10 December 2025, 23:12

Diburu Pemblokiran, Komplotan Siber Ramai-ramai Angkat Kaki dari Telegram

Pengetatan pemblokiran terhadap aktivitas ilegal di aplikasi pesan instan Telegram kian masif.

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
3,016
Diburu Pemblokiran, Komplotan Siber Ramai-ramai Angkat Kaki dari Telegram
Kaspersky melaporkan peningkatan pemblokiran aktivitas ilegal di Telegram, memaksa penjahat siber beralih ke platform lain. (Foto: iStockphoto/Oleksandra Troian)

JAKARTA,Perspektif.co.id – Pengetatan pemblokiran terhadap aktivitas ilegal di aplikasi pesan instan Telegram kian masif. Temuan terbaru Kaspersky menunjukkan tekanan itu mulai memaksa para pelaku kejahatan siber meninggalkan platform tersebut dan berpindah ke layanan lain untuk mempertahankan operasi mereka.

Analis Jejak Digital Kaspersky, Vladislav Belousov, menjelaskan selama bertahun-tahun Telegram dipandang sebagai “alat kerja” yang sangat praktis bagi dunia bawah tanah siber. Namun, kondisi itu kini mulai berubah seiring eskalasi penghapusan kanal dan layanan ilegal oleh platform. “Saluran-saluran milik pelaku kejahatan siber memang bisa bertahan lebih lama dibanding beberapa tahun lalu, tetapi lonjakan volume blokir membuat mereka tidak lagi bisa mengandalkan stabilitas jangka panjang,” ujar Belousov, Rabu (10/12).

Ia menggambarkan, dalam banyak kasus, kanal yang berfungsi sebagai etalase maupun pusat layanan bisa lenyap dalam semalam, lalu muncul kembali hanya untuk ditutup lagi beberapa minggu kemudian. Pola ini, menurutnya, membuat membangun “bisnis” ilegal yang berkelanjutan menjadi jauh lebih sulit. “Kami mulai melihat tahap awal migrasi (pelaku) sebagai konsekuensi langsung dari situasi ini,” tegasnya.

Selama ini, kerangka bot di Telegram dan beragam fitur bawaan menciptakan ekosistem yang sangat ramah bagi aktor kriminal. Satu bot saja dapat menangani banyak proses sekaligus: menerima dan menjawab permintaan, memproses pembayaran aset kripto, hingga mengirimkan kartu bank curian, log infostealer, kit phishing, atau paket serangan DDoS kepada ratusan pembeli per hari. Semua itu kerap berjalan otomatis tanpa intervensi langsung dari operator.

Kapasitas penyimpanan file yang praktis tanpa batas dan tanpa kedaluwarsa juga menjadikan Telegram menarik untuk mendistribusikan basis data curian berukuran besar maupun dokumen perusahaan yang disusupi. Dengan fasilitas seperti itu, para pelaku tidak lagi membutuhkan layanan hosting eksternal untuk menampung dump data multi-gigabyte.

Kombinasi otomasi dan kemudahan ini secara alami mendorong model bisnis ber-volume tinggi, harga murah, dan kebutuhan keterampilan rendah. Produk yang diperdagangkan biasanya berupa kartu perbankan, kredensial bocor, data hasil kebocoran, hingga layanan hosting malware. Sementara itu, transaksi bernilai besar dan berisiko tinggi, seperti penjualan kerentanan zero-day, masih cenderung dipertahankan di forum dark web eksklusif yang menjaga reputasi dan akses terbatas.

Dalam risetnya, Kaspersky mengidentifikasi dua tren yang tampak berlawanan terkait aktivitas ilegal di Telegram. Di satu sisi, usia rata-rata saluran bayangan (shadow channel) justru meningkat: proporsi kanal yang mampu bertahan lebih dari sembilan bulan melonjak lebih dari tiga kali lipat pada periode 2023–2024 dibanding 2021–2022. Namun pada saat bersamaan, intensitas pemblokiran yang dilakukan Telegram juga naik tajam.

Data yang dikumpulkan sejak Oktober 2024 menunjukkan jumlah penghapusan kanal ilegal per bulan di titik terendah pun sudah setara dengan level puncak di sepanjang 2023. Tren keseluruhan pada 2025 bahkan terus menanjak. Kondisi ini dinilai efektif mengganggu dan menghambat operasi berbahaya yang mencoba bersembunyi di balik platform tersebut.

Dari perspektif pelaku kejahatan siber, Telegram juga menyimpan sejumlah kerugian teknis. Tidak adanya enkripsi ujung ke ujung (end-to-end encryption / E2E) bawaan untuk seluruh obrolan, sifat infrastruktur yang terpusat, serta kode sisi server yang tertutup membuat mereka tak bisa memverifikasi sepenuhnya cara kerja dan keamanan platform. Keterbatasan ini mendorong sebagian komunitas bawah tanah mempertimbangkan alternatif lain yang dinilai lebih fleksibel dan sulit diawasi.

Kaspersky mencatat, beberapa kelompok kriminal siber yang sudah lama bercokol di Telegram mulai memindahkan aktivitas utama mereka ke platform lain sebagai respons atas gangguan berulang. Di antaranya adalah grup BFRepo yang beranggotakan hampir 9.000 akun, serta operasi malware-as-a-service Angel Drainer. Kedua entitas tersebut dilaporkan mengurangi ketergantungan pada Telegram karena frekuensi pemblokiran yang semakin sering mengganggu jalannya “bisnis”.

Pergerakan ini menjadi indikasi bahwa Telegram tidak lagi menjadi “zona nyaman” mutlak bagi pelaku kejahatan siber seperti beberapa tahun lalu. Sementara itu, bagi otoritas dan peneliti keamanan, migrasi para pelaku ke platform lain membuka babak baru perburuan dan pemetaan ekosistem kriminal digital lintas aplikasi.

Berita Terkait