TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Samsung Electronics, raksasa teknologi asal Korea Selatan, memperkenalkan visi revolusioner “Companion to AI Living” melalui acara The First Look di CES 2026 yang digelar di Wynn Las Vegas pada awal Januari lalu, di mana perusahaan ini menunjukkan bagaimana kecerdasan buatan dapat mengubah perangkat rumah tangga menjadi pendamping sehari-hari yang proaktif, mengatasi tantangan rutinitas modern seperti manajemen energi dan pemantauan kesehatan, dengan cara mengintegrasikan pemrosesan AI hibrida yang cepat dan aman untuk mendukung lebih dari 430 juta pengguna global SmartThings. Pembaruan ini, yang mulai dirilis secara bertahap melalui update software pada perangkat Galaxy dan hub SmartThings, bertujuan untuk menyederhanakan kehidupan pengguna di berbagai belahan dunia, termasuk di Asia seperti Indonesia di mana adopsi IoT semakin pesat, dengan alasan utama meningkatkan efisiensi dan keamanan rumah tanpa bergantung sepenuhnya pada koneksi internet.
Dalam konferensi tersebut, Samsung memamerkan serangkaian perangkat Bespoke AI seperti kulkas Family Hub 32 inci, mesin cuci-drying Combo, dan robot vacuum Jet Bot Combo yang saling terhubung melalui SmartThings, memungkinkan interaksi suara dan visual untuk membantu tugas harian seperti pemantauan makanan, pembersihan otomatis, dan penghematan energi hingga 60 persen pada mesin cuci, sementara fitur AI Vision yang ditingkatkan dengan Google Gemini mampu melacak isi kulkas secara akurat untuk rekomendasi resep, mengurangi stres pemilihan makanan sehari-hari. Pendekatan ini diimplementasikan melalui pemrosesan edge-cloud yang aman dengan Knox, memastikan privasi data tetap terjaga bahkan saat koneksi terganggu, dan telah memenangkan penghargaan CES Innovation Awards untuk ketiga kalinya berturut-turut pada lini kulkas AI mereka.
“Kami telah mencapai skala yang signifikan dengan lebih dari 430 juta pengguna SmartThings per Desember 2025, yang memberi kami wawasan mendalam untuk membedakan dari merek lain,” kata Cheolgi Kim, Executive Vice President dan Head of Digital Appliances Division di Samsung Electronics.
Samsung juga menyoroti zona Care Companion di CES, di mana perangkat wearable Galaxy seperti Z TriFold terintegrasi dengan appliances rumah untuk memantau kesehatan, termasuk sistem Pet Care yang mendeteksi isu kesehatan hewan peliharaan dan layanan Home Care seperti SmartThings Safe yang bisa memanggil bantuan darurat secara otomatis, menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin tua dan sibuk di kota-kota besar seperti Jakarta. Fitur ini dibangun atas dukungan Matter 1.5 yang baru saja dirilis untuk kamera pintar, menjadikan Samsung pionir dalam kompatibilitas universal dengan mitra seperti Eve, Aqara, dan IKEA yang meluncurkan 21 perangkat baru tahun ini, sehingga pengguna bisa mengontrol segala hal dari satu platform tanpa hambatan.
Di bidang energi, SmartThings Energy Mode mengoptimalkan konsumsi listrik pada perangkat seperti AC dan pengering hingga 30 persen, dengan kemitraan bersama Kia untuk kendaraan listrik Purpose-Built Vehicles dan Kohler untuk manajemen air, memungkinkan pemantauan real-time yang mendukung rumah berkelanjutan, meskipun Vehicle-to-Grid masih dalam pengembangan dini untuk penjualan energi otomatis ke grid. Inovasi ini merespons tuntutan global akan solusi ramah lingkungan, di mana Samsung bekerja sama dengan perusahaan asuransi HSB untuk menurunkan premi rumah melalui deteksi dini seperti kebocoran air, menggabungkan teknologi dengan aspek finansial sehari-hari.
“Potensi manfaat dari perangkat pintar yang terhubung ke SmartThings bisa mengurangi premi asuransi,” ujar Greg M. Barats, President dan CEO HSB.
Untuk kesehatan, integrasi dengan Workout Tracker pada TV Samsung memungkinkan penyesuaian rutinitas kebugaran berdasarkan data wearable, mengaburkan batas antara perangkat medis dan konsumen sambil menjaga etika data, meskipun tantangan regulasi privasi tetap menjadi sorotan di berbagai wilayah. Roadmap ke depan mencakup ekspansi AI Home Companion dengan dukungan Google Gemini untuk visi AI lebih luas, dan uji coba 6G untuk mengurangi latency, walaupun robotika humanoid masih jadi konsep jangka panjang yang akan memperkuat posisi Samsung di sektor produktivitas mobile.
Pada intinya, keberhasilan SmartThings 2026 tidak hanya dari jumlah perangkat terhubung, tapi seberapa efektif teknologi ini menyelesaikan masalah nyata seperti penghematan biaya, keamanan saat liburan, dan otomatisasi pagi hari, mendorong kompetitor untuk mengejar konvergensi yang telah dirintis Samsung sejak generasi sebelumnya.