JAKARTA, Perspektif.co.id - Arab Saudi mengklaim memiliki cadangan mineral senilai sekitar US$2,5 triliun atau setara Rp41.943,62 triliun (dengan asumsi kurs Rp16.777 per dolar AS). Klaim ini membuat kerajaan tersebut makin diperhitungkan dalam perebutan mineral kritis dan rare earth (mineral tanah jarang) yang kini kian strategis di rantai pasok global.
Isu mineral kembali menguat di panggung geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut adanya kerangka kesepakatan terkait Greenland yang berpotensi mencakup akses atas mineral tanah jarang. Langkah itu menegaskan mineral kritis kini bukan sekadar komoditas, melainkan instrumen pengaruh dan ketahanan industri di era persaingan teknologi.
Rare earth dan mineral kritis disebut menjadi tulang punggung teknologi transisi energi, kecerdasan buatan (AI), hingga perangkat militer canggih. Namun, rantai pasoknya masih sangat terkonsentrasi. Badan Energi Internasional (IEA) mencatat proses pemurnian (refining) mineral tertentu, termasuk rare earth, sangat didominasi China—angka yang kerap dirujuk berada di kisaran sekitar 90% untuk pemurnian rare earth, sementara porsi penambangan global juga besar.
Di tengah dominasi tersebut, Saudi mulai menyiapkan lompatan besar di sektor tambang sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan ekonomi pada minyak, sekaligus memperkuat posisi tawar geopolitiknya. Dalam forum Future Minerals Forum di Riyadh, Abigail Hunter dari SAFE (Securing America’s Future Energy) menggambarkan posisi China masih “light years ahead” lewat investasi strategis puluhan tahun, proyek yang didukung negara, koordinasi dengan sektor swasta, dan ekspansi internasional.
Saudi mengklaim cadangan itu mencakup emas, seng, tembaga, litium, hingga rare earth seperti dysprosium, terbium, neodymium, dan praseodymium—material penting untuk motor kendaraan listrik, turbin angin, sampai komputasi berkecepatan tinggi. Untuk mengejar peluang tersebut, belanja eksplorasi tambang di Saudi disebut melonjak tajam; S&P Global melaporkan anggaran eksplorasi lokasi tambang meningkat 595% dan pada 2025 mencapai sekitar US$146 juta dari sekitar US$21 juta pada 2022, meski skala ini masih relatif kecil dibanding negara tambang mapan seperti Kanada dan Australia.
Meski demikian, eksplorasi bukan berarti hasil bisa cepat dipetik. Hunter mengingatkan industri tambang adalah proyek jangka panjang. “The reality is mining is a really long game,” ujarnya, seraya menekankan pembangunan fasilitas pemrosesan bisa memakan tiga sampai lima tahun, bahkan di beberapa yurisdiksi bisa sampai 29 tahun. Di saat yang sama, Saudi disebut menekan birokrasi, menurunkan pajak investasi tambang, dan menyiapkan belanja besar untuk mengejar ketertinggalan.
Dalam forum yang sama, perusahaan tambang milik negara Maaden mengumumkan rencana investasi US$110 miliar di sektor logam dan pertambangan dalam 10 tahun ke depan. CEO Maaden Bob Wilt menegaskan pendekatan Saudi mengandalkan kolaborasi: “We’re humble enough to realize we can’t do it alone,” katanya.
Nilai mineral Saudi disebut masih jauh di bawah “nilai” cadangan minyaknya yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Namun, sektor tambang diposisikan sebagai pilar masa depan dalam Vision 2030, agenda diversifikasi ekonomi Saudi. Ambisi itu tidak berhenti pada aktivitas menambang, melainkan membangun rantai pasok industri domestik—termasuk target menjadi pemain kendaraan listrik—serta membuka peluang Saudi menjadi pusat pemurnian mineral kritis regional.
Para analis menilai infrastruktur Saudi yang berkembang dapat menjadikannya hub pemrosesan mineral kritis yang ditambang di wilayah lain, termasuk Afrika. Hunter menyebut kemitraan dengan negara-negara Afrika masuk akal dari sisi logistik untuk memproses lebih banyak mineral di Saudi.
Ambisi tersebut juga menarik perhatian Washington. Selama ini, AS masih menghadapi tantangan besar pada tahap pemurnian rare earth karena kapasitasnya terbatas, sementara China memiliki keunggulan historis di hulu hingga hilir. Ketika Beijing memperketat kontrol ekspor sejumlah rare earth tertentu yang banyak dipakai militer dan industri, negara-negara Barat kian agresif mencari jalur pasok alternatif.
Dalam konteks itu, MP Materials—perusahaan yang mengelola tambang rare earth di AS—mengumumkan kerja sama dengan Maaden dan Departemen Pertahanan AS untuk membangun operasi pemurnian rare earth di Saudi. Struktur yang dikabarkan: MP Materials bersama Departemen Pertahanan AS menargetkan 49% kepemilikan, sementara Maaden memegang setidaknya 51%.
Dengan klaim “harta karun” mineral US$2,5 triliun, percepatan eksplorasi, dan dorongan investasi hilirisasi, Saudi kini mencoba menulis bab baru: dari ekonomi berbasis minyak menuju pemain penting dalam mineral kritis yang menjadi “bahan bakar” teknologi modern. Namun para pelaku industri menegaskan, pertaruhan ini tetap membutuhkan waktu panjang, modal besar, dan konsistensi kebijakan sebelum benar-benar menggeser peta dominasi global.