JAKARTA, Perspektif.co.id - Dunia pendidikan kembali dikejutkan oleh kabar duka dari Universitas Udayana (Unud), Bali. Seorang mahasiswa jurusan Sosiologi, Timothy Anugerah Saputra, ditemukan meninggal dunia usai melompat dari lantai dua Gedung FISIP Kampus Sudirman, Rabu (15/10). Insiden ini memicu gelombang simpati, namun juga kemarahan publik setelah terungkap bahwa korban sempat menjadi sasaran perundungan (bullying) oleh rekan-rekannya.
Peristiwa tragis tersebut menjadi viral setelah tangkapan layar percakapan dalam grup WhatsApp beredar luas di media sosial. Dalam percakapan itu, sejumlah mahasiswa justru menjadikan kematian Timothy sebagai bahan candaan, bukan ungkapan duka. Salah satu akun X (dulu Twitter), @unudmenfess, membagikan tangkapan layar yang memperlihatkan isi obrolan bernada ejekan terhadap korban.
Ironisnya, beberapa pelaku perundungan diketahui aktif dalam organisasi kampus. Fenomena ini memantik kemarahan publik dan seruan untuk menindak tegas para pelaku.
Pihak kampus hingga kini masih melakukan investigasi internal. Namun, di tengah sorotan publik, muncul banyak kesaksian yang menggambarkan sosok Timothy sebagai mahasiswa teladan. Wakil Dekan III FISIP Udayana, I Made Anom Wiranata, mengenang almarhum sebagai pribadi yang sopan, disiplin, dan berprestasi.
“Timothy anak yang rajin, teliti, dan sangat peduli dengan lingkungan kelasnya. IP-nya 3,91, dia juga sering terlibat penelitian bersama dosen dan seniornya,” tutur Anom.
Timothy juga dikenal memiliki kebiasaan kecil yang mencerminkan karakternya, seperti merapikan kursi dan ruangan sebelum kelas dimulai. “Hal sederhana seperti itu menunjukkan ketelitiannya,” tambahnya.
Sahabat dekatnya, Deon, menyampaikan kesedihan mendalam saat acara doa bersama di kampus. Ia menggambarkan Timothy sebagai sosok yang selalu ceria dan memberi energi positif kepada teman-temannya.
“Dia selalu tersenyum, bahkan di hari-hari terakhirnya,” ujar Deon lirih.
Dalam acara yang sama, ibunda korban hadir dan membagikan kenangan manis tentang anaknya. Dengan mata berkaca-kaca, ia bercerita bahwa Timothy selalu penuh kasih dan perhatian.
“Dia selalu bilang saya cantik setiap kali saya berdandan. Sederhana, tapi itu membuat saya merasa dihargai,” ucap sang ibu.
Kisah hidup dan kematian Timothy kini menjadi sorotan nasional. Banyak warganet menyerukan agar kampus bertanggung jawab dan menindak pelaku perundungan. Tagar #JusticeForTimothy pun ramai di media sosial, menggambarkan duka sekaligus kemarahan terhadap budaya bully yang masih marak di lingkungan akademik.***