Perspektif.co.id - Konsol video game seperti PlayStation 5 (PS5) hingga Nintendo Switch 2 berpotensi menghadapi tekanan kenaikan harga pada 2026, seiring membengkaknya biaya chip memori yang terseret arus kebutuhan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Lonjakan permintaan memori untuk pusat data (data center) membuat pasokan komponen untuk perangkat konsumen kian ketat, di tengah pasar gaming yang sudah lebih dulu dibayangi lemahnya daya beli dan dampak gejolak tarif di berbagai negara.
Tekanan utamanya datang dari memori—komponen “tidak glamor” tetapi krusial untuk performa perangkat. DRAM (dynamic random-access memory), misalnya, dipakai luas di PC, ponsel, hingga ekosistem perangkat gaming. Ketika gelombang investasi AI memicu pembangunan data center berskala raksasa, produsen memori mengalihkan kapasitas ke segmen yang marginnya lebih tinggi (termasuk high-bandwidth memory/HBM untuk prosesor AI). Reuters menggambarkan situasi ini sebagai rebutan pasokan lintas industri, bahkan ada pengakuan bahwa “Everyone is begging for supply.”
Dampaknya bukan cuma isu teknis pabrik chip, melainkan ikut merembet ke harga perangkat di pasar. Kepala Greyhound Research, Sanchit Vir Gogia, menilai krisis memori ini sudah naik level menjadi risiko yang lebih luas karena “the memory shortage has now graduated… to a macroeconomic risk,” ketika kebutuhan fisik pasokan bertabrakan dengan kemampuan rantai pasok memenuhinya.
Di level angka, Counterpoint Research memperkirakan harga memori—baik yang “legacy” maupun yang lebih canggih—berpotensi naik sekitar 30% hingga kuartal IV-2025 dan bisa bertambah sekitar 20% lagi pada awal 2026. Kenaikan biaya tersebut membuka peluang terjadinya “sticker shock” di berbagai perangkat konsumen, termasuk kategori yang sensitif harga seperti konsol dan PC gaming.
TrendForce menilai tekanan biaya memori berisiko menggerus ruang diskon dan strategi harga produsen konsol. Dalam risetnya, TrendForce memproyeksikan porsi biaya memori dalam struktur biaya perangkat keras konsol dapat naik signifikan pada 2026. Untuk Nintendo Switch 2, kebutuhan memori yang lebih besar disebut ikut mendorong harga ritel peluncuran—dengan asumsi tertentu—di kisaran US$450, dan porsi memori diperkirakan dapat mencapai sekitar 21%–23% dari total biaya perangkat keras pada 2026.
Tekanan yang sama juga membayangi lini konsol “bongsor” dari Sony dan Microsoft. TrendForce memperkirakan, jika kapasitas memori ditingkatkan untuk kebutuhan performa (misalnya untuk menjaga kelancaran grafis, waktu muat, dan stabilitas sistem), maka biaya memori pada perangkat bisa membengkak—bahkan disebut dapat menembus lebih dari 35% dari total biaya komponen pada 2026. Kondisi ini dinilai dapat membuat produsen konsol semakin sempit ruangnya untuk menahan harga tetap stabil, terutama bila strategi mereka selama ini mengandalkan margin perangkat keras yang tipis dan mengejar monetisasi dari ekosistem (gim, langganan, layanan).
Dari sisi pasar, TrendForce juga merevisi proyeksi pengiriman (shipment) konsol global pada 2026. Alih-alih tumbuh, pasar konsol dunia diperkirakan justru bisa turun sekitar 4,4% (YoY) pada 2026, lebih buruk dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan penurunan sekitar 3,5%. Menurut TrendForce, kombinasi kenaikan biaya komponen, ketidakpastian ekonomi, dan sensitifnya permintaan terhadap harga bisa menjadi “rem” tambahan bagi industri.
TrendForce mengingatkan, gangguan pasokan komponen dan lonjakan biaya bukan hal baru bagi produsen konsol. Pada era krisis semikonduktor sebelumnya, Sony sempat menurunkan target produksi PS5 (disebut dari 16 juta unit menjadi 15 juta unit pada periode terkait), sementara Nintendo pernah memangkas proyeksi penjualan Switch di tengah keketatan komponen dan kondisi pasokan. Rekam jejak ini memperlihatkan, ketika rantai pasok “menciut”, keputusan harga dan produksi sering kali ikut menyesuaikan.
Di sisi lain, Reuters mencatat inventori pemasok DRAM sempat turun tajam—menjadi hanya hitungan minggu pada periode tertentu—yang menegaskan betapa ketatnya pasokan komponen inti tersebut saat permintaan melonjak. Dengan pembangunan pabrik baru yang memakan waktu panjang, ketidakseimbangan permintaan-pasokan berisiko bertahan lebih lama dibanding siklus kenaikan harga jangka pendek.
Bagi konsumen, sinyalnya cukup jelas: jika biaya memori terus menanjak dan produsen memprioritaskan pengapalan untuk pusat data, maka konsol generasi berjalan maupun generasi berikutnya bisa lebih sulit “murah” lewat diskon, bundling agresif, atau penurunan harga resmi. Sementara bagi industri, tekanan biaya di komponen kunci seperti memori dapat menjadi faktor penentu kapan produsen berani meluncurkan model baru, meningkatkan spesifikasi, atau justru memperpanjang umur produk agar tidak terpukul biaya komponen.