15 January 2026, 14:17

Perwakilan Arminia Bielefeld Yakin Talenta Indonesia Bisa Tembus Bundesliga

Perwakilan klub Jerman Arminia Bielefeld, Patrick Ghigani, menyatakan pemain Indonesia punya modal untuk melanjutkan karier hingga level Bundesliga.

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
1,273
Perwakilan Arminia Bielefeld Yakin Talenta Indonesia Bisa Tembus Bundesliga
Kevin Diks menjadi satu-satunya pemain Indonesia yang berlaga di Bundesliga saat ini. (REUTERS/Leon Kuegeler)

Perspektif.co.id - Perwakilan klub Jerman Arminia Bielefeld, Patrick Ghigani, menyatakan pemain Indonesia punya modal untuk melanjutkan karier hingga level Bundesliga. Menurut Patrick, banyak pesepak bola Indonesia memiliki bakat alami, tetapi harus dibarengi disiplin dan etos kerja yang konsisten jika ingin bersaing di ekosistem sepak bola Jerman yang keras dan menuntut.

“Saya yakin 100 persen. Di Jerman sebenarnya banyak pemain yang tidak berbakat. Tapi mereka punya etos kerja yang tinggi,” kata Patrick dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Patrick menilai kondisi di Indonesia justru berbeda: pemain kerap memiliki “talenta murni”, namun kesempatan dan jalur pembinaan berstandar tinggi perlu diperbanyak agar kualitas itu terkonversi menjadi kesiapan kompetitif. “Sedangkan di Indonesia pemainnya punya talenta murni. Mereka butuh kesempatan yang lebih besar. Jika mereka punya rekam jejak yang baik bukan tak mungkin bisa menuju Bundesliga. Saya yakin itu,” ucapnya. 

Pernyataan tersebut disampaikan seiring agenda Arminia Bielefeld memperluas jejaring di Indonesia, termasuk melalui program pelatihan dan pencarian talenta. Klub yang dalam beberapa musim terakhir berkiprah di kasta kedua Liga Jerman itu disebut ingin meningkatkan atensi publik Indonesia terhadap Arminia, sekaligus membuka ruang kerja sama pembinaan usia dini dan akademi.

Patrick menjelaskan, misi yang dibawa bukan sekadar promosi klub, melainkan juga transfer budaya kerja sepak bola Jerman yang dikenal ketat pada detail, intensitas latihan, hingga konsistensi pengembangan pemain muda. “Misi bersama Arminia tentu ingin menunjukkan budaya kerja kami di Jerman. Kami ingin meningkatkan level akademi di Indonesia,” katanya. 

Selain coaching clinic, Patrick menyebut Arminia juga membuka peluang untuk memetakan pemain yang cocok dengan filosofi klub. “Rencana lainnya tentu mencari talenta di Indonesia yang sesuai dengan filosofi kami. Arminia juga ingin terkenal di Indonesia. Tentu ada harapan pemain Indonesia bisa ke Bundesliga,” ujarnya.

Nama Patrick bukan asing bagi pencinta sepak bola Tanah Air. Ia pernah berkiprah di Indonesia sebagai pemain dan pelatih, serta punya jejak karier yang panjang di sepak bola Eropa sebelum datang ke kompetisi domestik. Riwayatnya mencatat ia pernah memperkuat klub Indonesia seperti Cenderawasih FC dan Persiraja Banda Aceh, serta sempat terlibat dalam aktivitas kepelatihan di Indonesia.

Kedekatan itu pula yang membuat Patrick menekankan pendekatan dua arah dalam kunjungan Arminia ke Indonesia. Ia menilai kerja sama tidak boleh berjalan dengan mental “paling tahu”, melainkan saling memahami kultur sepak bola masing-masing. “Kami juga ingin belajar. Kami tidak bisa merasa sebagai yang paling tahu. Setiap negara punya cara berpikirnya sendiri. Pada intinya kami ingin mempelajari cara berpikir orang Indonesia tentang sepak bola,” kata Patrick. 

Ia bahkan menyebut Indonesia memiliki posisi personal dalam hidupnya. “Terlebih saya sudah kenal dengan Indonesia. Negara ini adalah rumah kedua saya,” ucapnya, menegaskan bahwa agenda yang dibawa bukan sekadar program singkat, melainkan upaya membangun hubungan yang lebih berkelanjutan. 

Di tengah meningkatnya eksposur sepak bola Indonesia dalam beberapa tahun terakhir—baik lewat diaspora pemain, naturalisasi, maupun penguatan kompetisi—pernyataan perwakilan klub Jerman ini menjadi sinyal bahwa jalur menuju liga top Eropa terbuka, meski tetap berat. Patrick menekankan prasyaratnya sederhana tetapi tidak mudah: konsistensi kerja, rekam jejak yang jelas, dan kesiapan menghadapi standar profesional yang tinggi sejak latihan harian hingga tuntutan taktik.

Bagi Arminia Bielefeld, Indonesia dipandang sebagai pasar besar sekaligus sumber talenta potensial. Bagi Indonesia, kerja sama semacam ini menjadi peluang untuk memperluas akses pembinaan—dari latihan, metodologi, hingga scouting—yang pada akhirnya bisa memperbesar kemungkinan lahirnya pemain yang benar-benar siap naik level, bukan sekadar “punya bakat”, tapi juga siap menjalani ritme dan tekanan sepak bola Jerman.

Berita Terkait