29 December 2025, 14:26

Peneliti Ingatkan Risiko : Bulan Berpotensi Jadi 'Kuburan Massal' Satelit, Ini Penyebabnya

Aktivitas manusia di Bulan diperkirakan makin padat dalam dua dekade ke depan—bukan hanya untuk riset, tetapi juga ambisi membangun pangkalan

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
2,153
Peneliti Ingatkan Risiko : Bulan Berpotensi Jadi 'Kuburan Massal' Satelit, Ini Penyebabnya
Ilustrasi. Studi terbaru menunjukkan Bulan berpotensi menjadi 'kuburan' satelit. Peningkatan misi ke Bulan memicu kebutuhan solusi pembuangan satelit yang aman. (Foto: AFP/YURI KADOBNOV)

Perspektif.co.id - Aktivitas manusia di Bulan diperkirakan makin padat dalam dua dekade ke depan—bukan hanya untuk riset, tetapi juga ambisi membangun pangkalan, komunikasi, hingga eksperimen komersial. Di balik euforia itu, sebuah kajian terbaru memperingatkan skenario yang jarang dibahas: Bulan berpotensi berubah menjadi “kuburan massal” bagi satelit dan pesawat antariksa yang sudah habis masa pakainya, karena operator pada akhirnya perlu “membuang” wahana yang kehabisan bahan bakar.

Laporan tersebut menyoroti lonjakan rencana misi menuju Bulan yang diperkirakan melampaui 400 misi dalam 20 tahun mendatang. Bersamaan dengan itu, jumlah satelit yang mengorbit Bulan juga diproyeksikan meningkat tajam untuk menopang layanan penentuan posisi, navigasi, dan komunikasi bagi aktivitas di orbit maupun di permukaan. 

Masalahnya, berbeda dengan Bumi yang memiliki atmosfer untuk “membakar habis” satelit saat masuk kembali, Bulan nyaris tak punya atmosfer. Konsekuensinya, satelit yang sudah tak berfungsi tidak bisa dibuang dengan cara yang lazim dilakukan di orbit Bumi—yakni dipaksa re-entry agar hancur terbakar. Dalam kondisi lunar, opsi pembuangan menjadi jauh lebih terbatas dan berisiko menimbulkan jejak sampah antariksa permanen di permukaan Bulan.  

Dalam diskusi para ahli yang dibahas media internasional, peneliti senior University of Durham, Fionagh Thomson, menggambarkan dilema itu dengan lugas. “Satelit-satelit ini harus ‘crash-landing’ di Bulan, jadi Bulan berpotensi jadi lokasi sampah,” ujarnya dalam pertemuan Space-Comm di Glasgow. 

Kekhawatiran para peneliti bukan sekadar soal “bercecerannya” puing. Jika puluhan satelit mati dijatuhkan tanpa perencanaan ketat, tabrakan dapat merusak instrumen ilmiah yang sensitif, mengganggu operasi misi lain, hingga mengancam area bernilai sejarah—misalnya lokasi jejak kaki astronaut yang pertama kali mendarat. 

Dampak fisiknya juga tidak kecil. Kecepatan tumbukan satelit ke permukaan Bulan diperkirakan bisa mencapai sekitar 1,2 mil per detik. Tabrakan pada kecepatan itu berpotensi menghasilkan getaran kuat, “luka” di permukaan yang memanjang puluhan meter, dan awan debu abrasif yang luas—yang bisa mengganggu teleskop serta merusak perangkat yang beroperasi di sekitar lokasi tumbukan. 

Profesor Ian Crawford dari Birkbeck, University of London, menilai isu ini belum darurat karena Bulan sangat luas. Namun, ia mengingatkan probabilitas risiko meningkat seiring kepadatan satelit di orbit lunar. “Bukan masalah yang mendesak… tapi makin banyak satelit, makin besar peluang menabrak lokasi sensitif,” katanya, seraya menambahkan perlunya rencana jangka depan.  

Di Bumi, operator satelit terbantu “mekanisme pembuangan alami” berupa atmosfer: ribuan satelit tua dapat di-deorbit dan terbakar setiap tahun. Di Bulan, mekanisme itu tak tersedia. Inilah alasan mengapa diskusi tentang tata kelola sampah antariksa lunar mulai didorong sejak sekarang—sebelum orbit Bulan terlanjur ramai dan praktik pembuangan telanjur berjalan tanpa standar bersama. 

