TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Pemahaman manusia tentang nasib akhir kosmos kembali terguncang hari Senin (16/2/2026), setelah tim fisikawan teoritis dari Cornell University merilis hasil kalkulasi terbaru yang menantang model standar kosmologi yang telah bertahan selama dua dekade. Berdasarkan data terbaru dari observatorium Dark Energy yang memetakan jutaan galaksi, para ilmuwan ini mengajukan hipotesis mengejutkan bahwa alam semesta tidak akan mengembang selamanya menuju Big Freeze, melainkan akan mencapai titik balik dan mengalami Big Crunch. Studi yang dipimpin oleh fisikawan Henry Tye ini mengindikasikan bahwa energi misterius yang mendominasi ruang angkasa mungkin tidak bersifat konstan seperti yang diperkirakan Albert Einstein, melainkan dinamis dan berpotensi memicu keruntuhan total struktur ruang-waktu jauh lebih cepat dari prediksi sebelumnya.
Analisis mendalam terhadap fluktuasi Dark Energy ini mengungkap bahwa konstanta kosmologis alam semesta kemungkinan besar bernilai negatif, bukan positif. Implikasi dari temuan ini sangat radikal karena mengubah skenario akhir zaman secara drastis: alih-alih mendingin dalam kegelapan abadi, alam semesta diprediksi akan berhenti mengembang dalam kurun waktu sekitar 11 miliar tahun dari sekarang. Setelah mencapai ukuran maksimumnya pada titik tersebut, gravitasi akan mengambil alih kendali secara mutlak, menarik kembali setiap materi, bintang, dan galaksi ke dalam proses penyusutan yang tak terelakkan hingga semuanya kembali menjadi satu titik singularitas yang sangat padat dan panas.
“Selama 20 tahun terakhir, komunitas ilmiah meyakini bahwa konstanta kosmologis itu positif dan alam semesta akan berekspansi selamanya tanpa henti,” Jelas Henry Tye, fisikawan Cornell University yang memimpin riset ini, dalam pernyataan resminya yang dikutip dari rilis universitas.
“Namun, data terbaru dari Dark Energy Spectroscopic Instrument (DESI) justru menunjukkan indikasi kuat bahwa konstanta tersebut negatif, yang berarti alam semesta pada akhirnya akan menemui ajal dalam sebuah peristiwa Big Crunch yang dramatis.” Lanjut Tye, menegaskan bahwa model matematis mereka kini dapat memprediksi kapan dan bagaimana proses kolaps tersebut akan terjadi.
Temuan ini memberikan perspektif baru yang "mengerikan" sekaligus menakjubkan bagi dunia astronomi, mengingat usia alam semesta saat ini diperkirakan sekitar 13,8 miliar tahun. Jika kalkulasi tim Cornell akurat, maka kosmos sebenarnya baru saja melewati separuh dari total siklus hidupnya yang diperkirakan hanya akan bertahan sekitar 33 miliar tahun. Skenario Big Crunch ini juga memicu kembali perdebatan sengit di kalangan ilmuwan mengenai siklus Big Bounce, di mana runtuhnya alam semesta ini mungkin hanyalah awal dari ledakan Big Bang baru, menciptakan siklus penciptaan dan kehancuran yang abadi tanpa henti.