07 March 2026, 17:32

Iran Tiba-tiba Minta Maaf ke Negara Teluk, Tapi Tegaskan Tak Akan Tunduk ke AS dan Israel

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga di kawasan Teluk

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
682
Iran Tiba-tiba Minta Maaf ke Negara Teluk, Tapi Tegaskan Tak Akan Tunduk ke AS dan Israel
Presiden Iran Masoud Pezeshkian / Doc / istimewa

INTERNASIONAL, Perspektif.co.id - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga di kawasan Teluk setelah serangan Iran menjangkau sejumlah wilayah regional di tengah eskalasi perang Timur Tengah. Pernyataan itu menjadi sinyal penting dari Teheran di saat konflik dengan Israel dan Amerika Serikat terus bergerak ke fase yang semakin berbahaya.

Dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah Iran, Pezeshkian menegaskan penyesalan atas dampak serangan yang turut dirasakan negara-negara sekitar. Ia menyebut permintaan maaf itu disampaikan secara pribadi sekaligus mewakili negara. “Saya harus meminta maaf atas nama saya sendiri dan atas nama Iran kepada negara-negara tetangga yang diserang oleh Iran,” ujar Pezeshkian.

Meski menyampaikan penyesalan, Iran pada saat yang sama memberi garis tegas bahwa serangan ke negara-negara tetangga tidak akan berulang kecuali jika ancaman terhadap Teheran datang dari wilayah mereka. Menurut Pezeshkian, keputusan itu telah disepakati dalam pertemuan dewan kepemimpinan sementara yang kini memegang kendali pemerintahan Iran.

“Dewan kepemimpinan sementara kemarin sepakat bahwa tidak akan ada lagi serangan terhadap negara-negara tetangga dan tidak akan ada rudal yang ditembakkan kecuali serangan terhadap Iran berasal dari negara-negara tersebut,” katanya.

Dewan kepemimpinan sementara diketahui mengambil alih arah politik Iran setelah pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas pada pekan lalu dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Peristiwa itu kemudian memicu lonjakan ketegangan besar di kawasan dan mempercepat terbentuknya babak baru perang terbuka di Timur Tengah.

Di tengah upaya meredakan kekhawatiran negara-negara Teluk, Pezeshkian juga menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah kepada tekanan militer Israel maupun Amerika Serikat. Ia menilai tuntutan penyerahan tanpa syarat terhadap rakyat Iran sebagai sesuatu yang mustahil diterima.

“Musuh-musuh Iran harus membawa keinginan mereka untuk penyerahan tanpa syarat rakyat Iran ke kuburan mereka,” tegas Pezeshkian dalam pidatonya pada Sabtu (7/3).

Pernyataan tersebut memperlihatkan dua arah pesan dari Teheran. Di satu sisi, Iran berusaha menenangkan negara-negara sekitar agar konflik tidak meluas lebih jauh ke kawasan Teluk. Namun di sisi lain, pemerintah Iran tetap menunjukkan sikap keras terhadap Washington dan Tel Aviv, dengan menolak segala bentuk tekanan yang dinilai mengarah pada pelemahan kedaulatan negara itu.

Serangan besar-besaran Israel dan Amerika Serikat ke Iran dimulai pada 28 Februari. Sejak saat itu, Iran membalas dengan rentetan rudal dan drone yang menyasar Israel serta kepentingan Amerika Serikat di berbagai titik regional, terutama kawasan Teluk yang selama ini menjadi jalur strategis energi dan perdagangan dunia.

Pernyataan maaf dari Presiden Iran dinilai menjadi bagian dari langkah diplomatik untuk mencegah negara-negara tetangga terseret lebih jauh ke dalam konflik terbuka. Namun, dengan perang yang sudah memasuki pekan kedua dan masing-masing pihak tetap mengedepankan kekuatan militer, situasi kawasan masih jauh dari kata stabil.

Berita Terkait