Salah satu proyek yang kerap disebut dalam konteks ini adalah infrastruktur komunikasi dan navigasi Bulan, termasuk rencana konstelasi satelit Moonlight milik European Space Agency (ESA). ESA menyatakan layanan Moonlight akan digelar bertahap, dengan operasi awal ditargetkan pada 2028 dan operasi penuh pada 2030. 

Untuk membuka jalan, ESA juga menyiapkan misi Lunar Pathfinder sebagai platform uji coba. Karena satelit itu juga akan mencapai akhir masa operasi, isu pembuangan (end-of-life disposal) menjadi bagian dari perencanaan sejak awal—menggambarkan bahwa persoalan “sampah lunar” bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan teknis yang akan segera dihadapi berbagai operator. 

Dalam laporan yang sama, dipaparkan tiga jalur utama yang umumnya dipertimbangkan operator satelit Bulan ketika bahan bakar menipis. Pertama, membekali satelit dengan propulsi dan bahan bakar memadai agar bisa “pergi” meninggalkan orbit Bulan menuju orbit Matahari—opsi ini dinilai paling aman tetapi mahal. Kedua, memindahkan satelit ke orbit Bulan yang lebih jauh; tantangannya, medan gravitasi Bulan tidak merata sehingga stabilitas orbit lebih rumit dibanding orbit Bumi. Ketiga, menabrakkan satelit ke permukaan Bulan secara terkendali—opsi yang paling realistis namun menuntut perencanaan lokasi yang sangat presisi. 

Karena itulah muncul gagasan “zona kuburan” (graveyard) atau “zona dampak” (impact zones): area tertentu yang ditetapkan sebagai lokasi pembuangan satelit dan wahana mati, idealnya di kawah besar untuk menahan sebaran debu akibat benturan. Dalam kerangka ini, operator diwajibkan mengarahkan satelit tua menuju titik-titik yang sudah ditentukan, agar sisa artefak manusia tidak menyebar acak ke seluruh permukaan Bulan.  

Kepala Office for Space Regulation di UK Space Agency, Sarah Boyall, menyebut sejumlah forum koordinasi internasional tengah membahas praktik terbaik untuk pembuangan satelit Bulan, termasuk melalui Action Team on Lunar Activities Consultation (ATLAC) di bawah UNOOSA dan Inter-Agency Space Debris Coordination Committee (IADC).  

Dari sisi industri, dukungan terhadap penetapan “zona kuburan” juga menguat. Ben Hooper, manajer proyek senior Lunar Pathfinder di SSTL, menyebut pendekatan itu sebagai pilihan yang paling praktis untuk membatasi penyebaran “jejak” manusia di Bulan. “Menetapkan zona kuburan di Bulan adalah solusi paling praktis,” ujarnya, seraya menekankan bahwa penentuan “zona dampak” membantu menjaga area lain tetap bersih untuk riset dan operasi masa depan.

ESA pun mendorong agar pembuangan dilakukan secara terkendali, dengan menghindari lokasi yang bernilai ilmiah dan historis serta menjauhi misi yang masih berjalan. Intinya: kalau memang harus “ditabrakkan”, tabrakkan di tempat yang sudah disepakati, bukan di sembarang titik.

Menariknya, sebagian ilmuwan melihat peluang ilmiah dari tabrakan terencana. Profesor emeritus ilmu antariksa Open University, John Zarnecki, menilai tumbukan satelit di zona khusus dapat dimanfaatkan sebagai eksperimen seismologi, karena massa, geometri, kecepatan, dan lokasi tabrakan diketahui. “Itu eksperimen seismologi yang fantastis,” ujarnya, merujuk potensi membaca struktur internal Bulan dari gelombang seismik yang tercipta.

Namun, para peneliti menekankan bahwa manfaat itu hanya mungkin jika tata kelola pembuangan dirancang sejak dini—dengan transparansi koordinat, standar mitigasi debu, serta mekanisme konsultasi antar-aktor yang sama-sama berkepentingan di Bulan. Tanpa itu, Bulan berisiko menjadi tempat “parkir terakhir” ribuan benda buatan manusia, lengkap dengan konsekuensi operasional dan etika bagi eksplorasi ruang angkasa generasi berikutnya.

Berita Terkait