TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Intel kembali diterpa gejolak besar setelah kepala divisi foundry‑nya, Kevin O’Buckley, resmi hengkang dan bergabung dengan Qualcomm sebagai EVP Global Operations mulai 2 Maret 2026. Kepindahan ini terjadi di tengah upaya Intel memperkuat bisnis foundry dan pada hari yang sama perusahaan mengumumkan kolaborasi AI strategis dengan SambaNova—membuat dinamika internal dan eksternal Intel semakin panas.
Perpindahan O’Buckley menambah daftar panjang eksodus eksekutif senior Intel dalam setahun terakhir, termasuk CSO, CEO of Products, hingga kepala AI. Qualcomm menyebut perekrutan ini sebagai langkah memperkuat rantai pasokan dan operasi global mereka.
“Kevin membawa keahlian operasional yang mendalam, kepemimpinan komersial yang terbukti, dan pengalaman puluhan tahun dalam menskalakan operasi semikonduktor yang kompleks,” ujar Akash Palkhiwala, EVP, CFO, dan COO Qualcomm.
Intel merespons dengan nada diplomatis, menegaskan bahwa Foundry tetap menjadi prioritas strategis tertinggi perusahaan.
“Kami berterima kasih atas kontribusi Kevin O’Buckley… organisasi kini fokus pada eksekusi disiplin dan pengiriman untuk pelanggan,” kata juru bicara Intel.
Di saat yang sama, Intel mengumumkan kemitraan multi‑tahun dengan SambaNova untuk menghadirkan solusi inferensi AI berbasis prosesor Xeon. Intel Capital juga ikut berinvestasi dalam pendanaan Series E SambaNova senilai USD 350 juta—sekitar Rp5,5 triliun. Kolaborasi ini muncul ketika SambaNova memperkenalkan chip SN50, yang diklaim mampu mengungguli GPU Nvidia Blackwell dalam beban kerja AI agentic, dengan SoftBank sebagai pelanggan pertama.
Konteksnya semakin krusial karena Intel sedang mengejar ketertinggalan dalam persaingan AI dan foundry global. O’Buckley sebelumnya memimpin upaya Intel menarik pelanggan eksternal untuk manufaktur chip, namun hasilnya belum signifikan. Kini tongkat kepemimpinan Foundry diserahkan kepada Naga Chandrasekaran, veteran proses manufaktur yang sebelumnya memperluas perannya sejak September lalu.
Kepindahan O’Buckley ke rival langsung seperti Qualcomm mempertegas ketatnya perebutan talenta di industri semikonduktor AS, terutama ketika Intel berusaha mengeksekusi roadmap node 18A dan mengamankan pelanggan besar. Sementara itu, Qualcomm terus memperluas ambisi AI‑nya di perangkat mobile, PC, dan edge—dan kini memperkuat operasi manufakturnya dengan salah satu tokoh kunci eks‑Intel.