Perspektif.co.id - Virus Nipah kembali menyedot perhatian publik global karena dikenal memiliki tingkat kematian tinggi dan dinilai menyimpan potensi ancaman kesehatan lintas negara. Sejumlah peneliti mengingatkan, karakter penularan yang luas—mulai dari hewan ke manusia, makanan terkontaminasi, hingga antar-manusia—membuat Nipah kerap disebut sebagai salah satu penyakit yang perlu dipantau ketat, terutama karena hingga kini belum tersedia vaksin maupun obat khusus.
Seorang peneliti asal Thailand, Supaporn Wacharapluesadee, yang memimpin Thai Red Cross Emerging Infectious Disease-Health Science Centre, pernah menegaskan kekhawatirannya soal Nipah. “Ini sangat mengkhawatirkan karena belum ada obatnya... dan tingkat kematian yang disebabkan virus ini tinggi,” kata Supaporn, dikutip BBC Indonesia.
Mengacu pada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), infeksi Nipah merupakan penyakit zoonosis, yakni penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia. Penularan tidak hanya berasal dari hewan, tetapi juga dapat terjadi melalui makanan yang terpapar kontaminasi, dan bahkan bisa menyebar langsung antar-manusia.
WHO menyebut kelelawar buah (famili Pteropodidae, terutama genus Pteropus) sebagai inang alami Nipah. Virus ini pertama kali dikenali pada 1999 saat terjadi wabah pada peternak babi di Malaysia, yang juga sempat berdampak hingga Singapura.
Pada wabah Malaysia tersebut, sebagian besar kasus manusia dikaitkan dengan kontak langsung dengan babi yang sakit atau jaringan hewan yang terkontaminasi. Sementara pada wabah-wabah berikutnya di Bangladesh dan India, sumber penularan yang paling mungkin dikaitkan dengan konsumsi buah atau produk buah—misalnya nira/juice kurma mentah (raw date palm juice)—yang terkontaminasi urin atau air liur kelelawar buah yang terinfeksi.
WHO juga menekankan bahwa Nipah tidak hanya berbahaya bagi manusia. Virus ini dapat memicu penyakit berat pada hewan ternak seperti babi dan berujung pada kerugian ekonomi besar. “Virus ini juga dapat menyebabkan penyakit parah pada hewan seperti babi, yang bisa mengakibatkan kerugian ekonomi signifikan bagi peternak,” tulis WHO.
Dari sisi gejala, Nipah dikenal dapat menimbulkan spektrum penyakit yang luas: mulai dari infeksi tanpa gejala, gangguan pernapasan akut, hingga ensefalitis (radang otak) yang fatal. Pada fase awal, penderita umumnya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Setelah itu, kondisi dapat memburuk menjadi pusing, mengantuk, penurunan kesadaran, serta tanda neurologis yang mengarah pada ensefalitis akut.
Pada sebagian kasus, pasien juga dapat mengalami pneumonia atipikal dan gangguan pernapasan berat, termasuk acute respiratory distress. WHO mencatat, pada kasus berat, ensefalitis dan kejang bisa terjadi dan berprogres cepat hingga koma dalam rentang 24–48 jam.
Masa inkubasi Nipah umumnya 4–14 hari, namun dalam sejumlah laporan dapat berlangsung hingga 45 hari. Rentang inkubasi yang panjang inilah yang dinilai menambah risiko penyebaran karena seseorang dapat terinfeksi tanpa segera menyadari gejalanya.
Dari sisi dampak jangka panjang, tidak semua penyintas pulih sepenuhnya. WHO menyebut sekitar 20% pasien dapat mengalami konsekuensi neurologis sisa seperti gangguan kejang dan perubahan kepribadian. Pada sebagian kecil kasus, kekambuhan atau ensefalitis dengan onset tertunda juga dilaporkan dapat terjadi.
Adapun tingkat kematian (case fatality rate) akibat Nipah diperkirakan berada pada kisaran 40–75%, meski angkanya bisa berbeda antar-wabah, tergantung kemampuan surveilans epidemiologi dan penanganan klinis di wilayah terdampak. “Angka ini dapat bervariasi tergantung pada wabah,” sebagaimana digarisbawahi WHO.
Hingga kini, WHO menegaskan belum ada obat maupun vaksin yang secara spesifik menargetkan infeksi virus Nipah. Penanganan utama pada manusia berfokus pada perawatan suportif intensif untuk mengatasi komplikasi pernapasan dan neurologis.