07 March 2026, 23:44

Google DeepMind Gencar Bajak Talenta Qwen Alibaba di Tengah Guncangan Internal

DeepMind membajak talenta Qwen Alibaba di tengah eksodus pemimpin kunci, memicu perebutan peneliti AI lintas negara dan guncangan strategi open‑source.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
361
Google DeepMind Gencar Bajak Talenta Qwen Alibaba di Tengah Guncangan Internal
Ilustrasi logo Qwen dan Alibaba yang menyoroti perebutan talenta AI setelah eksodus pemimpin Qwen dan upaya rekrutmen agresif Google DeepMind. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Google DeepMind memicu eskalasi perebutan talenta AI global setelah secara terbuka mengajak para peneliti Qwen bergabung, tepat ketika tim model open‑source Alibaba itu diguncang hengkangnya beberapa pemimpin kunci. Ajakan tersebut muncul di tengah reorganisasi besar yang memicu ketidakpastian arah riset Qwen dan memanaskan kompetisi lintas negara untuk merekrut ilmuwan AI papan atas.

Dalam unggahan publik, pengembang senior DeepMind, Omar Sanseviero, mengundang para anggota tim Qwen untuk mempertimbangkan pindah ke London. Ia menyinggung adanya rencana besar yang sedang disiapkan DeepMind.

“Banyak rencana menarik yang akan datang,” tulis Sanseviero dalam ajakan yang langsung memicu diskusi luas di komunitas AI global.

Ajakan itu muncul hanya beberapa jam setelah kabar mengejutkan: Junyang Lin—arsitek teknis utama Qwen dan tokoh yang mendorong strategi open‑source Alibaba sejak 2023—mengumumkan pengunduran dirinya tanpa penjelasan detail. Kepergiannya memicu rapat darurat yang dipimpin langsung CEO Alibaba, Eddie Wu, menandakan betapa strategisnya posisi Qwen dalam peta bisnis AI perusahaan.

“Aku mundur. selamat tinggal qwen kesayanganku,” tulis Lin dalam unggahan singkat yang membuat komunitas pengembang bertanya‑tanya soal masa depan proyek tersebut.

Sumber internal menyebutkan bahwa setidaknya dua figur senior lain juga meninggalkan tim pada pekan yang sama, memperkuat spekulasi bahwa Alibaba sedang melakukan perombakan besar untuk mengonsolidasikan aplikasi Qwen, perangkat AI wearable, dan strategi komersialnya ke dalam satu struktur organisasi.

Di saat yang sama, Zhipu—salah satu perusahaan AI paling agresif di Tiongkok—turut memanfaatkan momentum dengan mengajak para peneliti Qwen bergabung. Langkah ini menegaskan bahwa kompetisi talenta AI kini bukan hanya antara perusahaan Barat dan Tiongkok, tetapi juga antar pemain besar di dalam negeri.

Alibaba sendiri baru saja merilis Qwen‑3.5, seri model open‑source yang langsung mendominasi unduhan di Hugging Face dan menjadi salah satu penopang reputasi Tiongkok dalam persaingan model terbuka. Namun perubahan arah organisasi memunculkan kekhawatiran bahwa perusahaan dapat mengurangi komitmen terhadap open‑weight, yang selama ini menjadi pembeda utama Qwen di pasar global.

Di tengah ketidakpastian itu, perekrutan Zhou Hao—mantan peneliti senior Google DeepMind dan kontributor Gemini 3, AI Mode, serta Deep Research—oleh Alibaba sebagai kepala riset post‑training menambah dinamika baru. Ia menggantikan Yu Bowen yang juga hengkang pada pekan yang sama.

Perburuan talenta ini memperlihatkan bagaimana perusahaan teknologi raksasa kini berlomba mengamankan ilmuwan terbaik untuk mempercepat pengembangan model AI generasi berikutnya. Dengan Qwen menjadi salah satu proyek open‑source paling berpengaruh di Asia, setiap pergeseran internal langsung berdampak pada ekosistem global.

Berita Terkait