02 March 2026, 09:16

Yandex Founder Arkady Volozh Resmi Lepas Kewarganegaraan Rusia di Tengah Ekspansi AI Global

Arkady Volozh lepas kewarganegaraan Rusia setelah jual Yandex dan bangun Nebius yang kini teken mega-deal AI dengan Microsoft.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
380
Yandex Founder Arkady Volozh Resmi Lepas Kewarganegaraan Rusia di Tengah Ekspansi AI Global
Ilustrasi menggambarkan editorial Arkady Volozh berbicara via ponsel di kota Eropa, menggambarkan keputusan bisnis besar Yandex dan ekspansi AI global bersama Microsoft. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Arkady Volozh, pendiri Yandex yang pernah membangun mesin pencari terbesar di Rusia, resmi melepaskan kewarganegaraan Rusia setelah hampir dua tahun memutus hubungan bisnis dengan negara asalnya. Keputusan ini muncul setelah holding company berbasis Belanda yang ia dirikan menjual seluruh operasi Yandex di Rusia dengan nilai sekitar USD 5,4 miliar—setara kurang lebih Rp85,4 triliun—menjadikannya salah satu aksi keluar korporasi terbesar sejak invasi Rusia ke Ukraina.

Langkah Volozh menandai titik balik dramatis dalam kariernya setelah ia terkena sanksi Uni Eropa pada awal perang dan mundur dari posisi puncak di Yandex. Ia kemudian membangun kembali ambisinya melalui Nebius Group, perusahaan cloud AI yang kini berbasis di Amsterdam dan menjadi rumah bagi ratusan insinyur yang ia bawa keluar dari Rusia.

“Barbaric,” tulis Volozh ketika mengecam invasi Rusia ke Ukraina—pernyataan yang kemudian menjadi salah satu faktor pencabutan sanksi Uni Eropa terhadap dirinya.

Nebius kini bergerak agresif di pasar global dan baru saja menandatangani kontrak infrastruktur AI bernilai hingga USD 19,4 miliar—sekitar Rp307 triliun—dengan Microsoft untuk menyediakan kapasitas komputasi AI dari pusat data baru di New Jersey. Kesepakatan ini sekaligus memvalidasi transformasi Nebius dari pecahan Yandex menjadi pemain besar dalam ekosistem AI internasional.

Volozh, yang kini memegang kewarganegaraan Israel, juga memimpin ekspansi Nebius ke berbagai sektor dan menjalin kemitraan dengan perusahaan teknologi global, termasuk Meta. Perusahaan ini sebelumnya merupakan entitas holding Yandex sebelum menjual seluruh aset Rusia dan berganti nama, lalu kembali diperdagangkan di Nasdaq setelah sempat disuspensi pada 2022. Sahamnya melonjak lebih dari 350% sejak kembali ke bursa.

“Ini adalah awal baru,” ungkap Volozh dalam berbagai kesempatan, menegaskan tekadnya membangun perusahaan AI global tanpa bayang-bayang geopolitik.

Dengan keputusan resmi meninggalkan kewarganegaraan Rusia, Volozh mempertegas jarak politik dan bisnisnya dari negara asalnya, sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu tokoh teknologi yang berupaya membangun kembali karier di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks.

Berita Terkait