TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China (MIIT) bersama China Mobile secara resmi mengumumkan terobosan masif dalam uji coba lapangan teknologi 6G pada Februari 2026 ini, yang menandai berakhirnya supremasi 5G di kancah global. Langkah agresif ini dilakukan saat organisasi standar internasional 3GPP dan ITU baru saja memulai fase finalisasi protokol 6G untuk memenuhi tuntutan bandwidth raksasa bagi integrasi AI generatif dan metaverse yang semakin rakus data. Berbeda dengan infrastruktur 5G yang kini mulai kewalahan menangani kepadatan trafik di kota-kota besar, arsitektur 6G buatan China ini dirancang untuk menembus ambang batas throughput hingga 1 terabit per second (Tbps), sebuah lompatan performa yang secara matematis 100 kali lipat melampaui kemampuan puncak 5G yang hanya menyentuh 20 Gbps. Inti dari keunggulan ini terletak pada penggunaan spektrum terahertz (THz) dan teknologi Integrated Sensing and Communication (ISAC), di mana jaringan tidak hanya mengirimkan data tetapi juga berfungsi sebagai radar presisi tinggi untuk memantau pergerakan fisik secara real-time.
"China telah berhasil mengintegrasikan jaringan terestrial dengan konstelasi satelit Low Earth Orbit guna menciptakan cakupan global tanpa celah, yang secara efektif menutup kelemahan jangkauan rural pada era 5G," ungkap Wang Zhiqin, Kepala Tim Promosi IMT-2030 (6G) dalam laporan publikasinya mengenai kemajuan infrastruktur nasional tersebut.
Transformasi radikal ini juga terlihat pada angka latensi yang berhasil ditekan hingga di bawah 0,1 milidetik, jauh mengungguli standar 5G yang masih tertahan di angka 1 milidetik. Penurunan latensi ekstrem ini menjadi fondasi bagi Internet of Senses, sebuah ekosistem digital di mana pengguna dapat mentransmisikan data sensorik seperti tekstur dan aroma melalui jaringan internet dengan sinkronisasi sempurna. China juga memperkenalkan konsep AI-native pada level chipset, yang memungkinkan base station untuk melakukan optimasi energi dan spektrum secara mandiri melalui machine learning. Jika 5G sering dikritik karena konsumsi daya yang boros dan penetrasi sinyal indoor yang lemah, 6G menjawabnya dengan teknologi reconfigurable intelligent surfaces (RIS) dan arsitektur zero-energy IoT yang mampu menghidupkan jutaan perangkat tanpa baterai tradisional. Dengan dimulainya deployment skala terbatas di kawasan ekonomi khusus China pada pertengahan 2026, kompetisi teknologi dunia kini memasuki babak baru di mana konektivitas bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan sistem saraf digital global yang beroperasi secepat kecepatan cahaya.