Perspektif.co.id - Perbincangan hangat muncul di media sosial setelah beredar video seorang pendakwah muda asal Kediri, Gus Elham Yahya, mencium anak-anak di atas panggung saat pengajian.
Rekaman tersebut memicu komentar masyarakat luas, terutama dari aktivis perlindungan anak yang menilai tindakan itu tidak pantas dilakukan di ruang publik apalagi terhadap anak di bawah umur.
Dalam video yang viral, Gus Elham terlihat beberapa kali meminta izin kepada seorang anak perempuan sebelum mencium pipinya. Aksi tersebut dilakukan di hadapan jemaah yang justru menanggapi dengan riuh dan tawa. Namun di media sosial, reaksi warganet jauh berbeda.
Aksi tersebut dinilai tidak hanya bermasalah secara etika, tetapi juga bisa berdampak buruk terhadap cara anak memahami batasan fisik dan rasa aman.
Menanggapi kejadian tersebut, ajakan untuk mengusut kasus ini pun disuarakan secara massif, bahkan sebuah template kampanye digital berisi foto-foto aksi tersebut telah dibagikan ratusan ribu kali. Warga mendesak lembaga negara seperti KPAI, LPAI, Komnas PA hingga Kemenag untuk turun tangan memberikan perlindungan terhadap anak-anak yang terlibat.
Hingga kini, pihak Gus Elham maupun penyelenggara pengajian belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait konteks kejadian dalam video viral tersebut.
Silsilah dan Latar Keluarga Gus Elham Yahya
Nama lengkap pendakwah muda ini adalah Mohammad Elham Yahya Luqman, lahir pada 8 Juli 2001. Ia tumbuh besar di lingkungan pesantren di Desa Kaliboto, Kecamatan Tarokan, Kediri, Jawa Timur—wilayah yang sejak lama dikenal sebagai pusat pendidikan agama.
Berikut silsilah keluarganya:
- Ayah: KH Luqman Arifin Dhofir, pengasuh Pondok Pesantren Al Ikhlas 1 Kediri
- Kakek: KH Mudhofir Ilyas, pendiri sekaligus tokoh sentral di balik berdirinya Pesantren Al Ikhlas
Dengan garis keturunan tersebut, Gus Elham berasal dari keluarga kiai yang telah lama berperan dalam tradisi pendidikan Islam. Ia dikenal aktif berceramah dan mengisi kegiatan keagamaan sejak muda, sehingga memiliki basis pengikut yang cukup besar di media sosial.
Disclaimer
Kasus viral ini menunjukkan bahwa ruang publikbtermasuk pengajianntidak boleh abai terhadap isu perlindungan anak. Terlepas dari latar belakang seseorang, batas fisik dan rasa aman anak tetap harus menjadi prioritas. Publik kini menunggu klarifikasi resmi dari pihak terkait agar peristiwa ini mendapat kejelasan dan dapat menjadi pembelajaran bersama.***