TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Sepanjang tahun 2025, Ray-Ban Meta mencatat lonjakan penjualan hingga tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, menjadikannya salah satu perangkat wearable paling sukses yang dirilis Meta. Kacamata pintar hasil kolaborasi antara Meta dan EssilorLuxottica ini berhasil menarik perhatian pasar global berkat integrasi kamera, fitur hands-free, dan kemampuan berbagi langsung ke Instagram Stories.
Data internal yang dibagikan ke media menunjukkan bahwa penjualan Ray-Ban Meta meningkat tajam di Amerika Utara dan Eropa, dengan kontribusi signifikan dari pengguna Gen Z dan kreator konten.
“Kami melihat adopsi yang sangat cepat di kalangan pengguna muda yang menginginkan cara baru untuk merekam dan berbagi momen,” ujar seorang eksekutif Meta yang dikutip media teknologi internasional.
Ray-Ban Meta generasi kedua hadir dengan peningkatan signifikan dibandingkan versi sebelumnya. Perangkat ini dilengkapi kamera 12MP, mikrofon beamforming, dan speaker open-ear yang memungkinkan pengguna merekam video pendek, menjawab panggilan, dan mendengarkan musik tanpa perlu menyentuh ponsel.
“Kacamata ini bukan hanya aksesori, tapi antarmuka sosial yang memungkinkan pengguna tetap terhubung tanpa terganggu layar,” tulis laporan Wired yang mengulas tren wearable sosial.
Salah satu fitur yang paling banyak digunakan adalah kemampuan untuk mengunggah langsung ke Instagram Stories melalui perintah suara. Fitur ini disebut sebagai pemicu utama lonjakan penjualan di kalangan pengguna aktif media sosial.
“Fitur hands-free untuk Instagram Stories membuat Ray-Ban Meta terasa seperti ekstensi alami dari gaya hidup digital,” tulis The Verge dalam ulasan perangkat tersebut.
Di sisi teknis, Ray-Ban Meta juga terintegrasi dengan Meta AI, memungkinkan pengguna mengakses informasi, menerjemahkan teks, dan memberikan perintah suara secara real-time. Fitur ini mulai diuji di pasar AS dan Inggris, dengan rencana ekspansi ke Asia Tenggara pada kuartal kedua 2026.
Analis industri menyebut bahwa keberhasilan Ray-Ban Meta menjadi bukti bahwa wearable tidak harus berbentuk jam tangan atau gelang.
“Ray-Ban Meta menunjukkan bahwa perangkat wearable bisa menyatu dengan fashion dan tetap fungsional,” ujar seorang analis teknologi yang dikutip Bloomberg Tech.
Dengan desain klasik Wayfarer dan pilihan warna yang lebih beragam, Ray-Ban Meta berhasil menjembatani kebutuhan teknologi dan estetika. Meta juga mengumumkan bahwa mereka akan memperluas distribusi ke lebih banyak negara, termasuk Indonesia, melalui mitra retail resmi.
Lonjakan penjualan ini memperkuat posisi Meta di pasar wearable yang sebelumnya didominasi oleh Apple dan Samsung. Keberhasilan Ray-Ban Meta juga membuka peluang baru bagi perangkat augmented reality ringan yang bisa digunakan sehari-hari tanpa terlihat seperti gadget.