20 February 2026, 15:04

Lyria 3 Bikin Semua Orang Jadi Komposer Dadakan: Seberapa Canggih Musik AI Google DeepMind?

Lyria 3, model musik AI terbaru Google DeepMind di Gemini, ubah teks dan foto jadi lagu 30 detik lengkap lirik dan vokal.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
893
Lyria 3 Bikin Semua Orang Jadi Komposer Dadakan: Seberapa Canggih Musik AI Google DeepMind?
Ilustrasi modern minimalis Lyria 3: logo AI musik Google DeepMind, warna kompleks, elemen audio, gaya futuristik. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Lyria 3, model musik generatif terbaru dari Google DeepMind, resmi diluncurkan ke publik melalui integrasi langsung di aplikasi Gemini pada Februari 2026 dan segera memicu perdebatan baru tentang masa depan industri musik digital. Model ini dirancang sebagai sistem AI multimodal yang mampu mengubah teks, foto, hingga video menjadi trek musik berdurasi 30 detik lengkap dengan lirik, vokal, aransemen, dan cover art, menjadikannya salah satu eksperimen paling agresif Google dalam membawa AI kreatif ke pengguna umum.

Dalam pengumuman resminya, Google menyebut Lyria 3 sebagai model musik AI “paling canggih” yang pernah mereka rilis, sekaligus evolusi dari generasi sebelumnya yang sebelumnya hanya tersedia di lingkungan eksperimen terbatas dan belum terintegrasi penuh dengan Gemini.

“Lyria 3 adalah alat generasi musik AI kami yang paling maju sejauh ini,” tulis Google DeepMind dalam laman resminya.

Secara teknis, Lyria 3 dirancang untuk menjawab tantangan utama pemodelan musik: audio yang bersifat kontinu, berlapis, dan harus menjaga koherensi dari detik pertama hingga detik ke‑30. Model ini bekerja pada sampel audio 48 kHz, stereo 16‑bit, dan menghasilkan komposisi multi-instrumen dengan vokal yang disintesis secara realistis. Google DeepMind menekankan bahwa Lyria 3 tidak sekadar menyusun loop, tetapi membangun aransemen utuh dari nol berdasarkan niat kreatif yang tertulis di prompt.

“Lyria 3 membantu Anda mengekspresikan, mengeksplorasi, dan bereksperimen dengan musik berkualitas tinggi, menggunakan prompt untuk menciptakan trek dengan alur nada yang alami,” tulis tim Google DeepMind.

Di sisi pengalaman pengguna, Lyria 3 diposisikan sebagai fitur “prompt‑to‑audio” instan di Gemini: pengguna cukup menuliskan ide seperti “slow jam R&B komedi tentang kaus kaki yang menemukan pasangannya” atau mengunggah foto perjalanan, lalu dalam hitungan detik mendapatkan lagu berdurasi 30 detik lengkap dengan lirik dan cover art yang dihasilkan model visual Nano Banana.

“Cukup deskripsikan sebuah ide atau unggah foto, dan dalam beberapa detik Gemini akan menerjemahkannya menjadi trek berkualitas tinggi,” tulis Google dalam blog resminya.

Google menegaskan bahwa Lyria 3 bukan ditujukan sebagai pengganti penuh proses produksi musik profesional, melainkan sebagai alat ekspresi kreatif cepat untuk konten sosial, video pendek, kartu ucapan digital, hingga soundtrack personal. Model ini juga sudah terhubung dengan fitur Dream Track di YouTube Shorts, memungkinkan kreator membuat soundtrack orisinal tanpa harus masuk ke studio atau DAW tradisional.

“Tujuan trek ini bukan menciptakan mahakarya musik, melainkan memberi cara unik dan menyenangkan untuk mengekspresikan diri,” tulis tim produk Gemini dan Google DeepMind dalam pernyataan bersama.

Di balik antarmuka yang sederhana, Lyria 3 berdiri di atas arsitektur yang jauh lebih kompleks. Google DeepMind mengembangkan keluarga model Lyria, termasuk Lyria RealTime dan Magenta RealTime, yang memungkinkan generasi musik interaktif dengan latensi rendah menggunakan koneksi WebSocket dua arah dan sistem autoregresif berbasis potongan audio 2 detik. Pendekatan ini memungkinkan pengguna mengubah gaya, tempo, atau instrumen secara real-time tanpa memutus alur musik.

