19 December 2025, 13:55

Microsoft Arahkan Pengguna Windows Tak Pakai Chrome, Kenapa Penyebabnya ?

Microsoft kembali menjadi sorotan setelah sejumlah pengguna Windows 11 melaporkan kemunculan pesan yang mendorong mereka tidak mengunduh Google Chrome

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
2,002
Microsoft Arahkan Pengguna Windows Tak Pakai Chrome, Kenapa Penyebabnya ?
Ilustrasi. Microsoft kembali mengarahkan pengguna Windows tak lagi menggunakan browser Google Chrome. (Foto: AFP/DENIS CHARLET)

Perspektif.co.id - Microsoft kembali menjadi sorotan setelah sejumlah pengguna Windows 11 melaporkan kemunculan pesan yang mendorong mereka tidak mengunduh Google Chrome dan tetap memakai Microsoft Edge, terutama ketika pengguna membuka halaman unduhan Chrome lewat Edge. Dalam salah satu tampilan yang dilaporkan media teknologi, banner itu mengarahkan pengguna untuk memilih Edge dengan alasan keamanan dan privasi, dengan bunyi pesan “Protect your privacy and security with Microsoft Edge.” 

Pendekatan ini dinilai berbeda dari strategi Microsoft sebelumnya yang sering menekankan bahwa Edge dibangun di atas basis Chromium—fondasi yang juga dipakai Chrome—untuk memberi kesan pengalaman serupa. Kini, narasi “kesamaan mesin” tersebut justru ditinggalkan, dan Microsoft lebih menonjolkan Edge sebagai produk dengan perlindungan terintegrasi, mulai dari mode penjelajahan privat, pemantauan sandi, hingga perlindungan ancaman online. 

TechRepublic mencatat, ketika pengguna menekan tombol ajakan bertindak di banner tersebut, mereka tidak sekadar menutup notifikasi, tetapi diarahkan ke halaman khusus keamanan online milik Microsoft—membuat pengalaman itu terasa seperti alur “onboarding” yang sengaja dibangun untuk menahan pengguna agar tetap berada di ekosistem Edge. (TechRepublic) TechRadar juga melaporkan upaya ini muncul pada sebagian pengguna dan masih disebut dalam tahap pengujian, tetapi berpotensi digulirkan lebih luas bila dinilai efektif. 

Langkah Microsoft itu menuai kritik dari Browser Choice Alliance—koalisi pengembang browser yang beranggotakan sejumlah nama besar, termasuk Chrome. Mengutip laporan TechRepublic, aliansi tersebut menilai Microsoft “pushing misleading messages about browsing security” untuk mengganggu pilihan pengguna saat mengunduh browser pesaing. (TechRepublic) Dalam penjelasan resminya, Browser Choice Alliance juga menuding praktik “dark patterns” di Windows membuat pilihan browser tidak benar-benar netral—mulai dari hambatan saat mengunduh browser lain, hingga pesan koersif yang mendorong pengguna “mengembalikan setelan rekomendasi Microsoft.” 

Isu “pilihan browser” ini bahkan pernah merembet ke ranah gugatan dan regulator. Pada Juli 2025, Opera mengajukan keluhan persaingan di Brasil dan menuding Microsoft menggunakan taktik desain manipulatif untuk mendorong Edge, termasuk banner yang menghalangi atau mengganggu pengguna ketika hendak mengunduh browser alternatif. “Microsoft thwarts browser competition on Windows at every turn,” kata Aaron McParlan, penasihat hukum Opera, dikutip The Verge. 

Fenomena promosi browser lewat isu keamanan dan privasi juga mengingatkan pada pola kampanye produsen lain. Apple, misalnya, menonjolkan Safari sebagai peramban yang menahan pelacakan berbasis “fingerprinting”. Dalam penjelasan resminya, Apple menyebut Safari berupaya mencegah pengiklan membuat “fingerprint” perangkat dan “menyederhanakan” konfigurasi sistem agar lebih banyak perangkat tampak serupa bagi pelacak. (Apple) Pada saat yang sama, perdebatan soal fingerprinting kembali memanas setelah regulator Inggris (ICO) merespons perubahan kebijakan Google terkait penggunaan fingerprinting untuk produk iklan—yang menurut ICO harus tetap dipakai secara sah dan transparan. (ico.org.uk)

Di tengah persaingan ini, TechRadar menyoroti bahwa Edge meski sudah lama terpasang default di Windows 11, pangsa pasarnya masih tertinggal jauh dibanding Chrome—faktor yang dinilai ikut mendorong Microsoft makin agresif mempertahankan pengguna. (TechRadar) Hingga kini, belum ada penjelasan rinci dari Microsoft yang secara khusus menanggapi kritik aliansi browser terkait pesan pop-up tersebut, namun dinamika “perang ekosistem” browser diprediksi belum mereda dalam waktu dekat. 

Berita Terkait