JAKARTA, Perspektif.co.id - Prediksi Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah mulai mengemuka seiring mendekatnya akhir Ramadan. Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, memperkirakan 1 Syawal 1447 H berpotensi jatuh pada 21 Maret 2026. Proyeksi tersebut disusun berdasarkan perhitungan astronomi, khususnya terkait posisi hilal saat waktu magrib di kawasan Asia Tenggara.
Menurut Thomas, secara astronomi posisi hilal pada Kamis, 19 Maret 2026 saat magrib di wilayah Asia Tenggara belum memenuhi ambang batas kriteria baru MABIMS. Kondisi itu menjadi dasar kuat mengapa awal Syawal diperkirakan baru berlangsung sehari setelahnya. Dalam penjelasannya, kurva perhitungan posisi hilal masih melintasi kawasan Asia Tengah, sehingga belum sesuai dengan standar yang dipakai negara-negara anggota MABIMS.
"Fakta astronomi, pada saat Maghrib 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara, hilal belum memenuhi kriteria baru MABIMS, ditunjukkan pada kurva kuning yang melintasi Asia Tengah," kata Thomas Djamaluddin kepada wartawan, Selasa (10/3/2026).
Sebagai informasi, kriteria MABIMS yang mulai digunakan sejak 2021/2022 menetapkan bahwa awal bulan Hijriah dapat diberlakukan apabila tinggi hilal telah mencapai minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Dua parameter tersebut menjadi acuan dalam menentukan visibilitas hilal di sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Dengan merujuk pada ketentuan itu, Thomas menilai awal bulan Syawal 1447 Hijriah berpeluang jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa prediksi astronomi tersebut belum bersifat final karena penetapan resmi Hari Raya Idul Fitri tetap menjadi kewenangan pemerintah melalui sidang isbat yang digelar Kementerian Agama.
"Maka 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada 21 Maret 2026, akan menunggu keputusan sidang isbat," ujarnya.
Lebih lanjut, Thomas juga mengungkapkan bahwa terdapat kemungkinan hasil berbeda apabila penentuan awal Syawal menggunakan pendekatan lain. Dalam hal ini, ia menyinggung kriteria Kalender Hijriah Global Tunggal atau KHGT, yang menurutnya menunjukkan posisi bulan telah memenuhi syarat untuk memasuki 1 Syawal lebih cepat.
Menurut dia, berdasarkan pendekatan KHGT, posisi bulan pada saat itu sudah sesuai dengan ketentuan yang dipersyaratkan. Selain itu, ijtima atau konjungsi juga telah terjadi sebelum fajar di Selandia Baru. Faktor tersebut membuat awal Syawal berdasarkan sistem KHGT berpotensi jatuh lebih dulu dibandingkan hasil perhitungan dengan kriteria MABIMS.
"Sedangkan menurut kriteria KHGT (kurva ungu), posisi bulan telah memenuhi kriteria dan ijtima' telah terjadi sebelum fajar di Selandia Baru (ada catatan kecil di peta ini)," jelas Thomas.
Atas dasar itu, Thomas menyebut bahwa jika menggunakan acuan KHGT, maka 1 Syawal 1447 Hijriah dapat jatuh pada 20 Maret 2026. Perbedaan satu hari ini menunjukkan bahwa penetapan Idul Fitri memang sangat dipengaruhi oleh metode hisab dan kriteria astronomi yang digunakan dalam membaca posisi hilal.
"Maka menurut kriteria KHGT 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada 20 Maret 2026," imbuhnya.