07 December 2025, 05:45

Jalsah Salanah Ahmadiyah 2025 Digelar Serentak di 23 Titik, Dihadiri 24 Ribu Peserta

Secara nasional, panitia mencatat partisipasi kurang lebih 24.000 orang.

Reporter: Deden M Rojani
Editor: Zainur Akbar
3,096
Jalsah Salanah Ahmadiyah 2025 Digelar Serentak di 23 Titik, Dihadiri 24 Ribu Peserta
Acara Jalsah Salanah Jamaat Ahmadiyah digelar di Area Masjid Jami’ Mahmudah Kota Tangerang, Sabtu (6/12).

TANGERANG, Perspektif.co.id - Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) menggelar Jalsah Salanah 2025 secara serentak di 23 titik di seluruh Indonesia. Di Tangerang, pertemuan tahunan yang bersifat terbuka ini berlangsung di lingkungan Masjid Jami Mahmudah, Sabtu (6/12), dan dihadiri sekitar 2.200 peserta. Secara nasional, panitia mencatat partisipasi kurang lebih 24.000 orang.

Juru Bicara JAI, Yendra Budiana, menekankan inklusivitas ajang ini. 

“Jalsah Salanah ini memang menunjukkan terbuka untuk umum, terbuka untuk siapa saja, bukan hanya eksklusif untuk Jamaat Ahmadiyah,” ujarnya kepada wartawan.

Menurut Yendra, kehadiran lintas unsur masyarakat menegaskan ruang dialog yang dibangun penyelenggara. Dari kalangan Nahdlatul Ulama hadir jajaran PCNU Tangerang, GP Ansor, serta tokoh-tokoh lintas organisasi dan agama seperti Ketua Umum YLBHI Muhammad Isnur, Halili Hasan dari Setara Institute, Wakil Ketua Umum Komnas Perempuan Dea, Prof. Najib Ahmad Burhani, hingga Dr. Pendeta Jeki selaku Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia.

Agenda Jalsah Salanah berisi ceramah keagamaan, sosial kemasyarakatan, dan kebangsaan, dengan tujuan memperkuat moral, merajut silaturahmi, sekaligus mendorong kebermanfaatan bagi bangsa. Dalam pembukaan, Amir Nasional JAI, Jaki Firdaus, menyampaikan apresiasi atas dukungan keamanan. Yendra menirukan, 


“Kami mengapresiasi jajaran kepolisian—Mabes Polri, polda, hingga polres—yang telah membantu memastikan acara berjalan aman. Terima kasih juga kepada Kementerian Dalam Negeri dan Presiden Prabowo yang sejak awal telah kami beritahu perihal penyelenggaraan Jalsah melalui Setneg,” ungkap Yendra.

Sejalan dengan semangat kepedulian sosial, panitia mengajak peserta berdonasi untuk korban bencana di Sumatera (Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara). 

“Sejak hari pertama bencana, Humanity First Indonesia turun sebagai relawan membuka dapur umum dan posko konsumsi. Donasi yang terkumpul per 3 Desember sekitar Rp100 juta dan masih berjalan hingga akhir Desember,” jelas Yendra.

Yendra menerangkan, Jalsah Salanah secara harfiah berarti “bertemu dan duduk”—para peserta mengikuti rangkaian ceramah selama tiga hari, dirangkai dengan kegiatan sosial seperti donor darah. Panitia juga menganugerahkan penghargaan bagi putra-putri bangsa berprestasi dan meluncurkan 100 Rumah Belajar di berbagai daerah. 

“Rumah belajar itu bukan untuk Ahmadi saja, tapi untuk semua orang—bagian dari upaya peningkatan literasi pendidikan,” kata Yendra.

Memasuki satu abad keberadaan Ahmadiyah di Indonesia, JAI membawa pesan damai. “Sesuai tagline 100 tahun, kami ingin memancarkan Islam penuh cinta dan kedamaian. Di tengah konten media sosial yang sering dipenuhi kebencian dan prasangka, kami mengajak kembali pada esensi: mencintai dengan tulus, melampaui golongan, etnis, maupun kepentingan,” ucapnya.

Yendra juga meluruskan sejumlah salah paham yang kerap memicu stigmatisasi. Ia menegaskan, rujukan suci Ahmadiyah adalah Al-Qur’an, bukan kitab lain; syahadat dan tata salat sama sebagaimana dipraktikkan umat Islam. 

“Di setiap mimbar masjid kami tertulis ‘Allah’ dan ‘Muhammad’. Kami juga punya program menerjemahkan Al-Qur’an ke lebih dari 100 bahasa agar nilai Islam menjadi rahmat bagi semesta,” tutur Yendra. 

Menurutnya, problem utama adalah rendahnya pengetahuan publik tentang Ahmadiyah, sehingga JAI memilih memperbanyak ruang perjumpaan dan informasi yang jernih, bijak, dan tidak menimbulkan prasangka.

Mengenai tonggak sejarah, Yendra menyebut awal mula Ahmadiyah di Indonesia ditandai masuknya 15 orang pada 25 Desember 1925 melalui mubalig yang dikirim dari Qadian, India. 

“Seabad perjalanan ini kami isi dengan penguatan silaturahmi, karya sosial, dan kontribusi pendidikan,” katanya.

Panitia menegaskan Jalsah Salanah tahun ini juga berlangsung di berbagai titik Jabodetabek selain Tangerang—termasuk Ciledug, Peninggilan, Jakarta, dan Bekasi—sebagai bagian dari penyelenggaraan serentak nasional. 

“Pesan besarnya: mari rawat bangsa ini dengan mencintai manusianya dan alamnya. Hentikan sikap rakus dan perilaku merusak lingkungan. Iman menuntun kita menjaga bumi,” pungkas Yendra.

Berita Terkait