25 January 2026, 22:30

Indonesia Dikepung Bencana, 3 Teknologi Deteksi Dini Ini Jadi “Kunci” Kurangi Korban Gempa, Tsunami, hingga Longsor

Di tengah potensi korban jiwa dan kerusakan permukiman yang berulang, teknologi deteksi dini kian dipandang sebagai kebutuhan mendesak

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
984
Indonesia Dikepung Bencana, 3 Teknologi Deteksi Dini Ini Jadi “Kunci” Kurangi Korban Gempa, Tsunami, hingga Longsor
Evakuasi korban bencana tanah longsor di Cisarua. (Foto: ANTARA FOTO/ABDAN SYAKURA)

BANDUNG, Perspektif.co.id - Rangkaian bencana alam yang terjadi di berbagai wilayah kembali menegaskan posisi Indonesia sebagai negara berisiko tinggi terhadap gempa bumi, tsunami, tanah longsor, hingga erupsi gunung api. Di tengah potensi korban jiwa dan kerusakan permukiman yang berulang, teknologi deteksi dini kian dipandang sebagai kebutuhan mendesak—bukan lagi sekadar pelengkap mitigasi. 

Sejumlah pengembangan teknologi kini menawarkan pendekatan berbeda untuk mempercepat peringatan bahaya, mulai dari sistem peringatan gempa berbasis Internet of Things (IoT), perangkat pemantau tsunami di laut dalam, sampai jaringan sensor nirkabel yang dirancang membaca indikasi longsor. Pertama, Earthquake Early Warning System (EEWS) berbasis IoT muncul sebagai opsi yang dinilai lebih terjangkau dibanding sistem konvensional yang mengandalkan sensor kelas atas dan cenderung mahal untuk dijangkau banyak wilayah. Sistem ini memanfaatkan sensor mikro yang ditempatkan di area tertentu—umumnya dekat sumber gempa—untuk mendeteksi gelombang P (gelombang awal) dan mengirimkan peringatan sebelum gelombang S yang lebih merusak tiba. 

Seiring kebutuhan penyampaian informasi yang cepat ke masyarakat, EEWS berbasis IoT juga disebut sudah dirancang dengan deteksi getaran otomatis yang terintegrasi ke tampilan ponsel pintar. Data getaran dikirimkan ke peladen setiap detik sehingga pengguna dapat memantau aktivitas seismik secara real-time selama terhubung internet. BMKG menjelaskan prinsip dasarnya singkat: “Teknologi EEWS memanfaatkan perbedaan waktu kedatangan antara gelombang P dan S.” 

Kedua, untuk ancaman tsunami, sistem Deep-ocean Assessment and Reporting of Tsunamis (DART) menjadi salah satu rujukan penting karena bekerja memantau laut dalam secara real-time. DART dirancang mengukur perubahan tekanan air laut yang sangat kecil di dasar laut, lalu mengirimkan data tersebut ke stasiun pantai untuk dianalisis sebagai dasar peringatan dini. Sistem ini merupakan bagian dari jaringan peringatan tsunami yang dikelola lembaga AS, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), melalui National Data Buoy Center (NDBC). 

Secara teknis, DART terdiri dari dua komponen: Bottom Pressure Recorder (BPR) di dasar laut dan pelampung permukaan (surface buoy). Data tekanan dari BPR dikirim ke pelampung melalui modem akustik bawah laut, lalu diteruskan melalui satelit ke stasiun pantai. Keunggulan DART ada pada kemampuan membaca sinyal dari laut dalam secara presisi; NDBC menyebut BPR “capable of detecting… tsunamis with amplitude as small as 1 cm in 6000 m of water.” 

Ketiga, untuk wilayah rawan longsor—terutama kawasan pegunungan dengan tanah rentan dan curah hujan tinggi—sejumlah peneliti di Indonesia mengembangkan Wireless Sensor Network (WSN) sebagai alat pemantauan dini. Dalam studi kasus di Kota Ambon, WSN dirancang sebagai sistem pemantauan terintegrasi yang memadukan pembacaan getaran dan parameter hujan untuk menangkap indikasi awal longsor secara real-time. 

WSN ini dilengkapi sensor getaran, sensor raindrop, dan sensor water level untuk mengukur intensitas curah hujan, serta memakai klasifikasi curah hujan berdasarkan standar BMKG untuk memprediksi potensi longsor. Saat mendeteksi kondisi berisiko, sistem dapat memicu alarm (buzzer) di lokasi, mengirim notifikasi pesan kepada pihak terkait, dan memperbarui status melalui situs web. Setelah diuji, sistem disebut stabil hingga jarak 80 meter dengan keterlambatan informasi rata-rata 0,051 detik, serta mampu mendeteksi getaran minimal setara 1,2 Skala Richter. 

Di tengah intensitas bencana yang berulang, tiga teknologi ini menunjukkan bahwa mitigasi tidak hanya soal respons setelah kejadian, tetapi juga soal mempercepat “waktu emas” peringatan. Dengan perluasan adopsi dan integrasi ke sistem penanggulangan bencana, ruang untuk meminimalkan risiko korban jiwa dinilai bisa semakin besar. 

Berita Terkait