TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Platform media sosial X milik Elon Musk membuka penyelidikan mendesak pada Minggu (8/3/2026) setelah chatbot kecerdasan buatan (AI) besutan xAI, Grok, terungkap menghasilkan rentetan konten rasis dan penuh kebencian yang secara eksplisit menyerang agama Islam dan Hindu, serta menistakan sejumlah tragedi olahraga bersejarah di Inggris. Skandal ini meledak setelah Sky News mempublikasikan analisis mendalam yang memperlihatkan bagaimana Grok merespons perintah pengguna untuk menghasilkan komentar “vulgar” tanpa batas, dan hasilnya mencengangkan dunia.
Tim keamanan X disebut tengah bekerja secara mendesak untuk menelusuri sejauh mana peran Grok dalam memproduksi konten bermuatan kebencian tersebut sebagai respons atas permintaan langsung para penggunanya. Penyelidikan ini dipicu oleh temuan bahwa siapa pun dapat memancing Grok agar mengeluarkan pernyataan kasar dan diskriminatif hanya dengan memintanya berbicara secara “vulgar” — sebuah celah moderasi yang kini menuai kecaman dari berbagai penjuru dunia. Hingga berita ini diturunkan, baik X maupun xAI belum memberikan pernyataan resmi kepada publik.
Investigasi jurnalistik Sky News mengungkap bahwa Grok telah menghasilkan balasan penuh penistaan terhadap Islam dan Hindu dengan menggunakan kata-kata kasar bernada rasis. Lebih jauh, chatbot ini juga ditemukan menyebarkan klaim palsu yang menyalahkan suporter Liverpool atas tragedi Hillsborough 1989 — bencana stadion yang merenggut 97 nyawa — serta melontarkan komentar menghina terhadap fans Manchester United terkait kecelakaan pesawat Munich 1958 yang menewaskan 23 orang termasuk delapan pemain. Akun bertema Celtic juga berhasil memancing Grok untuk mengeluarkan komentar menyinggung tragedi Ibrox Stadium 1971.
Merespons konten tentang fans Liverpool, Grok justru memberikan pembelaan diri yang kontroversial dengan menyatakan bahwa pernyataannya tidak termasuk ujaran kebencian menurut hukum Inggris karena fans sepak bola bukan kelompok yang dilindungi undang-undang. Grok bahkan menambahkan bahwa responsnya hanyalah “reaksi berlebihan yang diprompt AI untuk obrolan sepak bola yang vulgar, dalam konteks berbeda” — jawaban yang semakin memperparah kemarahan publik.
Juru bicara Departemen Sains, Inovasi, dan Teknologi Inggris menyatakan kepada Sky News: “Postingan-postingan ini menjijikkan dan tidak bertanggung jawab. Mereka bertentangan dengan nilai-nilai dan keadaban Inggris.”
Pemerintah Inggris juga menegaskan posisinya dengan mengingatkan bahwa layanan AI termasuk chatbot yang memungkinkan pengguna berbagi konten diatur oleh Online Safety Act dan wajib mencegah konten ilegal termasuk ujaran kebencian serta materi kasar di platform mereka. Regulasi ini memberi kewenangan kepada Ofcom — lembaga komunikasi Inggris — untuk menjatuhkan denda hingga 10 persen dari pendapatan global X, atau sekitar £18 juta (sekitar Rp369 miliar), bahkan berpotensi meminta pengadilan untuk memblokir situs sepenuhnya jika terbukti melanggar.
Kontroversi ini bukan yang pertama bagi Grok di tahun 2026. Pada awal tahun, xAI telah membatasi sejumlah fitur pengeditan gambar dan memblokir pengguna di beberapa yurisdiksi dari membuat gambar orang dengan pakaian minim, menyusul tekanan keras dari pemerintah Inggris yang mengancam pelarangan X setelah Grok memproduksi gambar seksual deepfake perempuan yang “ditelanjangi” secara digital. Skandal lain menambah daftar panjang: Anti-Defamation League sebelumnya menyebut Grok menghasilkan balasan antisemit yang dinilai “tidak bertanggung jawab dan berbahaya,” sementara pada Januari 2026 American Federation of Teachers menutup akun X-nya setelah Grok menghasilkan gambar seksual yang melibatkan anak di bawah umur.
Elon Musk sendiri pernah secara terbuka membela pendekatan Grok yang tidak tersaring dengan menyatakan di X bahwa “Hanya Grok yang berbicara kebenaran.” Namun gelombang output ofensif terbaru ini secara telak menguji batas dari filosofi tersebut, di tengah tuntutan hukum dan etika yang semakin ketat dari berbagai regulator global di Malaysia, Indonesia, Uni Eropa, Prancis, dan California yang telah memulai langkah investigasi atau pelarangan terhadap platform ini sejak akhir 2025.