12 January 2026, 23:50

Musk “Bongkar Daleman” X: Algoritma Bakal Dibuka ke Publik di Tengah Denda UE dan Badai Konten Grok

Elon Musk menyatakan platform media sosial X akan membuka algoritma barunya ke publik atau open source dalam waktu sepekan

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
1,294
Musk “Bongkar Daleman” X: Algoritma Bakal Dibuka ke Publik di Tengah Denda UE dan Badai Konten Grok
Elon Musk mengumumkan bakal membuka akses algoritma platform X ke publik atau open source mulai pekan ini. (Foto: REUTERS/Nathan Howard)

Perspektif.co.id - Elon Musk menyatakan platform media sosial X akan membuka algoritma barunya ke publik atau open source dalam waktu sepekan. Rencana itu mencakup seluruh kode yang menentukan unggahan organik dan iklan apa yang direkomendasikan kepada pengguna, serta akan diperbarui berkala setiap empat minggu disertai catatan pengembang yang rinci. 

Pengumuman tersebut disampaikan Musk pada Sabtu, 10 Januari 2026. Dalam unggahannya di X, Musk menyebut pembukaan algoritma ini sebagai langkah untuk meningkatkan transparansi, sekaligus menjanjikan pola rilis yang berulang agar publik bisa memahami apa saja yang berubah dari waktu ke waktu. 

Rencana membuka algoritma ini muncul ketika tekanan regulator terhadap X kian menguat, terutama di Eropa. Pekan lalu, Komisi Eropa memutuskan memperpanjang perintah retensi data yang sebelumnya sudah dikirimkan kepada X terkait algoritma dan penyebaran konten ilegal hingga akhir 2026. Juru bicara Komisi Eropa Thomas Regnier menyatakan perintah itu bertujuan memastikan dokumen dan data terkait dapat diakses bila diperlukan dalam penilaian kepatuhan X terhadap aturan Uni Eropa. 

Dalam laporan Reuters, Komisi Eropa juga memerintahkan X untuk menyimpan seluruh dokumen internal dan data yang berhubungan dengan Grok—chatbot AI yang terintegrasi di X—hingga akhir 2026. Langkah tersebut dikaitkan dengan kekhawatiran soal penyebaran konten melanggar hukum serta bukti yang perlu diamankan dalam rangka pengawasan berdasarkan Digital Services Act (DSA). 

Sorotan Uni Eropa terhadap X juga makin tajam setelah denda besar dijatuhkan pada Desember 2025. Reuters melaporkan, X didenda 120 juta euro (sekitar US$140 juta) karena dinilai melanggar kewajiban transparansi di bawah DSA, termasuk soal model langganan “blue checkmark”, transparansi repositori iklan, serta akses data publik untuk peneliti. 

Musk menanggapi sanksi tersebut dengan nada keras. Reuters menyebut Musk membalas pengumuman Komisi Eropa dengan unggahan bernada makian. Bagi X, isu regulasi ini bukan sekadar administratif—melainkan berpotensi memengaruhi reputasi, kepercayaan pengiklan, dan biaya kepatuhan yang dapat membesar seiring pengawasan berlapis di banyak yurisdiksi. 

Di Prancis, tekanan lain datang dari jalur pidana. Pada 2025, jaksa Paris menyelidiki X terkait dugaan bias algoritma dan dugaan pelanggaran terkait pengolahan data, termasuk kecurigaan penarikan data secara curang dari sistem pemrosesan data otomatis. X menilai penyelidikan tersebut sebagai “penyelidikan kriminal yang didorong motif politik” dan menyebutnya mengancam kebebasan berekspresi pengguna.

Di luar Eropa, X dan ekosistemnya juga mendapat tekanan reputasi akibat kontroversi Grok. Indonesia mengambil langkah tegas dengan memblokir sementara akses Grok pada 10 Januari 2026 karena risiko konten pornografi yang dihasilkan AI. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menekankan, pemerintah memandang praktik deepfake seksual tanpa persetujuan sebagai pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia, martabat, dan keamanan warga di ruang digital. Kementerian juga memanggil perwakilan X untuk membahas persoalan tersebut. 

Reuters melaporkan, Indonesia menjadi negara pertama yang menutup akses ke Grok. Langkah ini terjadi setelah kemarahan global atas keluarnya konten seksual dari fitur tersebut, termasuk konten yang melibatkan anak. Di saat yang sama, xAI—startup di balik Grok—mengatakan pihaknya membatasi fitur pembuatan dan pengeditan gambar hanya untuk pelanggan berbayar sebagai bagian dari upaya memperbaiki celah pengaman yang memungkinkan keluaran konten bermasalah. 

Malaysia kemudian menyusul Indonesia dengan membatasi akses ke Grok. Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia (MCMC) menyatakan pembatasan dilakukan setelah penggunaan berulang kali untuk menghasilkan gambar cabul, eksplisit secara seksual, sangat menyinggung, serta gambar yang dimanipulasi tanpa persetujuan, termasuk yang melibatkan perempuan dan anak-anak. Reuters menyebut pembatasan berlaku sampai xAI menerapkan moderasi yang dianggap efektif. 

Dalam konteks itulah, janji Musk membuka algoritma X dibaca sebagai upaya menambah transparansi saat perusahaan menghadapi badai kepercayaan dan pengawasan. Reuters menyebut Musk akan merilis algoritma baru itu dalam tujuh hari, lengkap dengan kode rekomendasi unggahan organik dan iklan. Musk juga menyatakan rilis pembaruan akan diulang tiap empat minggu, disertai catatan pengembang komprehensif agar publik memahami perubahan yang terjadi.

Dari sisi bisnis platform, keterbukaan algoritma berpotensi memengaruhi dua sisi yang selama ini krusial: pengalaman pengguna dan pendapatan iklan. Di satu sisi, open source bisa menjadi strategi “audit publik” yang memperkuat narasi transparansi. Namun di sisi lain, pembukaan kode juga bisa menimbulkan risiko baru—mulai dari pihak yang mencoba mengeksploitasi sistem rekomendasi, hingga perdebatan soal bagian mana yang benar-benar dibuka dan sejauh mana pembaruan berkala bisa diawasi publik secara efektif. 

Berita Terkait