24 January 2026, 13:45

Emas Antam Tembus Rp3 Juta/Gram, Perencana Keuangan Ingatkan 4 Hal Ini Biar Tak Keburu FOMO

Lonjakan harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) yang menembus Rp3 juta per gram di pasar ritel memicu gelombang minat beli di masyarakat.

Reporter: Ihsan Nurdin
Editor: Deden M Rojani
1,036
Emas Antam Tembus Rp3 Juta/Gram, Perencana Keuangan Ingatkan 4 Hal Ini Biar Tak Keburu FOMO
Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) terus melonjak hingga menembus Rp3 juta per gram di pasaran. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).

JAKARTA, Perspektif.co.id - Lonjakan harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) yang menembus Rp3 juta per gram di pasar ritel memicu gelombang minat beli di masyarakat. Di sejumlah kanal penjualan, angka Rp3 jutaan per gram sudah terlihat, mulai dari marketplace hingga platform penjualan emas tertentu. 

Situasi ini dinilai berpotensi memantik Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa takut ketinggalan momentum, terutama ketika emas dianggap menjadi salah satu instrumen dengan performa paling mencolok dalam beberapa tahun terakhir. Namun, perencana keuangan mengingatkan keputusan membeli emas seharusnya tidak semata didorong euforia harga, melainkan tetap berpijak pada tujuan finansial dan pemahaman risiko. 

Perencana Keuangan OneShildt Budi Rahardjo mengatakan tidak mengherankan bila masyarakat ramai-ramai memburu emas karena banyak orang menilai kinerja emas belakangan ini unggul dibanding instrumen lain secara umum. Meski begitu, ia menyoroti adanya persepsi yang berkembang bahwa emas adalah investasi “paling aman”, padahal setiap instrumen tetap mengandung risiko. “Ditambah lagi ada persepsi yang tumbuh di masyarakat seolah-olah bahwa emas adalah instrumen investasi teraman padahal setiap investasi pasti mengandung risiko,” ujar Budi. 

Menurut Budi, penguatan minat terhadap emas juga tumbuh seiring ketidakpastian ekonomi dan geopolitik sehingga emas kerap diposisikan sebagai aset lindung nilai atau safe haven. Namun ia menekankan, agar tidak terjebak keputusan impulsif, ada sejumlah pertimbangan yang sebaiknya dilakukan sebelum membeli. 

1, pahami dulu tujuan penggunaan emas, potensi keuntungan, dan risikonya dalam kerangka perencanaan keuangan. Budi menilai emas idealnya ditempatkan sebagai bagian dari diversifikasi portofolio—misalnya untuk mencapai target tertentu atau sebagai proteksi saat kondisi ekstrem—bukan karena sekadar ikut arus kenaikan harga. Ia memberi contoh, jika seseorang menaruh porsi terlalu besar hanya karena FOMO, risikonya juga besar saat harga berbalik. “Jika kemudian orang itu kemudian meletakkan 70 persen dari asetnya ke emas karena FOMO, maka dia juga harus bersiap-siap jika kemudian harga emas berbalik arah dan menggerus mayoritas nilai asetnya,” kata Budi.

2,  siapkan kondisi keuangan sebelum memutuskan investasi emas untuk jangka panjang. Budi menyebut fondasi seperti dana darurat yang memadai, proteksi asuransi sesuai kebutuhan, dan arus kas yang aman menjadi prasyarat penting agar pembelian emas tidak mengganggu kesehatan finansial sehari-hari. Ia menegaskan posisi emas seharusnya menjadi pelengkap portofolio, terutama ketika instrumen berisiko lebih tinggi sedang tertekan. “Emas digunakan pada posisi ini sebagai pelengkap portofolio saat instrumen berisiko tinggi mengalami tekanan dan sarana diversifikasi sesuai profil dalam berinvestasi,” ujarnya. 

3, perlakukan emas sebagai investasi jangka panjang, bukan alat “kejar cuan cepat” yang menuntut hasil instan. Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho menyebut emas dalam horizon panjang dapat membantu menjaga nilai uang agar tidak tergerus inflasi, meski pergerakannya tetap fluktuatif. “Walaupun sebagai aset investasi dia akan fluktuatif, kalaupun turun ya enggak apa-apa, dia akan berfungsi sebagai lindung nilai dari mata uang kita,” ujar Andi. 

Andi juga mengingatkan bahwa peluang keuntungan pada emas lebih terasa ketika selisih harga beli dan harga jual kembali sudah menutup spread atau jarak harga yang lazim terjadi di pasar ritel. Ia menyebut selisih tersebut bisa berada di kisaran tertentu yang perlu diperhitungkan sejak awal. “Ketika kita ingin mendapatkan cuan, gitu kan, itu ada selisih antara harga ketika kita beli sama ketika kita menjualnya kembali. Selisihnya itu sekitar 10 persen,” kata Andi. 

4, pilih emas batangan dibanding perhiasan jika orientasinya investasi. Andi menilai emas batangan merupakan bentuk baku sehingga pergerakan harga jual kembalinya cenderung mengikuti pasar. Sebaliknya, perhiasan mengandung unsur subjektif—mulai dari model, biaya pembuatan, hingga kebijakan buyback toko—yang bisa membuat nilai jual kembali tidak selalu setara kenaikan harga emasnya. “Ketika dijual kembali, walaupun harganya sama-sama naik, yang batangan itu harganya akan mengikuti harga pasar. Namun kalau yang perhiasan itu akan tergantung dari harga buyback yang diberikan oleh si toko emas gimana,” ujarnya. 

Selain itu, harga buyback perhiasan dapat terpengaruh biaya peleburan dan pencetakan ulang, bahkan selera pasar atas model perhiasan. Andi menggambarkan, perhiasan yang dianggap sudah tidak tren bisa dihargai lebih rendah dibanding acuan pasar. “Kalau dia melihat, ‘Oh, model begini udah enggak ngetren lagi nih.’ Nah, sama dia mungkin harganya akan direndahkan lagi dari harga pasarannya, gitu,” tuturnya. 

Dengan harga yang sudah menyentuh level psikologis Rp3 juta per gram di berbagai kanal penjualan, para perencana keuangan menilai kehati-hatian menjadi kunci agar keputusan membeli emas tidak berubah menjadi beban ketika pasar berbalik. Dalam kondisi euforia, disiplin pada tujuan, porsi aset, serta kesiapan arus kas dinilai lebih menentukan ketimbang sekadar “takut ketinggalan” tren. 

Berita Terkait