Perspektif.co.id - PT Citra Van Titipan Kilat (TIKI) membuka peluang usaha keagenan kurir yang menyasar generasi muda dan pelaku usaha pemula. Lewat skema TIKI Gerai, perusahaan logistik yang telah beroperasi lebih dari lima dekade ini menawarkan model kemitraan yang diklaim mudah dijalankan, modalnya terjangkau, serta didukung sistem operasional dan jaringan distribusi TIKI.
Direktur Utama TIKI, Yulina Hastuti, menyebut industri logistik semakin terbuka seiring pertumbuhan e-commerce, ekspansi UMKM, dan meningkatnya kebiasaan belanja online. Menurutnya, tantangan calon pengusaha muda sering kali bukan soal minat, melainkan kebingungan memilih bisnis yang sistemnya sudah terbukti.
“Generasi muda Indonesia memiliki kreativitas dan energi yang besar untuk membangun usaha. Tantangannya, mereka sering kali bingung mencari bisnis yang sudah terbukti stabil,” ujar Yulina.
Ia menambahkan, melalui program keagenan, TIKI menyiapkan sistem dan dukungan operasional agar mitra bisa fokus mengembangkan gerai.
Panduan sederhana memilih mitra usaha kurir
Bagi calon mitra yang ingin memulai bisnis keagenan, TIKI menekankan beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan, antara lain:
1. Reputasi perusahaan dan rekam jejak layanan
2. Luas jaringan serta kemudahan akses layanan
3. Sistem operasional & teknologi yang mudah dipakai
4. Pelatihan dan pendampingan, termasuk materi promosi
5. Skema investasi yang jelas dan terukur sejak awal
Yulina juga menegaskan, TIKI memandang kemitraan sebagai model bisnis yang tumbuh bersama.
“Kami percaya bisnis waralaba yang sehat adalah bisnis yang memungkinkan perusahaan dan mitra berkembang bersama,” ujarnya.
TIKI menyebut telah memiliki cakupan layanan yang luas, termasuk jaringan distribusi di puluhan kota, ratusan kantor perwakilan, ribuan gerai, serta dukungan ribuan karyawan. Dari sisi kemitraan, TIKI menawarkan modal awal Rp6 juta untuk memulai gerai, serta komisi harian yang diklaim hingga 28% dari omzet.
Salah satu mitra, Safrijal Siregar, bercerita memulai kemitraan pada 2013 dari satu gerai di Kalimalang, Jakarta Timur, lalu berkembang hingga memiliki enam gerai. Ia mengaku memilih bisnis kurir karena kebutuhan pengiriman dinilai akan terus ada, sementara dirinya membutuhkan sistem yang tetap berjalan meski tidak diawasi setiap hari.
“Dukungan dari TIKI sangat terasa mulai dari pelatihan, pendampingan, hingga sistem operasional yang mudah diikuti,” ujarnya.
Di akhir, Yulina menilai pertumbuhan mitra menjadi sinyal peluang industri kurir masih luas.
“Dengan dukungan sistem yang kuat dan jaringan TIKI di seluruh Indonesia, kami ingin semakin banyak generasi muda berani memulai, membangun, dan berkembang bersama TIKI,” tuturnya.***