“Lyria RealTime dirancang untuk generasi musik interaktif secara real-time,” tulis Google DeepMind dalam dokumentasi teknisnya.

Dari sisi fitur, Lyria 3 membawa beberapa lompatan dibanding generasi sebelumnya: kemampuan menghasilkan lirik otomatis, kontrol lebih granular atas gaya vokal, tempo, dan mood, serta kualitas audio yang lebih realistis dan kompleks secara musikal. Pengguna juga dapat menggabungkan input teks dan visual, misalnya mengunggah foto matahari terbenam atau klip perjalanan, lalu meminta soundtrack dengan nuansa yang selaras dengan suasana visual tersebut.

“Lyria 3 menawarkan kontrol kreatif yang lebih luas atas gaya, vokal, dan tempo, dengan kualitas audio yang lebih kaya dan koheren,” tulis Google DeepMind.

Namun, di tengah euforia, muncul pula kritik dan perbandingan dengan kompetitor. Ulasan dari media kripto dan teknologi menilai bahwa meski Lyria 3 menyenangkan dan cukup impresif bagi pengguna baru, model ini masih tertinggal dari pemain seperti Suno dan Udio yang sudah lebih dulu menawarkan durasi lagu lebih panjang, kontrol lebih dalam, dan workflow yang lebih matang untuk kreator musik serius.

“Lyria 3 bekerja, menyenangkan, dan akan mengesankan mereka yang belum pernah mencoba model lain, tapi belum siap menggantikan workflow profesional,” tulis Decrypt dalam ulasannya.

Isu etika dan hak cipta menjadi dimensi penting lain dari Lyria 3. Google menegaskan bahwa model ini tidak dirancang untuk meniru artis tertentu secara langsung, dan jika pengguna menyebut nama musisi, sistem hanya akan menjadikannya inspirasi gaya, bukan menyalin suara atau komposisi. Selain itu, setiap lagu yang dihasilkan disematkan watermark tak kasat mata bernama SynthID untuk menandai bahwa konten tersebut dibuat oleh AI Google, sekaligus memudahkan identifikasi di ekosistem YouTube dan layanan lain.

“Setiap lagu yang dihasilkan Lyria 3 akan disisipkan SynthID agar dapat diidentifikasi sebagai karya AI,” tulis Google dalam blog resminya.

Google juga menyatakan bahwa pelatihan Lyria 3 dilakukan dengan “sangat memperhatikan hak cipta dan perjanjian mitra”, menggunakan konten yang berada dalam cakupan hak penggunaan YouTube dan Google sesuai ketentuan layanan, perjanjian partner, dan hukum yang berlaku. Pernyataan ini muncul setelah laporan sebelumnya menyebut Google pernah melatih model musiknya pada rekaman berhak cipta sebelum kemudian menjalin kesepakatan lisensi dengan pemegang hak.

“Kami berupaya mengembangkan teknologi ini secara bertanggung jawab bersama komunitas musik dan sangat memperhatikan hak cipta serta perjanjian mitra,” tulis Google DeepMind.

Dari sisi ketersediaan, Lyria 3 saat ini dapat diakses pengguna berusia 18 tahun ke atas melalui aplikasi Gemini di Android, iOS, dan web, dengan dukungan berbagai bahasa termasuk Inggris, Jerman, Prancis, Hindi, Jepang, Korea, Spanyol, dan Portugis. Di Indonesia, fitur ini mulai muncul bertahap di akun Gemini dan terhubung dengan ekosistem YouTube, terutama untuk kreator Shorts yang membutuhkan musik orisinal cepat tanpa biaya lisensi rumit.

Bagi industri musik, kehadiran Lyria 3 menandai fase baru di mana AI tidak lagi sekadar alat eksperimental di lab, tetapi menjadi “kolaborator” massal yang bisa diakses siapa saja. Di satu sisi, ini membuka peluang demokratisasi produksi musik—siapa pun bisa membuat soundtrack, jingle, atau lagu pendek hanya dengan ide dan beberapa kalimat. Di sisi lain, pertanyaan besar tentang nilai orisinalitas, kompensasi kreator manusia, dan batas etis penggunaan suara sintetis masih akan terus membayangi setiap iterasi Lyria berikutnya.

Berita Terkait