11 December 2025, 18:34

Korban Tewas Bencana Sumatra Tembus 990 Orang, 222 Jiwa Masih Dicari

Jumlah korban jiwa akibat banjir bandang dan tanah longsor di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat kembali bertambah.

Reporter: Ihsan Nurdin
Editor: Deden M Rojani
2,893
Korban Tewas Bencana Sumatra Tembus 990 Orang, 222 Jiwa Masih Dicari
Korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, serta Sumatra Barat menjadi 990 jiwa. (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

Perspektif.co.id - Jumlah korban jiwa akibat banjir bandang dan tanah longsor di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat kembali bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, hingga Kamis (11/12), total korban meninggal dunia telah mencapai 990 orang, sementara 222 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Abdul Muhari menyampaikan, penambahan korban meninggal tercatat setelah tim gabungan menemukan 21 jenazah baru pada hari ini.

“Untuk jumlah korban yang ditemukan hari ini sebanyak 21 jasad. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, sehingga jumlah total korban meninggal ini dari 969 jiwa per kemarin 10 Desember menjadi 990 jiwa,” ujar Muhari dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB, Kamis (11/12).

Sementara itu, jumlah korban hilang justru mengalami penurunan setelah dilakukan pemutakhiran data bersama pemerintah daerah. Dari sebelumnya 252 orang, kini menjadi 222 jiwa.

“Pemutakhiran korban hilang ini dari 252 daftar nama pada hari kemarin menjadi 222 nama. Artinya berkurang 30 nama setelah kita rekapitulasi kembali bersama kabupaten/kota,” jelas Muhari.

Penambahan temuan jenazah terbanyak masih berasal dari Aceh. Di provinsi paling barat Indonesia itu, 16 korban baru ditemukan, terutama di Kabupaten Aceh Utara. Adapun di Sumatra Utara, tiga jenazah tambahan ditemukan di tiga wilayah berbeda, masing-masing di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Sibolga.

Di Sumatra Barat, tim di lapangan juga menemukan dua jenazah yang saat ini masih dalam proses identifikasi lebih lanjut.

“Penambahan penemuan jasad korban yang paling banyak itu di Aceh, sebanyak 16 jiwa,” kata Muhari menegaskan.

Secara rinci, BNPB mencatat korban meninggal dunia di Aceh kini mencapai 407 jiwa. Angka tertinggi berada di Kabupaten Aceh Utara yang melonjak menjadi 158 jiwa dari sebelumnya 128 jiwa. Di wilayah ini, jumlah korban hilang tersisa 31 orang, sementara korban luka dilaporkan sekitar 4.300 jiwa.

Di Sumatra Utara, korban meninggal juga mengalami kenaikan menjadi 343 jiwa setelah ada tambahan tiga jenazah yang ditemukan. Rinciannya, korban meninggal di Tapanuli Tengah menjadi 111 jiwa, di Tapanuli Selatan naik menjadi 86 jiwa, dan di Kota Sibolga tercatat 54 jiwa.

Jumlah korban hilang di Sumatra Utara berkurang signifikan dari 128 menjadi 98 orang, seiring proses verifikasi dan pencocokan data lapangan. Di sisi lain, jumlah korban luka di provinsi ini juga meningkat menjadi 698 jiwa.

Adapun di Sumatra Barat, total korban meninggal dunia saat ini mencapai 240 jiwa. Jumlah korban hilang bertambah tiga menjadi 96 jiwa, sementara korban luka tercatat 113 orang.

Secara keseluruhan, tambahan korban jiwa dari tiga provinsi tersebut mengerek angka kematian dari 969 jiwa per Rabu (10/12) menjadi 990 jiwa per Kamis (11/12). Kenaikan ini menunjukkan masih ditemukannya jenazah oleh tim pencari di lapangan, di tengah proses evakuasi dan pencarian yang terus berlangsung.

Di sisi lain, jumlah pengungsi tercatat mulai menurun. BNPB melaporkan, total warga yang mengungsi akibat banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat kini berkurang 9.612 jiwa.

“Untuk jumlah pengungsi dari 894.501 jiwa per kemarin 10 Desember menjadi 884.889 jiwa,” tutur Muhari.

Penurunan jumlah pengungsi ini antara lain dipengaruhi oleh langkah sebagian warga yang mulai kembali ke permukiman yang dinilai relatif aman, serta penataan ulang lokasi-lokasi pengungsian oleh pemerintah daerah dan aparat. Namun, BNPB menegaskan bahwa proses penanganan darurat dan pemulihan tetap berjalan secara paralel.

Fokus pemerintah pusat dan daerah saat ini tidak hanya pada pencarian korban hilang dan penanganan pengungsi, tetapi juga pada pemulihan infrastruktur dasar, pelayanan kesehatan, serta pemulihan psikososial bagi warga yang terdampak berat bencana.

Dengan masih tingginya angka korban tewas dan hilang, BNPB mengingatkan bahwa data tersebut bersifat dinamis dan berpotensi berubah seiring berjalannya proses pencarian, identifikasi, dan verifikasi lanjutan di lapangan.

Berita Terkait