JAKARTA, Perspektif.co.id – Harga emas dunia terus mencetak rekor baru. Setelah mendekati level US$4.400 per troy ons, kini muncul prediksi ekstrem bahwa harga logam mulia tersebut bisa melambung hingga US$30.000 per ons jika krisis pasokan global dan ketegangan geopolitik berlanjut.
Menurut Josh Phair, CEO Scottsdale Mint, pasar logam berharga saat ini sedang memasuki fase yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat kekurangan pasokan perak dan ketegangan ekonomi global.
“Jika memperhitungkan utang luar negeri Amerika Serikat dan cadangan emas yang dimilikinya, harga emas seharusnya mencapai sekitar US$32.000 per ons,” ujar Phair kepada Kitco News (16/10).
Faktor Pemicu Lonjakan Harga Emas
Phair mengungkapkan, kekacauan di pasar logam industri menjadi sinyal awal “perang logam geopolitik”, di mana negara-negara besar berlomba menumpuk aset fisik sebagai penyangga mata uang mereka.
Konsep yang ia gunakan disebut Fair Sinclair Ratio — perbandingan antara total utang luar negeri AS (sekitar US$8,5 triliun) dan cadangan emas resminya (261,5 juta troy ons). Berdasarkan perhitungan ini, valuasi wajar emas bisa mencapai US$30.000–US$32.000 per ons.
Prediksi ini diperkuat oleh Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase & Co, yang sebelumnya juga memproyeksikan harga emas di kisaran US$10.000 per ons jika ketidakpastian ekonomi global terus berlanjut.
Krisis Logam dan Rivalitas Ekonomi Global
Phair menambahkan, negara-negara BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) kini berupaya membangun sistem keuangan baru berbasis emas untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Dunia berpotensi terbagi menjadi dua blok perdagangan besar: poros BRICS dan sekutu Barat.
Situasi ini diperparah dengan kelangkaan perak global, di mana:
- Biaya sewa perak melonjak dari 1–2% menjadi lebih dari 100% per tahun.
- Beberapa kilang berhenti beroperasi karena tekanan biaya.
- Rantai pasok global macet akibat keterlambatan pengiriman bahan mentah.
Ironisnya, AS kini hanya memiliki dua kilang perak berstandar LBMA dan COMEX, yang keduanya dimiliki oleh perusahaan Jepang, sehingga meningkatkan ketergantungan impor logam mulia.
Harga Emas Dunia dan Domestik Melonjak
Data Investing (17/10) mencatat harga emas dunia pada pukul 05.15 WIB berada di US$4.378 per ons, hampir menembus level psikologis US$4.400. Dalam sebulan, harga emas global telah naik 18%, sementara dalam setahun melonjak hingga 61%.
Kenaikan di pasar global turut mendorong harga emas di dalam negeri. Berdasarkan data Bareksa Emas, berikut harga logam mulia per gram di Indonesia:
| Lembaga | Harga (Rp/gram) |
|---|---|
| Treasury | Rp2.380.954 |
| Pegadaian | Rp2.420.000 |
| Indogold | Rp2.332.320 |
| Antam | Rp2.485.000 |
Dengan kurs Rp16.592 per dolar AS, harga emas di Indonesia telah meningkat antara 61% hingga 75% dalam satu tahun terakhir.
Simulasi Harga Emas Domestik Jika Harga Dunia Naik
Berikut proyeksi harga emas domestik jika harga emas dunia naik sesuai skenario global:
| Lembaga | US$5.000/oz | US$10.000/oz | US$30.000/oz |
|---|---|---|---|
| Treasury | Rp2,71 juta | Rp5,37 juta | Rp16,04 juta |
| Pegadaian | Rp2,75 juta | Rp5,41 juta | Rp16,08 juta |
| Indogold | Rp2,66 juta | Rp5,33 juta | Rp16,00 juta |
| Antam | Rp2,81 juta | Rp5,48 juta | Rp16,15 juta |
(Sumber: Kitco News, Investing, Bareksa Emas – diolah; dengan premi domestik 1,9%–6,4% terhadap harga spot internasional)
Risiko Koreksi Harga Emas
Meski tren masih positif, analis mengingatkan bahwa harga emas kini berada di zona rawan koreksi. Beberapa faktor yang dapat menekan harga antara lain:
- Data ekonomi AS yang lebih kuat dari ekspektasi, berpotensi menunda pemangkasan suku bunga The Fed.
- Penguatan dolar AS karena peralihan dana ke aset likuid.
- Aksi ambil untung (profit taking) di kisaran US$4.200–US$4.300.
- Redanya ketegangan geopolitik global, yang bisa menurunkan permintaan terhadap safe haven.***