TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Starlink mengguncang hari pertama diskusi konvergensi satelit–mobile dengan mengumumkan rencana agresif untuk satelit Mobile V2, menandai fase baru ambisi SpaceX menghadirkan konektivitas seluler langsung dari orbit. Pengumuman ini muncul setelah pembaruan besar pada situs Starlink Mobile yang kini menampilkan peta cakupan interaktif dan detail teknis generasi terbaru, sekaligus menegaskan ekspansi layanan yang telah menjangkau lebih dari 32 negara dan tersambung ke lebih dari 13 juta pengguna setidaknya sekali.
Dalam presentasi di Mobile World Congress (MWC) 2026 Barcelona, Starlink menegaskan bahwa generasi kedua satelit Mobile V2 akan membawa kemampuan penuh untuk teks, data, suara, hingga video, langsung ke ponsel biasa tanpa perangkat tambahan. Mike Nichols, SVP Starlink, menekankan bahwa tujuan utama layanan ini adalah membuat konektivitas satelit terasa seperti jaringan 5G terestrial berkinerja tinggi.
“Tujuan Starlink Mobile adalah terhubung ke ponsel reguler, tanpa modifikasi, di mana pun di dunia,” ujar Mike Nichols.
Starlink menjelaskan bahwa satelit V2 akan membawa lompatan besar dalam kapasitas jaringan. Dengan silikon rancangan SpaceX, antena phased-array, dan ribuan spatial beam, setiap satelit V2 diklaim mampu menghadirkan throughput hingga 20 kali lipat dibanding generasi pertama, serta meningkatkan kepadatan data hingga 100 kali.
“Satelit Mobile V2 akan memberikan cakupan seluler penuh ke lokasi yang sebelumnya dianggap mustahil,” tulis Starlink di situs resminya.
Peningkatan ini membuka jalan bagi layanan yang jauh lebih berat data—mulai dari streaming, panggilan video, hingga aplikasi berkecepatan tinggi—yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan melalui jaringan satelit mobile generasi pertama. Dalam kondisi optimal, kecepatan per pengguna disebut dapat mendekati 150 Mbps, mendekatkan konsep “5G dari luar angkasa” ke realitas.
“Setiap satelit V2 akan menyediakan throughput sekitar 20 kali lebih besar dari model generasi pertama,” ungkap Starlink.
Ekspansi ini juga didukung penggunaan spektrum S-band yang dibeli dari EchoStar, memungkinkan jangkauan internasional yang lebih stabil dan kompatibilitas dengan ratusan perangkat LTE dan 5G yang sudah beredar. Starlink menegaskan bahwa layanan ini akan terus diperluas seiring peluncuran bertahap satelit V2, meski jadwal peluncuran spesifik belum diungkapkan.
Sementara itu, generasi pertama konstelasi Starlink Mobile—yang terdiri dari 650 satelit—telah beroperasi di lima benua dan menjadi tulang punggung layanan T-Satellite untuk T-Mobile di AS. Namun, Starlink menegaskan bahwa V2 adalah fase yang benar-benar berbeda: bukan sekadar konektivitas darurat atau pesan teks, tetapi pengalaman seluler penuh yang menyaingi jaringan darat.
Dengan ambisi menghadirkan jaringan seluler global dari orbit, Starlink Mobile V2 menjadi pusat perhatian industri telekomunikasi, memicu spekulasi bahwa SpaceX sedang menyiapkan fondasi untuk menggeser batas antara jaringan satelit dan mobile konvensional. Jika realisasi teknisnya sesuai janji, kompetisi di industri seluler global akan memasuki babak baru yang lebih agresif dan disruptif.