TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Alphabet, induk perusahaan Google, resmi mengumumkan paket kompensasi tiga tahun senilai hingga 692 juta dolar AS atau setara Rp 11,28 triliun untuk CEO-nya, Sundar Pichai, melalui dokumen pengajuan ke Securities and Exchange Commission (SEC) yang dipublikasikan pada Jumat (7/3/2026). Paket yang pertama kali dilaporkan oleh Financial Times ini menjadikan Pichai sebagai salah satu eksekutif korporasi dengan bayaran tertinggi di dunia — namun hampir seluruh nilainya tergantung pada seberapa agresif ia mampu mengubah proyek-proyek ambisius Alphabet menjadi mesin penghasil uang nyata.
Yang membuat kesepakatan ini berbeda dari paket gaji eksekutif Silicon Valley pada umumnya adalah adanya insentif saham yang untuk pertama kalinya secara eksplisit diikat langsung pada dua divisi “Other Bets” Alphabet: Waymo, unit kendaraan otonom perusahaan, dan Wing Aviation, layanan pengiriman drone.
Berdasarkan skema tersebut, Pichai berhak menerima unit ekuitas Waymo dengan nilai target 130 juta dolar AS (Rp 2,12 triliun) yang berpotensi melonjak hingga 260 juta dolar AS (Rp 4,24 triliun) apabila valuasi per unit Waymo tumbuh signifikan dalam tiga tahun ke depan. Sementara itu, Wing menyumbang target 45 juta dolar AS (Rp 733,5 miliar) dengan potensi maksimal 90 juta dolar AS (Rp 1,47 triliun) jika bisnis pengiriman udara itu berkembang sesuai proyeksi — menjadikan total insentif kedua divisi ini mencapai 350 juta dolar AS atau Rp 5,7 triliun.
Komponen terbesar dalam paket ini berasal dari Performance Stock Units (PSU) berbasis kinerja total perusahaan dengan nilai target 126 juta dolar AS (Rp 2,05 triliun), yang dapat meningkat dua kali lipat menjadi 252 juta dolar AS (Rp 4,11 triliun) jika saham Alphabet berhasil melampaui performa mayoritas perusahaan dalam indeks S&P 100. Selain itu, terdapat hibah saham berbasis waktu senilai 84 juta dolar AS (Rp 1,37 triliun) yang akan mencair secara bertahap selama tiga tahun, dengan syarat Pichai tetap menjabat. Gaji pokoknya sendiri tetap bertahan di angka 2 juta dolar AS per tahun — angka yang tidak berubah sejak 2020.
Dewan direksi Alphabet dalam dokumen pengajuan tersebut secara tegas menyebut alasan di balik struktur kompensasi yang tidak lazim ini.
“Menginsentifkan Tuan Pichai untuk mengarahkan upayanya dalam mengembangkan dan menskalakan ‘Other Bets’ Alphabet pada tahap lanjutan, seperti Waymo dan Wing, adalah demi kepentingan terbaik Alphabet dan para pemegang sahamnya,” demikian bunyi pernyataan resmi dalam dokumen SEC Alphabet.
Skema “bet performance units” ini dirancang agar dapat membayar hingga 200 persen dari nilai target, namun tidak menyebutkan pencapaian operasional spesifik yang harus dipenuhi Pichai — sebuah detail yang menarik perhatian sejumlah analis pasar. Pihak Alphabet sendiri menolak berkomentar lebih lanjut ketika dihubungi sejumlah media.
Langkah ini merupakan sinyal tegas bahwa dewan Alphabet tidak lagi memandang Waymo dan Wing sebagai eksperimen laboratorium mahal. Waymo, yang berawal dari proyek riset internal Google pada 2009, kini telah menempuh lebih dari 200 juta mil secara otonom dan beroperasi secara komersial di 10 kota di Amerika Serikat, termasuk Dallas, Houston, San Antonio, dan Orlando — menyelesaikan lebih dari 100.000 perjalanan berbayar setiap minggu. Wing, yang resmi menjadi anak perusahaan mandiri Alphabet sejak 2018, baru-baru ini mengumumkan rencana ekspansi ke lebih dari 270 gerai Walmart pada 2027. Namun kedua divisi tersebut masih menghadapi tantangan regulasi, persaingan ketat, dan pertanyaan besar soal profitabilitas jangka panjang.
Dibandingkan dengan rival sezaman di industri teknologi, angka ini jauh melampaui kompensasi CEO Microsoft Satya Nadella yang mencapai 96,5 juta dolar AS (Rp 1,57 triliun) pada fiskal 2025, maupun CEO Apple Tim Cook yang menerima sekitar 74,3 juta dolar AS (Rp 1,21 triliun) dalam periode yang sama. Ironisnya, popularitas publik Pichai terbilang jauh lebih rendah dibanding para pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin, yang belakangan lebih sering muncul di berita karena pembelian properti mewah di Miami — langkah yang banyak diartikan sebagai respons terhadap rancangan pajak kekayaan California yang menargetkan miliarder dengan kekayaan di atas 1 miliar dolar AS.
Pichai sendiri bukan orang baru di jajaran orang kaya. Bersama sang istri, keduanya tercatat memiliki saham Alphabet senilai hampir 500 juta dolar AS (Rp 8,15 triliun) berdasarkan harga saham terkini, sementara penjualan saham hingga pertengahan 2025 diperkirakan telah menghasilkan sekitar 650 juta dolar AS (Rp 10,6 triliun) tambahan. Kenaikan nilai ini merupakan buah langsung dari pertumbuhan kapitalisasi pasar Alphabet yang melejit dari sekitar 535 miliar dolar AS (Rp 8.720 triliun) saat Pichai pertama menjabat sebagai CEO Google pada 2015, menjadi lebih dari 3,6 triliun dolar AS (Rp 58.680 triliun) saat ini — bahkan sempat menyentuh 4 triliun dolar AS pada Januari lalu. Paket senilai Rp 11,28 triliun ini, dengan demikian, bukan sekadar hadiah atas pencapaian masa lalu, melainkan sebuah taruhan strategis dewan Alphabet bahwa Pichai adalah orang yang tepat untuk mengubah mimpi-mimpi besar perusahaan menjadi lini bisnis yang benar-benar menguntungkan.