09 February 2026, 07:50

Wall Street Berdarah! Spekulasi AI Senilai $700 Miliar Picu 'Kiamat Kecil' Saham Teknologi Global

Saham teknologi anjlok $1 triliun setelah Amazon & Google umumkan belanja AI $700 miliar. Simak analisis krisis pasar modal Big Tech di Februari 2026.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
957
Wall Street Berdarah! Spekulasi AI Senilai $700 Miliar Picu 'Kiamat Kecil' Saham Teknologi Global
Ilustrasi krisis saham teknologi Wall Street 2026. Grafik Nasdaq merah, saham Amazon & Google anjlok akibat belanja AI $700M. Visual market crash AI global ramah Google Index. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Ambisi buta Silicon Valley terhadap kecerdasan buatan baru saja membentur tembok realitas pasar modal yang sangat keras. Pada pembukaan perdagangan pekan ini, Senin, 9 Februari 2026, indeks Nasdaq masih tertatih setelah aksi jual masif pada akhir pekan lalu yang menghapus valuasi pasar sebesar $1 triliun hanya dalam hitungan jam. 

Gelombang kepanikan ini dipicu oleh rilis laporan keuangan kuartal terbaru dari para raksasa teknologi—Amazon, Google, Microsoft, dan Meta—yang secara kolektif mengonfirmasi rencana belanja modal (capex) yang melampaui angka fantastis $700 miliar untuk tahun fiskal 2026 demi membangun infrastruktur AI.

Investor yang awalnya memuja potensi AI kini mulai menunjukkan gejala "kelelahan modal" saat melihat margin keuntungan yang tergerus oleh kebutuhan pusat data dan chip pemrosesan tingkat tinggi. Amazon memimpin daftar dengan pengumuman belanja modal mencapai $200 miliar, sebuah angka yang langsung membuat sahamnya anjlok 11 persen tak lama setelah CEO Andy Jassy memberikan pernyataan resminya. 

"Kami melihat peluang ini sebagai pasar pemenang-ambil-semua (winner-take-all), dan kami tidak berniat untuk kalah dalam perlombaan komputasi awan generasi berikutnya," ungkap Jassy dalam panggilan telepon dengan para analis yang justru direspons dengan gelombang tekanan jual.

Sentimen negatif ini merembet cepat ke Alphabet, induk perusahaan Google, yang meskipun melaporkan pendapatan iklan yang solid, tetap mencatatkan lonjakan pengeluaran infrastruktur hingga $185 miliar. Para analis dari Wall Street mulai mempertanyakan kapan investasi masif pada model bahasa besar (LLM) dan agen AI otonom ini akan benar-benar menghasilkan arus kas yang sebanding dengan biaya operasionalnya. 

Gil Luria, analis senior dari D.A. Davidson, mencatat bahwa pasar saat ini sedang mengalami benturan antara visi jangka panjang teknologi dan disiplin fiskal jangka pendek. "Ada kecemasan yang nyata bahwa kita sedang membangun katedral digital di atas pasir yang belum tentu menghasilkan pendapatan instan," ujarnya dalam catatan riset terbaru kepada klien.

Kondisi pasar semakin diperumit dengan laporan bahwa ketersediaan energi listrik global mulai mencapai titik jenuh akibat konsumsi pusat data AI yang melonjak empat kali lipat dalam satu dekade terakhir. Microsoft dan Meta bahkan dilaporkan harus mencari sumber energi alternatif, termasuk reaktor nuklir skala kecil, untuk memastikan model AI masa depan mereka tetap menyala. 

Tekanan ini memaksa para pemimpin teknologi untuk terus membakar uang demi mengamankan kedaulatan AI mereka, meskipun hal tersebut harus dibayar mahal dengan kepercayaan para pemegang saham yang mulai skeptis terhadap keberlanjutan gelembung teknologi ini.

Hingga penutupan pasar hari ini, konsentrasi para pelaku pasar tertuju pada bagaimana Apple dan Nvidia akan menanggapi pergeseran sentimen ini. Di tengah ketidakpastian, raksasa-raksasa teknologi ini tampaknya terjebak dalam dilema yang mustahil: berhenti berinvestasi berarti tertinggal, namun terus membelanjakan miliaran dolar berarti menghadapi kemarahan Wall Street yang tidak lagi sabar menunggu hasil nyata dari janji-janji kecerdasan buatan.

Berita Terkait