20 October 2025, 03:24

Gubernur BI Bicara Tegas di Forum IMF: Multilateralisme Obat Krisis Ekonomi Dunia!

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mewakili Indonesia dan menyampaikan tiga strategi utama yang diambil untuk menjaga stabilitas domestik dan global.

Reporter: Redaksi Perspektif
Editor: Deden M Rojani
2,935
Gubernur BI Bicara Tegas di Forum IMF: Multilateralisme Obat Krisis Ekonomi Dunia!
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat bicara di Forum IMF. / Doc: Humas BI

JAKARTA, Perspektif.co.id - Stabilitas ekonomi global dinilai semakin bergantung pada komitmen bersama antarnegara. Pandangan ini mencuat dalam Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank) 2025 yang digelar di Washington D.C., Amerika Serikat, pada 13–18 Oktober 2025.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa ekonomi global menunjukkan ketahanan di tengah berbagai tekanan eksternal. Ia menjelaskan bahwa penguatan semangat multilateralisme dan respons kebijakan yang kredibel telah berhasil menopang pemulihan ekonomi di berbagai kawasan.

“Pertumbuhan global tercatat lebih baik dari estimasi sebelumnya. Ini didorong oleh peningkatan investasi, perdagangan yang tumbuh menjelang penyesuaian tarif, serta redanya dampak ketidakpastian perdagangan,” jelas Ramdan dalam keterangan tertulis, Jumat (18/10/2025).

Meski demikian, Ramdan mengingatkan bahwa prospek jangka menengah masih diliputi risiko, mulai dari proteksionisme, ketimpangan pasar kerja, hingga meluasnya peran institusi keuangan non-bank. Isu lain yang mencuat adalah ketidakpastian dampak teknologi Artificial Intelligence (AI) terhadap produktivitas dan pasar tenaga kerja global.

Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mewakili Indonesia dan menyampaikan tiga strategi utama yang diambil untuk menjaga stabilitas domestik sekaligus mendukung pemulihan global.

“Kami mengedepankan bauran kebijakan moneter, fiskal, dan stabilitas keuangan yang sinergis, mempercepat reformasi struktural seperti hilirisasi SDA dan digitalisasi, serta memperkuat kerja sama dagang dan investasi dengan mitra strategis,” ujar Perry.

Ia menekankan bahwa kerja sama lintas batas lebih efektif dibanding pendekatan sepihak.

“Multilateralisme jauh lebih efektif dibanding unilateralisme dalam mendorong pertumbuhan ekonomi global dan mengatasi ketidakseimbangan,” tegasnya.

Sementara itu, dalam forum G20 yang turut digelar di sela pertemuan IMF–World Bank, para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara anggota menyepakati perlunya penguatan arsitektur keuangan global. Reformasi lembaga keuangan multilateral (Multilateral Development Banks/MDBs) dan penanganan utang negara-negara berkembang menjadi dua isu utama yang dibahas.

Forum G20 juga secara resmi menyerahkan tongkat estafet Presidensi G20 dari Afrika Selatan kepada Amerika Serikat untuk tahun 2026.

Adapun agenda IMF yang dibahas dalam sidang utama mencakup empat pilar kebijakan global. Pertama, pengelolaan fiskal jangka menengah yang disiplin namun tetap berpihak pada belanja sosial. Kedua, menjaga stabilitas harga melalui independensi dan transparansi bank sentral. Ketiga, mitigasi risiko sistemik di sektor keuangan. Keempat, percepatan reformasi struktural untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan berdaya saing.

Seluruh pembahasan tersebut dirangkum dalam Pernyataan Ketua IMFC (IMFC Chair’s Statement), yang akan menjadi acuan IMF dalam menyusun agenda strategis ke depan, termasuk langkah penguatan ketahanan ekonomi global di tengah tingginya volatilitas pasar.

Berita Terkait