09 December 2025, 23:57

Remaja 14 Tahun Kena Gagal Ginjal Stadium 5, Ini Penyebab Awalnya

Seorang remaja perempuan asal Tangerang, Sulistia (18), harus menghadapi vonis gagal ginjal stadium 5 sejak usianya baru menginjak 14 tahun.

Reporter: M. Ansori
Editor: Ihsan Nurdin
2,546
Remaja 14 Tahun Kena Gagal Ginjal Stadium 5, Ini Penyebab Awalnya
lustrasi. Seorang remaja perempuan asal Tangerang, Sulistia (18), didiagnosis terkena gagal ginjal stadium 5 sejak usianya baru menginjak 14 tahun. (iStockphoto)

Jakarta,Perspektif.co.id – Seorang remaja perempuan asal Tangerang, Sulistia (18), harus menghadapi vonis gagal ginjal stadium 5 sejak usianya baru menginjak 14 tahun. Penyakit serius itu awalnya tidak terdeteksi karena gejala yang muncul mirip keluhan ringan yang kerap dialami banyak orang.

Sulistia mengingat, keluhan awal muncul dalam bentuk tubuh yang membengkak disertai rasa mual, muntah, dan sesak napas. Selama sekitar dua bulan, ia bolak-balik memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, namun diagnosa yang diterima selalu mengarah ke penyakit lain.

“Aku ngerasain gejala itu sekitar 2 bulanan. Bolak-balik klinik, kata klinik manapun [terkena] asam lambung,” ujar Sulistia, Senin (8/12), dikutip dari detikhealth.

Bukan hanya itu, pada satu kesempatan pemeriksaan, ia bahkan sempat diduga mengalami masalah pada paru-paru, termasuk kemungkinan munculnya flek. Namun kondisi tubuhnya terus menurun. Hingga suatu waktu, Sulistia kehilangan kesadaran dan harus dilarikan ke instalasi gawat darurat (IGD) di sebuah rumah sakit di Tangerang.

Di rumah sakit, ia menjalani serangkaian pemeriksaan lanjutan. Dari hasil penelusuran medis, dokter menyatakan Sulistia mengalami gagal ginjal stadium 5. Tahap ini merupakan fase akhir penyakit ginjal kronis ketika fungsi ginjal sudah sangat menurun dan tidak lagi mampu bekerja secara optimal.

Kasus Sulistia menggambarkan bagaimana gejala gagal ginjal kerap kali tampak samar dan mudah disangka sebagai penyakit lain yang lebih ringan. Keluhan seperti mual dan muntah sering dianggap sebagai tanda gangguan asam lambung, padahal bisa menjadi sinyal awal gangguan fungsi ginjal yang memburuk secara perlahan.

Dokter spesialis urologi, Profesor Nur Rasyid, membenarkan bahwa mual dan muntah memang sering menjadi gejala dini gagal ginjal yang luput diperhatikan. “Orang mulai gagal ginjal itu rasanya kadang-kadang mual. Karena apa? Di dalam tubuh ada yang namanya ureum, yang harus dibuang oleh ginjal,” jelasnya.

Ia menerangkan, ketika fungsi ginjal mulai menurun, tubuh tidak mampu lagi membuang ureum secara optimal. Zat sisa metabolisme itu kemudian menumpuk dalam darah. Proses penumpukan berlangsung pelan, sehingga pasien kerap tidak menyadari perubahan yang terjadi.

“Naiknya [ureum] pelan-pelan. Baru setelah kadarnya tinggi, baru mual,” ujar Nur Rasyid. Di titik inilah, banyak orang mengira mual dan muntah yang muncul hanya berkaitan dengan gangguan lambung, bukan sebagai bagian dari proses gagal ginjal yang sudah berjalan cukup lama.

Menurutnya, ketika gejala seperti mual dan muntah mulai sering terjadi dan tidak membaik dengan pengobatan biasa, kondisi itu seharusnya menjadi peringatan. Pemeriksaan fungsi ginjal perlu segera dilakukan agar kerusakan tidak berlanjut ke tahap yang lebih berat.

“Waktu dia [pasien] udah mual-mual itu, [fungsi] ginjalnya udah jelek,” tegasnya.

Kisah Sulistia menjadi pengingat bahwa keluhan tubuh yang tampak sederhana tidak boleh diremehkan, terlebih jika berlangsung terus-menerus. Deteksi dini dan pemeriksaan menyeluruh menjadi kunci untuk mencegah penyakit ginjal berkembang hingga stadium akhir, terutama pada kelompok usia muda yang selama ini jarang dicurigai mengalami gagal ginjal kronis.

Berita Terkait