TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Amazon Ring kembali jadi sorotan setelah dalam waktu berdekatan meluncurkan fitur-fitur AI baru dan sekaligus membatalkan kerja sama dengan Flock Safety, perusahaan kamera pengawas berbasis AI yang banyak dipakai lembaga penegak hukum di AS. Keputusan ini diambil pada pertengahan Februari 2026, hanya beberapa hari setelah iklan Super Bowl Ring yang memamerkan fitur pelacakan hewan peliharaan “Search Party” memicu kekhawatiran publik soal potensi pengawasan massal.
Dalam sebuah posting blog, Ring menyatakan bahwa integrasi teknis dengan Flock “membutuhkan jauh lebih banyak waktu dan sumber daya daripada yang diperkirakan”, sehingga kedua perusahaan sepakat membatalkan kemitraan yang baru diumumkan pada Oktober tahun lalu. Kerja sama itu sebelumnya dirancang agar pemilik Ring Doorbell bisa membagikan rekaman ke jaringan kamera Flock dan mitra penegak hukum mereka untuk membantu pengumpulan bukti dan investigasi.
“Ring menulis dalam blog bahwa keputusan bersama diambil karena integrasi akan membutuhkan jauh lebih banyak waktu dan sumber daya daripada yang diantisipasi,” tulis TechCrunch dalam laporannya.
Flock sendiri dikenal sebagai penyedia kamera pengawas AI yang rekamannya dapat diakses berbagai lembaga, mulai dari Secret Service hingga Angkatan Laut AS, dan menurut laporan investigasi, juga digunakan dalam konteks penegakan imigrasi meski perusahaan membantah bekerja langsung dengan ICE. Di tengah meningkatnya kekhawatiran publik soal bias rasial dan penyalahgunaan teknologi pengenalan pola oleh aparat, hubungan Ring–Flock langsung memicu kritik dari kelompok privasi dan pengguna biasa.
Kontroversi ini meledak bersamaan dengan kampanye besar Ring untuk fitur AI baru bernama Search Party. Dalam iklan Super Bowl, Ring memamerkan bagaimana jaringan kamera lingkungan bisa dipakai untuk mencari anjing peliharaan yang hilang dengan mengunggah foto hewan tersebut, lalu membiarkan sistem AI memindai rekaman kamera Ring di sekitar untuk menemukan kecocokan.
“Search Party menggunakan AI untuk menemukan anjing yang hilang, sesuatu yang belum dilakukan merek keamanan rumah lain,” tulis CNET dalam penjelasannya mengenai cara kerja fitur tersebut.
Secara teknis, Search Party bekerja melalui platform Ring Neighbors: pemilik akun mengunggah foto hewan peliharaan, mengaktifkan pencarian, lalu sistem akan memindai video yang tersimpan di cloud dari perangkat Ring di sekitar yang mendeteksi hewan. Jika ada kemiripan visual, pemilik hewan akan diberi tahu lokasi umum kemunculan hewan tersebut, sementara pemilik kamera bisa memutuskan apakah akan membagikan rekaman ke tetangga. Fitur ini bersifat opt-out—aktif secara default untuk perangkat yang menyimpan video ke cloud—sehingga menambah kekhawatiran sebagian pengguna yang merasa tidak pernah secara eksplisit menyetujuinya.
Di media sosial, reaksi cepat bermunculan. Banyak pengguna mempertanyakan: jika Ring bisa melacak anjing, apakah teknologi serupa bisa (atau sudah) digunakan untuk melacak manusia? Kekhawatiran ini tidak lepas dari rekam jejak Ring yang sebelumnya pernah membagikan rekaman ke polisi dan menjalin kemitraan resmi dengan departemen kepolisian lokal. Video pemilik yang menghancurkan perangkat Ring mereka viral di platform seperti Reddit dan X, sebagai bentuk protes terhadap apa yang mereka anggap sebagai normalisasi pengawasan berbasis AI.
Ring menegaskan bahwa Search Party “tidak dirancang untuk memproses biometrik manusia” dan bahwa fitur tersebut difokuskan pada pelacakan hewan peliharaan. Namun, bagi banyak pengkritik, garis batas teknis ini terasa rapuh di tengah tren industri yang kian menggabungkan pengenalan objek, wajah, dan pola perilaku dalam satu tumpukan teknologi.
“Teknologi ini dipasarkan ke konsumen pada saat publik di Amerika Serikat sangat waspada terhadap bahaya pengawasan massal,” tulis TechCrunch, menyoroti konteks sosial yang memperburuk persepsi terhadap langkah Ring.
