TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Di tengah hiruk‑pikuk MWC 2026, Tecno mencuri perhatian dengan dua konsep ponsel yang sama‑sama menabrak pakem desain smartphone modern. Perusahaan menampilkan Pova Neon, perangkat dengan panel belakang yang menyala menggunakan gas inert terionisasi, serta AI E‑Ink Phone, ponsel berpanel e‑ink berwarna yang dapat berubah mengikuti objek di sekitar pengguna. Kedua perangkat ini masih berstatus prototipe, namun langsung memicu perbincangan global karena pendekatan desainnya yang ekstrem.
“Teknologi pencahayaan gas inert terionisasi,” ujar Tecno dalam demonstrasi internal yang kemudian dikonfirmasi oleh beberapa media teknologi internasional.
Pova Neon tampil seperti anggota keluarga Pova lainnya, tetapi bagian belakangnya memancarkan pola cahaya acak yang menyerupai kilatan listrik. Efek visual tersebut tidak mengikuti pola tertentu dan berubah secara spontan, sebagaimana terlihat dalam rekaman yang dipublikasikan CNET. Hingga kini, Tecno belum mengungkap spesifikasi internal perangkat, termasuk chipset, kamera, maupun kapasitas baterai. Perusahaan juga belum memastikan apakah konsep ini akan diproduksi massal atau hanya menjadi eksperimen desain.
“Konsep Pova Neon menggunakan teknologi neon asli,” tulis DigitrendZ dalam laporannya, menegaskan bahwa efek cahaya tersebut bukan sekadar LED yang dimodifikasi.
Sementara itu, konsep kedua—AI E‑Ink Phone—mengusung panel e‑ink berwarna yang dapat berubah sesuai preferensi pengguna. Teknologi ini memanfaatkan kamera untuk menangkap warna dari pakaian atau objek di sekitar, lalu menyesuaikan warna panel belakang hanya dalam satu jepretan. Fitur ini dinilai lebih realistis untuk diproduksi dibanding Pova Neon karena memanfaatkan teknologi e‑ink yang hemat daya dan lebih mudah diintegrasikan ke perangkat mobile.
“Ponsel AI E-Ink dapat mencocokkan warna dengan pakaian Anda dengan menggunakan kameranya untuk mencicipi dan mengaplikasikan warna dalam satu jepretan,” tulis DigitrendZ dalam laporannya.
Walaupun kedua perangkat ini belum memiliki jadwal rilis, analis industri menilai konsep e‑ink lebih berpeluang masuk pasar karena efisiensi daya dan fleksibilitas warnanya. Sebaliknya, teknologi gas inert pada Pova Neon dianggap terlalu kompleks dan mahal untuk diproduksi massal, sehingga kemungkinan besar tetap menjadi perangkat pameran.