Perspektif.co.id - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara akhirnya membeberkan opsi sumber pendanaan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk untuk merealisasikan rencana pembelian 50 unit pesawat Boeing. Rencana belanja armada itu mencuat setelah komitmen pembelian pesawat pabrikan Amerika Serikat (AS) tersebut tercantum dalam kesepakatan dagang strategis Indonesia–AS yang ditandatangani pekan lalu.
Managing Director Stakeholder Management and Communications Danantara, Rohan Hafas, mengatakan pembahasan pendanaan masih berjalan dan belum mengerucut ke satu skema tunggal. Menurutnya, ada sejumlah opsi yang dibuka, mulai dari dukungan modal Danantara, pemanfaatan modal usaha dari kinerja bisnis Garuda, hingga skema pembelian secara kredit yang pembayarannya dapat dicicil.
Danantara, kata Rohan, tidak menutup kemungkinan pembelian dilakukan melalui supplier’s credit. Artinya, pembayaran dapat dilakukan bertahap langsung kepada Boeing sebagai pemasok. Alternatif lainnya adalah pembiayaan dari kreditur perbankan, tergantung negosiasi yang akan dilakukan dalam tahap berikutnya. “Sources of fund itu kan bisa macam-macam ya. Tadi cuma nyebut dua kan. Supplier’s credit juga ada kan. Ke Boeing kita juga bisa nyicil. Something like that, itu semua negosiasi yang nanti harus dilakukan. Krediturnya kan bisa bank juga. Kan bisa dikredit juga pesawat,” ujar Rohan dalam diskusi di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Kamis (26/2).
Meski opsi pendanaan mulai dipetakan, Rohan menegaskan pembahasan dengan Boeing saat ini masih berada pada tahap pemesanan dan kepastian produksi. Problem paling krusial, menurut Danantara, justru berada pada waktu tunggu pengiriman pesawat yang sangat panjang. Ia menyebut antrean pengiriman pesawat baru bisa memakan waktu hingga sekitar tujuh tahun, sehingga pemilihan tipe armada dan skema pengadaan harus disesuaikan dengan realitas kapasitas produksi pabrikan.
“Semua kendalanya cuma satu, delivery time. Bukan masalah memilih jenis saja. Delivery time. Mau milih jenis pesawat yang mana kalau delivery time-nya juga nggak segera, kita mesti putar otak dulu kan,” ungkapnya.
Danantara dan Garuda, lanjut Rohan, menyatakan minat dan komitmen untuk membeli 50 pesawat. Namun, hingga kini Boeing belum memberi jawaban final terkait jumlah unit yang bisa diproduksi dan dikirim dalam horizon waktu tertentu. “Kita siap membeli 50. Cuma Boeing belum menjawab atau akan menjawab dia mampunya 10 kah, 20 kah, itu belum,” kata Rohan.
Isu pengadaan armada Garuda ini ikut tersambung dengan paket komitmen perdagangan dan investasi Indonesia–AS yang tertuang dalam Agreement on Reciprocal Trade (ART). Sejumlah laporan menyebut kesepakatan tersebut memuat komitmen pembelian produk AS bernilai puluhan miliar dolar, termasuk komponen dirgantara yang mengacu pada pembelian pesawat Boeing.
Dalam pemaparan yang beredar di ruang publik, nilai komitmen Indonesia dalam ART disebut mencapai US$33 miliar atau setara sekitar Rp556,9 triliun (asumsi kurs Rp16.880 per dolar AS). Rinciannya meliputi impor energi/migas dari AS sebesar US$15 miliar per tahun, pembelian pesawat komersial dan barang dari AS—termasuk Boeing—senilai US$13,5 miliar, serta pembelian produk pertanian AS lebih dari US$4,5 miliar.
Bagi Danantara, pembiayaan pengadaan armada ini tak bisa dipisahkan dari kehati-hatian memilih struktur pendanaan yang paling memungkinkan bagi maskapai pelat merah tersebut. Pasalnya, skema kredit pembelian pesawat umumnya mensyaratkan jadwal pembayaran ketat dan profil arus kas yang stabil. Di sisi lain, faktor delivery time yang panjang membuat Garuda perlu menyusun strategi transisi armada—antara kebutuhan operasional jangka pendek dan rencana ekspansi atau pembaruan armada jangka panjang—agar tidak terjadi “kesenjangan kapasitas” di tengah pemulihan bisnis penerbangan.
Di level teknis, Danantara menyampaikan bahwa diskusi masih membuka ruang untuk kombinasi beberapa instrumen, bukan sekadar memilih satu sumber dana. Suntikan modal dapat menjadi opsi bila diperlukan untuk memperkuat struktur permodalan, sementara penggunaan modal usaha dari hasil bisnis Garuda akan sangat bergantung pada capaian kinerja dan ruang kas perusahaan. Sementara itu, supplier’s credit atau pembiayaan perbankan dapat menjadi “jembatan” agar rencana pembelian tetap berjalan meskipun investasi besar dilakukan bertahap.
Namun, sekali lagi, Danantara menekankan bahwa semua opsi pada akhirnya akan kembali pada negosiasi dengan pabrikan dan kesiapan pasokan pesawat. Rohan menyiratkan, meski komitmen pembelian sudah ada, realisasi fisik armada tetap akan ditentukan oleh jadwal produksi dan slot pengiriman yang tersedia—yang saat ini menjadi tantangan global industri pesawat komersial.