Perspektif.co.id - Di tengah situasi ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian, keputusan memilih instrumen investasi menjadi hal yang harus dipertimbangkan secara matang. Dua pilihan yang paling sering dibandingkan oleh masyarakat adalah emas dan saham. Keduanya sama-sama populer, tetapi memiliki karakter, risiko, serta potensi keuntungan yang sangat berbeda.
Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai atau safe haven. Instrumen ini dinilai relatif stabil dan cenderung mengalami kenaikan harga dalam jangka panjang, terutama ketika kondisi ekonomi dunia bergejolak. Berbeda dengan saham yang pergerakan harganya sangat fluktuatif, emas lebih banyak dipilih oleh investor yang mengutamakan keamanan dana.
Sebaliknya, saham menawarkan peluang imbal hasil yang jauh lebih besar, namun disertai risiko yang juga lebih tinggi. Harga saham bisa melonjak tajam, tetapi dalam waktu singkat juga bisa anjlok. Perbedaan karakter inilah yang membuat emas dan saham kerap dipertentangkan, khususnya oleh investor pemula yang masih mencari bentuk investasi paling ideal.
Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini Sutikno menegaskan bahwa emas dan saham sejatinya bukanlah instrumen yang saling mengalahkan, melainkan justru saling melengkapi. Menurutnya, kunci utama dalam investasi adalah meminimalkan risiko melalui strategi diversifikasi.
“Artinya dalam susunan investasi kita mesti mengalokasikan dana ke dalam beberapa jenis aset yang berbeda. Nah, emas dan saham ini karakteristiknya berbeda, risikonya juga tidak sama,” ujar Mike.
Ia menambahkan, karena memiliki pola pergerakan dan volatilitas yang tidak serupa, emas dan saham justru menjadi kombinasi yang ideal dalam satu portofolio. “Karena karakteristiknya beda dan fluktuasinya juga beda, maka kedua instrumen ini bersifat saling melengkapi. Penting untuk dimiliki, karena dua-duanya sama-sama punya potensi menghasilkan cuan,” lanjutnya.
Pendapat serupa disampaikan Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Dandy. Ia menyebut dalam kondisi saat ini, baik emas maupun saham sama-sama berpeluang memberikan keuntungan, tergantung pada tujuan investasi dan profil risiko masing-masing individu.
Dandy menjelaskan, keunggulan emas terletak pada kestabilannya dan kepercayaan pasar yang tinggi terhadap logam mulia tersebut sebagai aset penyelamat ketika krisis melanda. “Kalau sedang banyak krisis atau kondisi ekonomi tidak menentu, biasanya emas akan naik karena banyak orang menarik dananya untuk dialihkan ke emas yang pergerakannya cenderung mengikuti inflasi,” katanya.
Namun, emas juga memiliki keterbatasan. Berbeda dengan saham, emas tidak memberikan pendapatan pasif seperti dividen. Keuntungan dari emas semata-mata diperoleh dari capital gain, yakni selisih antara harga beli dan harga jual. Artinya, investor baru mendapatkan untung ketika harga emas naik di atas harga saat pembelian.
Perencana Keuangan MRE lainnya, Andi Nugroho, menambahkan bahwa emas memiliki prospek cerah karena situasi geopolitik dan ekonomi dunia yang masih belum stabil. Selain itu, emas juga bersifat likuid dan mudah diperjualbelikan kapan saja. “Karena sifatnya yang likuid, emas bisa dijadikan sebagai dana darurat,” ujarnya.
Meski begitu, Andi mengingatkan adanya risiko lain dari emas, terutama terkait keamanan penyimpanan. “Emas ukurannya kecil, sehingga rawan hilang atau dicuri jika disimpan di rumah tanpa tempat penyimpanan khusus,” katanya.
Agar bisa meraih keuntungan maksimal dari emas, Andi menyarankan agar investor memastikan harga jual sudah lebih tinggi dibanding harga beli. Ia juga menilai bahwa keterbatasan dana bukan halangan. “Kalau dananya belum cukup, bisa menabung dulu atau membeli emas dalam ukuran kecil dan dikumpulkan secara bertahap,” tuturnya.
Sementara itu, saham menawarkan kelebihan yang berbeda. Mike menjelaskan bahwa saham tidak hanya memberikan capital gain, tetapi juga dividen. Selain itu, ragam saham yang tersebar di berbagai sektor membuat investor memiliki banyak pilihan untuk melakukan diversifikasi dalam satu jenis aset saja.
“Dengan saham, kita bisa mendiversifikasi portofolio dari berbagai sektor industri. Jadi dari satu jenis aset ini saja, kita sebenarnya sudah bisa memecah risiko,” kata Mike.
Namun, Andi menekankan bahwa saham memiliki risiko yang lebih besar dibandingkan emas. Selain fluktuasi harga yang tinggi, transaksi saham juga hanya dapat dilakukan pada jam perdagangan bursa. “Saham juga membutuhkan pemahaman yang lebih dalam mengenai pasar dan pergerakan emiten,” ujarnya.
Ia menilai investasi saham kurang cocok bagi investor dengan profil risiko moderat, apalagi konservatif. “Saham lebih sesuai untuk investor yang berani mengambil risiko dan nyaman dengan volatilitas harga,” katanya.
Untuk memaksimalkan potensi cuan dari saham, Andi menyarankan agar investor memilih saham dengan fundamental yang baik dan tingkat likuiditas tinggi. Ia juga menekankan pentingnya analisis ekonomi dan riset mandiri. “Ikuti perkembangan ekonomi, dengarkan analisis para ahli, tapi tetap lakukan riset sendiri,” ucapnya.
Selain itu, investor disarankan tidak hanya menanamkan modal pada satu emiten saja. “Sebaiknya memiliki saham di tiga sampai tujuh emiten dari sektor yang berbeda agar risiko bisa tersebar,” jelasnya.
Jika dana terbatas, strategi dollar cost averaging juga dapat diterapkan. “Bila ingin punya saham dalam jumlah banyak tetapi dananya terbatas, bisa membeli sedikit demi sedikit secara berkala,” terangnya.