15 February 2026, 19:25

Cincin Api Gerhana Matahari 17 Februari 2026: Indonesia Hanya Bisa Nonton Live, Antartika Jadi Saksi Utama!

Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026 hanya terlihat sebagai cincin api di Antartika. Indonesia tak bisa saksikan langsung, tapi nonton live NASA di sini!

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
859
Cincin Api Gerhana Matahari 17 Februari 2026: Indonesia Hanya Bisa Nonton Live, Antartika Jadi Saksi Utama!
Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026 atau Ring of Fire di atas Antartika. Fenomena langka cincin api yang hanya terlihat di wilayah selatan Bumi. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Fenomena astronomi langka berupa gerhana matahari cincin atau yang populer disebut “cincin api” akan melintasi Bumi pada Selasa, 17 Februari 2026. Peristiwa ini menjadi gerhana matahari pertama di tahun tersebut, di mana Bulan berada pada posisi apogee atau titik terjauh dari Bumi, sehingga ukurannya tampak lebih kecil dan tidak mampu menutupi seluruh permukaan Matahari.

Gerhana ini dipicu oleh konfigurasi sempurna antara Bumi, Bulan, dan Matahari yang berada dalam satu garis lurus, dengan magnitudo 0,963 menurut data NASA. Puncak annularity atau fase cincin api diperkirakan berlangsung selama 2 menit 20 detik, ketika Bulan menutupi hingga 96 persen cakram Matahari dan menyisakan lingkaran cahaya terang di tepinya.

Jalur utama gerhana hanya melintasi wilayah terpencil di Antartika dan sebagian Samudra Selatan, membuatnya sulit diakses oleh manusia biasa. Gerhana parsial, di mana Matahari tertutup sebagian, akan terlihat di ujung selatan Amerika Selatan seperti Argentina dan Chile, serta Afrika Selatan termasuk Afrika Selatan, Mozambik, dan Madagaskar.

“Annularity akan terlihat hanya di atas Antartika, sementara gerhana parsial mencakup area yang lebih luas di belahan Bumi selatan,” demikian pernyataan resmi dari tim eclipse di NASA Goddard Space Flight Center.

Fenomena ini terjadi pada pukul 09:56 UTC untuk awal fase parsial, mencapai puncak pada 12:12 UTC atau sekitar pukul 19:12 WIB, dan berakhir pada 14:27 UTC. Di Indonesia, waktu puncak ini jatuh saat Matahari sudah terbenam, sehingga tidak ada peluang pengamatan langsung dari wilayah Nusantara.

“Gerhana matahari cincin 17 Februari 2026 tidak akan terlihat dari Indonesia karena berada di luar jalur visibilitas utama,” kata Avivah Yamani, astronom dari komunitas Langit Selatan Bandung, yang menganalisis data efemeris VSOP87.

Observatorium Bosscha ITB juga menegaskan hal serupa, sekaligus menyebut bahwa hari itu hilal untuk penentuan awal Ramadhan 1447 H tidak akan terlihat karena posisi Bulan sudah di bawah ufuk saat matahari terbenam.

Bagi yang ingin menyaksikan, lembaga seperti NASA dan TimeandDate.com akan menyediakan siaran langsung melalui situs resmi mereka, memungkinkan jutaan orang di seluruh dunia termasuk Indonesia untuk ikut merasakan keajaiban kosmik ini tanpa harus ke ujung dunia.

Berita Terkait