app untuk 5G,” ujar Christel Heydemann, CEO Orange, yang menegaskan bahwa kemampuan slicing 5G belum dimanfaatkan secara maksimal dan AI menjadi kunci untuk mengaktifkannya.
Diskusi mengenai monetisasi 5G kembali mengemuka ketika operator menyoroti perlambatan adopsi 5G Standalone (SA) di berbagai sektor industri. Meski teknologi ini menjanjikan otomatisasi tingkat lanjut, keamanan yang lebih kuat, dan peluang bisnis enterprise baru, banyak perusahaan masih ragu berinvestasi karena belum melihat justifikasi bisnis yang jelas. Deloitte mencatat bahwa operator masih kesulitan mengubah potensi AI menjadi pendapatan berkelanjutan di luar efisiensi internal.
“Operator telah membangun infrastruktur, tetapi gagal menangkap potensi monetisasinya secara penuh,” tegas Benedicte Schilbred Fasmer, CEO Telenor Group, yang memperingatkan bahwa keamanan berbasis AI harus berkembang seiring konektivitas yang semakin cerdas.
Pada hari kedua, dominasi AI semakin menguat ketika integrasi mendalam ke dalam jaringan dan operasi menjadi sorotan utama. Laporan IITP menegaskan bahwa operator global kini bergerak menuju Agentic AI—kerangka kerja yang memungkinkan agen AI bekerja secara otonom untuk merencanakan, mengeksekusi, dan mengevaluasi operasi jaringan tanpa intervensi manusia. Teknologi ini diproyeksikan mengoptimalkan efisiensi, menekan biaya energi, dan meningkatkan performa jaringan secara real time.
“Integrasi AI dengan RAN akan mengubah operator menjadi perusahaan teknologi,” tulis IITP dalam laporannya, menyoroti bagaimana perangkat seperti Samsung Galaxy S25 dan Xiaomi 15 Ultra kini berevolusi menjadi alat AI on-device yang semakin cerdas.
Persaingan vendor juga memanas ketika perusahaan Tiongkok memperkuat dominasinya di pasar perangkat 5G base station dengan hardware canggih, sementara kompetitor global beralih ke pendekatan software-centric untuk mengejar ketertinggalan. Di sisi lain, AI-RAN mulai menyalip Open RAN sebagai visi masa depan jaringan, dengan lebih dari 60 anggota aliansi memamerkan implementasi yang menjanjikan optimasi energi dan otomatisasi penuh.
“AI-RAN adalah evolusi berikutnya dari radio network,” tegas para operator yang memamerkan platform seperti Nokia Network as Code dan Ericsson Aduna, yang dirancang untuk mengurangi kompleksitas operasional dan meningkatkan kecerdasan jaringan.
MWC 2025 juga menampilkan kolaborasi lintas industri antara pembuat chip, operator, dan perusahaan satelit untuk mempercepat pengembangan jaringan non-terestrial menuju era 6G. Dengan fokus pada frekuensi baru dan jaringan cerdas, para peserta menegaskan bahwa masa depan konektivitas akan dibangun di atas integrasi AI yang semakin dalam di seluruh lapisan teknologi.