03 December 2025, 19:47

Mensos–Mendiktisaintek Sepakat Jamin Beasiswa Lulusan Sekolah Rakyat ke PTN-PTS

ilmu pengetahuan, dan teknologi. Kesepakatan ini menjadi payung hilirisasi lulusan Sekolah Rakyat agar bisa berlanjut ke perguruan tinggi, baik akademik maupun

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
3,022
Mensos–Mendiktisaintek Sepakat Jamin Beasiswa Lulusan Sekolah Rakyat ke PTN-PTS
Foto: Kemensos

JAKARTA, Perspektif.co.id - Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto meneken adendum nota kesepahaman (MoU) soal sinergi bidang sosial dengan pendidikan tinggi, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Kesepakatan ini menjadi payung hilirisasi lulusan Sekolah Rakyat agar bisa berlanjut ke perguruan tinggi, baik akademik maupun vokasi.

“ Hari ini saya benar-benar bahagia, rencana kita untuk MoU akhirnya bisa terwujud,” ujar Gus Ipul dalam keterangannya, Selasa (2/12/2025).

Ia memaparkan, saat ini terdapat lebih dari 6.000 siswa SMA Sekolah Rakyat yang akan lulus pada 2028. Untuk jenjang SD dan SMP, siswa dengan standar akademik tertentu akan diarahkan ke Sekolah Garuda, sementara lainnya melanjutkan ke SMA Sekolah Rakyat.

“Lulusannya ada dua sesuai arahan Presiden. Yang ingin kuliah, hari ini kita kerja sama dengan Mendiktisaintek. Yang ingin bekerja, kita siapkan jalur dengan berbagai kementerian dan sektor swasta,” kata Gus Ipul.

Bagi siswa yang tidak meneruskan ke bangku kuliah, Kemensos menyiapkan skema penyaluran sebagai pekerja terampil, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Kemensos disebut sudah menggandeng Kementerian Ketenagakerjaan dan kementerian terkait lain.

“Untuk lulusan SMA 2028 yang ingin ke pendidikan tinggi, kita mulai dengan tes DNA talent menggunakan teknologi Pak Ary Ginanjar untuk memetakan minat dan bakat mereka,” jelasnya.

Dari hasil uji awal, terdapat beberapa rekomendasi profesi dan bidang keahlian, mulai dari kesehatan, teknik, hingga sektor lain. “Dari 16.000 itu, 37 persen mereka STEM,” ucap Gus Ipul.

Ia menuturkan, simulasi yang dilakukan menunjukkan sekitar 4.000 dari 6.000 siswa berminat melanjutkan ke perguruan tinggi. Bidang studi yang akan dipilih akan diperdalam dalam proses pembinaan berikutnya.

“Intinya, kami ingin lulusan ini bisa kuliah atau bekerja di tempat yang sesuai minat dan bakatnya. Jangan sampai mereka selesai SMA justru menganggur. Itu arahan langsung dari Bapak Presiden,” tegasnya.

Gus Ipul menambahkan, kerja sama ini juga menjadi bentuk konkret penerjemahan gagasan Presiden Prabowo tentang Sekolah Rakyat untuk keluarga di desil 1 dan 2 DTSEN. Sekolah Rakyat saat ini telah beroperasi di 166 titik dari Sabang sampai Merauke.

“Ada yang mulai beroperasi sejak Juli di 63 titik, Agustus bertambah 37 titik, dan terakhir September–awal Oktober di 66 titik,” paparnya.

Secara keseluruhan, Sekolah Rakyat saat ini menampung lebih dari 15.000 siswa tingkat SD, SMP, dan SMA. Di sisi lain, hampir 3.000 guru terlibat, ditambah lebih dari 4.000 tenaga pendidikan lain.

“Secara umum Sekolah Rakyat berjalan baik, walaupun ada dinamika dan tantangan. Tapi semua pelan-pelan bisa kita atasi,” kata Gus Ipul.

Di kesempatan yang sama, Mendiktisaintek Brian Yuliarto menegaskan komitmen perguruan tinggi untuk ikut mengawal mobilitas sosial bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

“Presiden Prabowo dan seluruh rakyat berharap anak-anak dari keluarga tidak mampu bisa mendapat pendidikan layak, lanjut ke perguruan tinggi, dan dibina kariernya,” ujar Brian.

Ia menyebut, ekosistem pendidikan tinggi nasional memiliki kapasitas besar untuk menopang program Sekolah Rakyat. “Kami punya lebih dari 4.000 kampus, hampir 10 juta mahasiswa, dan sekitar 300.000 dosen. Ini aset yang seharusnya ikut berpartisipasi dalam program unggulan Presiden menyiapkan SDM unggul dari keluarga kurang mampu,” jelasnya.

Brian mengungkapkan, sejumlah kampus juga telah diminta menyiapkan lahan dan asrama untuk menunjang operasional Sekolah Rakyat. Ke depan, program pembinaan akan diperluas melalui pola kemitraan langsung antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan Sekolah Rakyat.

“Kami akan memetakan dan memasangkan satu kampus untuk membina satu sampai dua Sekolah Rakyat. Mahasiswa dan dosen akan datang berkala ke sekolah untuk memberikan pembinaan, motivasi, dan kelompok belajar bagi siswa yang ingin melanjutkan ke pendidikan tinggi akademik atau vokasi,” katanya.

Menurut Brian, banyak siswa dari keluarga miskin belum mendapatkan informasi memadai tentang program studi, prospek karier, maupun pilihan jalur pendidikan tinggi. Melalui pembinaan intensif, hal itu diharapkan bisa teratasi.

“Harapannya, calon lulusan Sekolah Rakyat bisa lebih paham program studi di perguruan tinggi dan termotivasi memilih jurusan sesuai minat dan cita-cita,” ujarnya.

Selain menyasar siswa, kampus juga akan membina guru Sekolah Rakyat agar lebih siap menghadapi perkembangan kurikulum dan teknologi.

“Perguruan tinggi akan memperkaya wawasan dan tren teknologi bagi guru-guru. Targetnya, Sekolah Rakyat ini bisa sejajar bahkan menjadi unggulan karena didampingi kampus terdekat,” kata Brian.

Ia menambahkan, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) juga akan dilibatkan lewat program pengabdian masyarakat. Ke depan, BEM tidak hanya memiliki desa binaan, tetapi juga Sekolah Rakyat binaan.

“Kami berharap apa yang dilakukan Kementerian Diktisaintek bersama perguruan tinggi dan mahasiswa bisa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh siswa Sekolah Rakyat,” tuturnya.

Brian menegaskan, pihaknya akan secara berkala melaporkan perkembangan implementasi MoU ini kepada Mensos. “Semoga apa yang kita tandatangani hari ini bisa berjalan efektif untuk membuka jalan anak-anak Sekolah Rakyat menuju pendidikan tinggi dan karier yang lebih baik,” pungkasnya.

Berita Terkait