TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Lonjakan belanja modal untuk infrastruktur kecerdasan buatan memasuki fase paling agresif dalam sejarah industri ketika proyeksi pengeluaran hyperscaler diperkirakan menembus US$527 miliar pada 2026, naik signifikan dari estimasi awal US$465 miliar. Eskalasi ini muncul setelah laporan Goldman Sachs Research menegaskan bahwa perusahaan teknologi besar terus memperluas pusat data, GPU, dan kapasitas komputasi untuk mengejar permintaan AI generatif yang melonjak. Fenomena ini memperkuat pandangan bahwa industri sedang memasuki siklus pembangunan infrastruktur terbesar sejak era ekspansi internet awal 2000‑an.
Dalam laporan tersebut, Goldman Sachs menyoroti bahwa korelasi harga saham antar-hyperscaler kini merosot drastis, menandakan investor mulai membedakan perusahaan yang mampu mengubah belanja modal menjadi pendapatan nyata dari mereka yang hanya membakar modal tanpa arah jelas. Revisi naik terhadap proyeksi capex 2026 terjadi setelah kuartal ketiga 2025 menunjukkan percepatan adopsi AI di sektor korporat dan meningkatnya kebutuhan komputasi untuk model-model besar yang semakin kompleks.
“Kombinasi adopsi AI korporat dan kekhawatiran terhadap kompleksitas infrastruktur AI membuat investor kini lebih fokus pada siapa yang benar‑benar menjadi penerima manfaat berikutnya dari ekspansi besar-besaran ini,” ujar Ryan Hammond, analis Goldman Sachs Research, dalam laporan resmi tim riset.
Di sisi lain, eskalasi belanja ini juga dipicu oleh persaingan agresif antara Amazon, Microsoft, Google, Meta, dan Oracle, yang masing‑masing mendorong investasi hingga puluhan miliar dolar per tahun. Goldman Sachs menyebut 2026 sebagai “tahun transisi” ketika perusahaan tidak lagi sekadar membangun fondasi AI, tetapi mulai dituntut membuktikan model bisnis berbasis AI yang menghasilkan pendapatan nyata.
“Pasar saat ini memberi penghargaan kepada perusahaan yang berani berinvestasi besar, tetapi tetap mempertanyakan apakah pengeluaran raksasa ini akan menghasilkan ROI yang sepadan,” kata Jake Dollarhide, CEO Longbow Asset Management, dalam wawancara terpisah mengenai tren investasi AI global.
Namun, di balik optimisme tersebut, sejumlah analis memperingatkan bahwa pembangunan infrastruktur AI dalam skala raksasa berpotensi menciptakan struktur kekuasaan baru yang sulit dibongkar. Ketergantungan pada pusat data hyperscaler, dominasi chip tertentu, dan konsolidasi akses energi untuk komputasi intensif dapat memperkuat posisi segelintir perusahaan teknologi besar dalam jangka panjang. Kekhawatiran ini mengingatkan pada era ekspansi rel kereta api abad ke‑19 yang menciptakan struktur monopoli bertahan puluhan tahun.
“Ketika infrastruktur dibangun dalam skala seperti ini, kita harus mempertanyakan siapa yang akan mengendalikan arsitektur teknologi global dalam 10 hingga 20 tahun ke depan,” tambah Dollarhide, menyoroti risiko konsentrasi kekuasaan teknologi yang semakin besar.
Meski demikian, sebagian ekonom menilai bahwa apa yang tampak seperti “gelembung AI” justru merupakan fase alami dari pembangunan infrastruktur generasional. Selama perusahaan mampu menghubungkan belanja modal dengan pertumbuhan pendapatan, investor masih melihat peluang jangka panjang—meski volatilitas jangka pendek tak terhindarkan.