Di luar Search Party, Ring juga memicu perdebatan lain lewat fitur pengenalan wajah “Familiar Faces” yang diumumkan pada akhir 2025 untuk lini kamera 4K terbarunya. Fitur ini memungkinkan pengguna memberi label nama pada wajah yang sering muncul di rekaman, sehingga notifikasi bisa menampilkan pesan seperti “Ibu di depan pintu” alih-alih sekadar “ada orang di depan pintu”. Amazon memposisikan fitur ini sebagai cara mengurangi notifikasi yang tidak perlu dari pengunjung yang sudah dikenal.
Namun, kelompok advokasi privasi menilai fitur tersebut berpotensi melanggar hak privasi orang yang lewat di depan kamera tanpa pernah memberikan persetujuan. Seorang pakar dari Electronic Privacy Information Center menyebut fitur itu “invasif bagi siapa pun yang berjalan dalam jangkauan Ring doorbell”, karena mereka tidak pernah menyetujui wajahnya dipindai dan disimpan dalam basis data pengenalan wajah milik pengguna.
“Fitur ini invasif bagi siapa pun yang berjalan dalam jangkauan Ring doorbell. Mereka tidak memberikan persetujuan untuk ini,” kata Calli Schroeder dari Electronic Privacy Information Center kepada The Washington Post, dikutip dalam laporan Phandroid.
Secara hukum, posisi Ring juga rumit. Perusahaan menegaskan bahwa pelanggan bertanggung jawab mematuhi regulasi negara bagian terkait penggunaan pengenalan wajah, termasuk kewajiban mendapatkan persetujuan eksplisit di yurisdiksi tertentu. Amazon bahkan membatasi Familiar Faces di wilayah seperti Illinois, Texas, dan Portland, Oregon, yang memiliki aturan ketat soal biometrik. Namun, banyak pengguna tetap khawatir bagaimana data wajah yang dikumpulkan bisa digunakan di masa depan, termasuk potensi akses oleh penegak hukum atau pemanfaatan untuk periklanan yang lebih agresif.
Siapa yang paling terdampak oleh rangkaian kebijakan dan fitur baru Ring ini? Jawabannya adalah pengguna rumah tangga di Amerika Serikat dan negara lain yang mengandalkan kamera Ring sebagai sistem keamanan rumah, sekaligus orang-orang yang sekadar lewat di depan rumah tersebut. Apa yang berubah? Ring menggeser produknya dari sekadar kamera keamanan pasif menjadi platform pengawasan aktif berbasis AI, dengan fitur pelacakan hewan, pengenalan wajah, dan integrasi (yang kini dibatalkan) dengan jaringan kamera publik seperti Flock.
Di mana kontroversi ini paling terasa? Di pasar AS, yang saat ini sangat sensitif terhadap isu pengawasan, bias algoritmik, dan kerja sama perusahaan teknologi dengan lembaga penegak hukum. Kapan eskalasi terjadi? Dalam rentang akhir 2025 hingga awal 2026, ketika Familiar Faces diumumkan, Search Party dipromosikan lewat iklan Super Bowl, dan kemitraan dengan Flock dibatalkan hanya beberapa bulan setelah diumumkan.
Mengapa semua ini memicu reaksi keras? Karena publik melihat pola: teknologi yang awalnya dijual sebagai alat keamanan rumah dan kenyamanan kini berkembang menjadi infrastruktur pengawasan yang berpotensi dimanfaatkan di luar konteks “keamanan tetangga”, termasuk oleh aparat penegak hukum dan pihak ketiga. Bagaimana Ring merespons? Secara resmi, perusahaan menekankan bahwa fitur-fitur AI mereka dibatasi untuk kasus penggunaan tertentu (seperti hewan peliharaan), bahwa integrasi dengan Flock dibatalkan karena alasan teknis, dan bahwa pelanggan memiliki kontrol untuk menonaktifkan fitur atau keluar dari program tertentu.
Ke depan, masa depan Ring akan sangat ditentukan oleh seberapa jauh Amazon bersedia menyesuaikan desain produk dan kebijakan datanya dengan tekanan regulasi dan opini publik. Di satu sisi, permintaan pasar untuk sistem keamanan rumah pintar dan fitur AI yang “lebih cerdas” terus tumbuh. Di sisi lain, setiap langkah baru di ranah pengenalan wajah dan analitik video berbasis AI berisiko memicu gelombang penolakan baru—baik dari pengguna, aktivis privasi, maupun regulator yang semakin waspada terhadap normalisasi pengawasan di ruang publik dan semi-publik.