TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Ultrahuman akhirnya membuka pre-order global untuk Ring Pro, smart ring generasi terbaru yang membawa lompatan besar pada daya tahan baterai hingga 15 hari dan prosesor dual-core yang sepenuhnya didesain ulang. Peluncuran ini dilakukan setelah perusahaan asal Bengaluru itu berupaya memulihkan bisnisnya di Amerika Serikat yang sempat terhenti akibat sengketa paten dengan Oura.
CEO Ultrahuman, Mohit Kumar, menegaskan bahwa desain baru Ring Pro telah diajukan ke U.S. Customs and Border Protection untuk memastikan perangkat tersebut dapat kembali masuk ke pasar AS setelah larangan impor yang diberlakukan sejak Oktober 2025.
“Sebagian besar alat AI saat ini melihat ke belakang pada data Anda,” ujar Kumar, menekankan bahwa pendekatan baru Ultrahuman kini bergerak ke arah analisis kesehatan real-time melalui platform Jade.
Ring Pro hadir sebagai respons langsung terhadap putusan U.S. International Trade Commission yang memenangkan Oura dalam sengketa paten, memaksa Ultrahuman menghentikan impor perangkat baru ke AS. Meski begitu, pre-order global tetap dibuka—kecuali untuk pasar AS—dengan pengiriman dijadwalkan mulai Maret.
Perangkat ini membawa peningkatan signifikan dibanding pendahulunya, Ring Air, yang hanya bertahan 4–6 hari. Selain baterai yang jauh lebih panjang, Ring Pro juga dibekali casing pengisi daya yang mampu menambah daya hingga 45 hari, penyimpanan data kesehatan hingga 250 hari, serta sensor detak jantung yang dirancang ulang untuk akurasi lebih tinggi.
Ultrahuman juga memperkenalkan Jade, platform biointelligence berbasis AI yang tersedia gratis untuk seluruh pengguna, termasuk pemilik perangkat lama. Jade dirancang untuk memberikan wawasan kesehatan secara instan, bukan sekadar rangkuman data retrospektif seperti kebanyakan layanan serupa.
Meski menghadapi tekanan hukum dan tarif, Ultrahuman tetap mencatat kinerja bisnis yang kuat dengan 700.000 pengguna aktif harian dan pendapatan operasional mencapai USD 64 juta pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2025. Perusahaan mengklaim tetap mencetak laba setelah pajak, meski margin diperkirakan menyempit akibat biaya litigasi dan upaya redesign produk.