07 January 2026, 23:36

Sulit Tidur? 5 Suplemen Ini Disebut Bisa Bantu Lebih Nyenyak, Tapi Jangan Asal Minum

Tidur berkualitas masih jadi isu kesehatan yang sering diremehkan, padahal dampaknya bisa merembet ke fokus, suasana hati, hingga produktivitas harian.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
2,768
Sulit Tidur? 5 Suplemen Ini Disebut Bisa Bantu Lebih Nyenyak, Tapi Jangan Asal Minum
Ilustrasi. Sejumlah suplemen dapat membantu Anda memperoleh tidur nyenyak sepanjang malam. Berikut rekomendasinya. (Getty Images/iStockphoto/AntonioGuillem)

Perspektif.co.id - Tidur berkualitas masih jadi isu kesehatan yang sering diremehkan, padahal dampaknya bisa merembet ke fokus, suasana hati, hingga produktivitas harian. Berbagai laporan kesehatan menyebut orang dewasa idealnya tidur sekitar 7–8 jam per malam. Ketika durasi dan kualitas tidur tak terpenuhi, efeknya bisa terasa dari kelelahan, mood swing, sampai menurunnya performa kerja, dan dalam jangka panjang dikaitkan dengan meningkatnya risiko masalah kesehatan tertentu.

Di tengah tren gaya hidup sehat, konsumsi suplemen untuk membantu tidur makin ramai dibicarakan. Sejumlah suplemen disebut bisa mendukung relaksasi atau membantu mengatur ritme tidur, meski efektivitasnya tidak selalu sama pada setiap orang dan tetap perlu memperhatikan keamanan, dosis, serta interaksi obat.

1 . melatonin. Melatonin adalah hormon yang terkait dengan pengaturan siklus tidur-bangun, dan kerap digunakan untuk masalah tidur tertentu seperti perubahan jadwal (misalnya jet lag). Namun, otoritas kesehatan menekankan kehati-hatian karena efek samping dapat muncul, termasuk kantuk, pusing, mual, hingga sakit kepala pada sebagian orang, serta potensi interaksi dengan obat tertentu. Selain itu, badan kesehatan di AS juga mengingatkan keterbatasan bukti keamanan pemakaian jangka panjang. “Efek samping jangka panjang yang mungkin terjadi… masih belum jelas,” tulis NCCIH dalam lembar informasinya tentang melatonin. 

2. magnesium. Mineral ini berperan dalam fungsi saraf dan otot, dan kerap diasosiasikan dengan efek menenangkan. Meski begitu, bukti manfaat magnesium untuk insomnia tidak selalu konsisten dan respons tiap orang bisa berbeda. Karena itu, pemakaiannya lebih relevan bila ada indikasi kebutuhan atau kekurangan tertentu, bukan sekadar ikut tren. Evaluasi ilmiah terbaru juga menempatkan magnesium sebagai salah satu suplemen yang umum dipakai untuk kualitas tidur, namun tetap menekankan perlunya kehati-hatian dalam klaim manfaat.

3. triptofan yang merupakan asam amino dan bisa ditemukan dari makanan (misalnya protein hewani dan beberapa bahan pangan lain). Dalam tubuh, triptofan dapat terlibat dalam jalur pembentukan serotonin yang berkaitan dengan rasa tenang dan mengantuk. Dalam bentuk suplemen, pengguna tetap perlu memperhatikan kondisi kesehatan dan obat yang sedang dikonsumsi, karena suplemen berbasis asam amino dapat berinteraksi pada kondisi tertentu.

4. L-theanine, senyawa yang dikenal terdapat pada teh (khususnya teh hijau) dan dikaitkan dengan efek relaksasi serta penurunan stres. Sejumlah kajian ilmiah mengindikasikan L-theanine berpotensi membantu beberapa aspek tidur, seperti kualitas tidur subjektif atau waktu untuk mulai terlelap, meski hasilnya tidak selalu seragam. Tinjauan sistematis pada 2025 melaporkan adanya perbaikan pada beberapa parameter tidur subjektif pada sebagian studi. Sejumlah referensi populer juga kerap menyebut rentang konsumsi harian dalam studi berada sekitar ratusan miligram, tetapi tetap disarankan konsultasi tenaga kesehatan, terutama bagi yang punya kondisi medis atau sedang minum obat.

5. glisin (glycine) juga kerap masuk daftar suplemen yang disebut membantu tidur. Sejumlah studi pada manusia menggunakan dosis 3 gram sebelum tidur dan menemukan perbaikan kualitas tidur subjektif serta rasa segar pada siang hari pada kelompok tertentu. Studi dan ulasan ilmiah menyebut efek ini diduga terkait perubahan fisiologis seperti penurunan suhu tubuh melalui mekanisme tertentu, yang bisa mendukung proses tidur.

Meski daftar suplemen di atas sering disebut “membantu tidur lebih nyenyak”, para ahli kesehatan menekankan bahwa suplemen bukan pengganti kebiasaan tidur yang baik. Risiko juga tetap ada: kandungan produk bisa berbeda dari label, efek samping mungkin muncul, dan sebagian suplemen dapat berinteraksi dengan obat atau memperburuk kondisi tertentu. Karena itu, langkah yang paling aman adalah memastikan kebutuhan dasar tidur dipenuhi terlebih dahulu (jam tidur konsisten, kurangi paparan layar menjelang tidur, batasi kafein malam hari), lalu bila perlu mempertimbangkan suplemen secara terukur dan dengan konsultasi profesional—terutama untuk ibu hamil/menyusui, anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit kronis atau konsumsi obat rutin. 

Berita Terkait