TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Red Hat menegaskan ambisinya membentuk masa depan telekomunikasi global melalui pendekatan open-source yang lebih cerdas, sovereign, dan dapat diprogram, setelah perusahaan tersebut memamerkan demo infrastruktur AI dan kolaborasi strategis yang menargetkan transformasi jaringan operator. Penguatan posisi ini muncul di tengah percepatan adopsi cloud-native, otomatisasi, dan integrasi AI di industri telekomunikasi yang semakin kompleks, sebagaimana tercermin dalam berbagai inisiatif Red Hat bersama operator besar di Amerika Utara, Eropa, dan Amerika Latin.
Dalam demonstrasi terbarunya, Red Hat menampilkan bagaimana platform hybrid cloud dan OpenShift AI dapat menjadi fondasi untuk jaringan yang lebih fleksibel, dapat diprogram, dan mampu menjalankan beban kerja AI secara real-time di edge. Pendekatan ini dirancang untuk membantu operator mengatasi tantangan skalabilitas, konsistensi, dan efisiensi biaya ketika jaringan 5G dan 5G-Advanced semakin padat dan terdistribusi.
Seorang eksekutif Red Hat menegaskan bahwa masa depan telekomunikasi tidak lagi sekadar soal konektivitas, tetapi tentang bagaimana AI dapat mengoptimalkan desain, operasi, dan pengalaman pelanggan secara menyeluruh.
“AI kini bergerak dari konsep menuju implementasi nyata, terutama dalam operasi jaringan dan pengalaman pelanggan,” ujar Fran Heeran, VP Global Telecommunications Business Red Hat, dalam sebuah wawancara.
Red Hat juga menyoroti pentingnya interoperabilitas dan keamanan melalui open-source, terutama ketika operator beralih ke arsitektur multi-cloud dan edge yang membutuhkan konsistensi lintas lingkungan. Perusahaan menekankan bahwa model sovereign AI—di mana operator memiliki kendali penuh atas data, privasi, dan performa—akan menjadi kunci dalam membangun jaringan generasi berikutnya yang lebih otonom dan dapat beradaptasi.
Kolaborasi Red Hat dengan berbagai operator besar memperkuat arah tersebut. Bell Canada memperpanjang kemitraan multi-tahun untuk mempercepat inovasi jaringan melalui integrasi OpenShift Platform Plus, OpenStack, dan Ansible Automation. Telefónica Spain menstandarkan OpenShift sebagai platform terpadu untuk beban kerja IT dan fungsi jaringan cloud-native, sementara Telefónica Brazil mencatat peningkatan efisiensi signifikan setelah memigrasikan VM lama ke OpenShift, termasuk pemangkasan waktu scaling hingga 99% dan pengurangan penggunaan storage hingga 95%.
Dalam konteks RAN, Red Hat menekankan bahwa AI-RAN akan menjadi pendorong utama orkestrasi dan optimasi jaringan radio di masa depan. Dengan memanfaatkan RAN Intelligent Controller (RIC), operator dapat melakukan penyesuaian parameter jaringan secara real-time untuk meningkatkan performa, keamanan, dan efisiensi energi.
Sementara itu, kolaborasi Red Hat dengan Mavenir menunjukkan bagaimana AI generatif dapat diterapkan secara on-premise untuk kebutuhan carrier-grade, termasuk conversational AI dan agentic AI yang mampu mendeteksi dan memperbaiki masalah sebelum berdampak pada pelanggan.
“Penyedia layanan membutuhkan kontrol penuh atas pengalaman pengguna, biaya, dan privasi data. Kolaborasi kami dengan Red Hat memungkinkan pengembangan solusi AI on-premise yang memenuhi kebutuhan tersebut,” kata Sachin Karkala, EVP & GM IMS & RAN Mavenir.
Dengan momentum ini, Red Hat menempatkan open-source sebagai fondasi utama bagi jaringan yang lebih programmable, adaptif, dan siap menghadapi era 6G. Perusahaan menegaskan bahwa masa depan telekomunikasi akan ditentukan oleh kemampuan operator mengoperasionalkan AI secara masif, mengelola kompleksitas multi-cloud, dan menjaga kedaulatan data di tengah meningkatnya kebutuhan keamanan dan latensi ultra-rendah.