TANGERANG SELATAN, Perspektif.co.id — Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) merampungkan revitalisasi total bangunan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 18 Tangsel. Proyek yang dibiayai lewat Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025 itu menelan anggaran Rp24.106.842.766 dan ditujukan untuk memperkuat aspek keselamatan, meningkatkan kenyamanan, sekaligus memperbesar daya tampung peserta didik.
Pihak sekolah menargetkan pemanfaatan gedung baru dapat berjalan penuh setelah Ramadan atau memasuki periode pasca Lebaran, dengan catatan seluruh sarana pendukung sudah siap. Hingga kini, gedung baru masih menunggu proses audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) serta pelengkapan mebel agar ruang belajar dan fasilitas penunjang bisa digunakan secara optimal.

Kepala Bidang SMP pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Tangerang Selatan, Dedi, menjelaskan revitalisasi diputuskan setelah kondisi bangunan lama dinilai sudah berusia dan mengalami banyak kerusakan. Ia menyebut, kerusakan tersebut berisiko mengganggu keselamatan saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.
“Bangunan tersebut telah cukup tua dan banyak yang harus diperbaiki, sehingga perlu diantisipasi agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan saat kegiatan belajar berlangsung,” ujarnya, Selasa (24/2).
Menurut pemda, alasan keselamatan berjalan beriringan dengan tingginya minat masyarakat untuk menyekolahkan anak di SMPN 18. Penambahan ruang kelas diproyeksikan mampu menutup kebutuhan layanan pendidikan bagi warga sekitar Pamulang 2, sekaligus memberi alternatif sekolah negeri yang lokasinya dekat, lebih aman, dan lebih nyaman untuk kegiatan pembelajaran.
Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Tangerang Selatan menyampaikan pembangunan SMPN 18 merupakan bagian dari prioritas usulan Disdikbud. Program tersebut juga diselaraskan dengan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2030, yang memuat sasaran pembangunan tujuh SMP negeri baru, termasuk rencana sekolah bertingkat tiga hingga empat lantai.
“Kualitas bangunan dipastikan sesuai standar sekolah menengah pertama melalui pengawasan selama pelaksanaan pekerjaan,” kata perwakilan dinas. Ia menambahkan, pembangunan juga mengikuti standar teknis, mulai dari luasan ruang kelas, sistem ventilasi, pencahayaan, sampai ketersediaan fasilitas ramah disabilitas.
Dari sisi fisik, pemkot membongkar total bangunan lama lalu membangun gedung baru. Jika sebelumnya sekolah hanya memiliki sembilan ruang kelas dalam bangunan satu lantai, kini jumlah ruang kelas bertambah menjadi 33. Sekolah juga dilengkapi fasilitas penunjang berupa ruang guru, ruang kepala sekolah dan wakil kepala sekolah, ruang bimbingan konseling, ruang ekstrakurikuler, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), perpustakaan yang lebih luas, ruang aktivitas, lapangan voli dan basket, serta gudang penyimpanan.
Kepala SMPN 18 Tangerang Selatan, Nurina Rachmaliah, mengatakan proses belajar mengajar tetap berlangsung selama pembangunan yang dimulai pertengahan 2025. Sekolah menerapkan sistem dua shift agar layanan pendidikan tidak berhenti, dengan siswa kelas VII masuk siang, sedangkan kelas VIII dan IX belajar pada pagi hari. Durasi per jam pelajaran juga dipadatkan dari 45 menit menjadi sekitar 30–35 menit.

“Anak-anak tetap mendapatkan hak belajarnya meskipun waktunya lebih singkat,” ungkapnya, Kamis (27/2).
Adapun tahapan pekerjaan dimulai dari pembongkaran pada Juli 2025. Pembangunan fisik dilanjutkan pada Agustus 2025 dan diselesaikan pada akhir tahun. Pada Januari 2026, kontraktor menuntaskan tahap penyelesaian akhir, kemudian hasil pekerjaan diserahkan pemerintah kepada pihak sekolah pada Februari 2026.
Nurina berharap, revitalisasi membuat SMPN 18 dapat menampung lebih banyak siswa, terutama dari jalur domisili, sekaligus menghadirkan fasilitas pembelajaran yang lebih representatif. Sementara itu, Pemkot Tangerang Selatan menilai penguatan infrastruktur pendidikan sebagai langkah strategis untuk memperluas pemerataan akses dan mendorong peningkatan mutu layanan pendidikan di wilayahnya.