09 March 2026, 00:14

Bos Google Ngaku Tak Tahu Masa Depan Search: AI Agent Bisa Gantikan Manusia Jelajahi Internet

Bos Search Google Liz Reid akui AI agent bisa jadi pengguna utama internet, gantikan Search & Gemini. Simak pernyataan mengejutkan dari podcast Access 2026.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
319
Bos Google Ngaku Tak Tahu Masa Depan Search: AI Agent Bisa Gantikan Manusia Jelajahi Internet
Ilustrasi AI agent menggantikan pengguna manusia di internet, simbol pergeseran Google Search menuju era kecerdasan buatan menurut Liz Reid, Alphabet 2026. (AI Generated by: Perspektif.co.id)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Liz Reid, Wakil Presiden sekaligus Kepala Divisi Search Google dari induk perusahaan Alphabet, melontarkan pernyataan yang mengejutkan industri teknologi global saat tampil dalam podcast Access bersama jurnalis Alex Heath dan Ellis Hamburger yang dirilis pada 6 Maret 2026 di YouTube. Di tengah tekanan kompetisi dengan ChatGPT dan melonjaknya adopsi kecerdasan buatan di seluruh dunia, Reid secara terang-terangan mengakui bahwa Google belum menentukan ke mana arah jangka panjang produk andalannya—sebuah kejujuran yang jarang terdengar dari petinggi perusahaan bernilai triliunan dolar itu.

Reid memproyeksikan bahwa masa depan internet tidak lagi sepenuhnya digerakkan oleh manusia yang mengetik kueri di kolom pencarian. Ia meyakini bahwa agen-agen kecerdasan buatan akan segera menjadi pengguna utama web, berinteraksi satu sama lain dalam ekosistem yang jauh lebih otomatis dibandingkan hari ini—sebuah pergeseran fundamental yang berpotensi mendefinisikan ulang cara Google Search dan Gemini beroperasi, bahkan bisa melahirkan produk ketiga yang belum punya nama.

“Saya yakin akan ada dunia di mana agen melakukan banyak interaksi di internet, bukan hanya orang,” ujar Reid dalam wawancara tersebut.

Meski begitu, Reid menolak skenario ekstrem di mana internet sepenuhnya dikuasai mesin tanpa keterlibatan manusia. Ia menegaskan bahwa keinginan manusia untuk terhubung dengan sesama tidak bisa begitu saja digantikan oleh sistem otomatis, sebuah argumen yang sekaligus menjadi landasan Google mempertahankan relevansi blue link di era AI Overviews.

“Saya pribadi tidak percaya pada dunia di mana semuanya adalah agen. Orang-orang terkadang ingin mendengar langsung dari orang lain,” tambahnya.

Pertanyaan paling krusial yang menggantung di industri—apakah Google Search dan Gemini akan bergabung menjadi satu produk—dijawab Reid dengan kerendahan hati yang tak biasa. Kepada dua jurnalis yang mewawancarainya, ia mengakui ketidakpastian ini bukan kelemahan strategis, melainkan cerminan dari betapa cepatnya lanskap AI berubah sejak kemunculan GPT-4 dan lonjakan adopsi model bahasa besar di seluruh dunia pada 2023 hingga 2025.

“Saya tidak tahu jawabannya adalah jawaban singkat. Saya pikir apa yang kita lihat adalah beberapa area mereka lebih banyak bertemu dan beberapa area mereka lebih banyak menyimpang,” kata Reid blak-blakan.

Reid juga menyinggung rencana Google menghadirkan hasil pencarian yang subscription-aware—fitur yang akan mempersonalisasi konten berdasarkan layanan berlangganan yang dimiliki pengguna. Selain itu, kemajuan model AI multimodal kini memungkinkan Google mengindeks konten audio dan video jauh lebih dalam dari sebelumnya, membuka dimensi baru dalam cara mesin pencari memahami dan menyajikan informasi dari seluruh penjuru web.

Soal persaingan dengan ChatGPT yang pangsa pasarnya telah melorot dari 86,6 persen ke 64,6 persen sepanjang 2025, Reid menolak narasi bahwa ini adalah pertarungan zero-sum. Data internal Google menunjukkan volume pencarian secara keseluruhan justru terus tumbuh, dipicu oleh kebiasaan baru pengguna yang semakin sering mengajukan pertanyaan lebih panjang, lebih kompleks, dan lebih kontekstual berkat kehadiran AI. Kueri di AI Mode, misalnya, tercatat dua hingga tiga kali lebih panjang dibandingkan pencarian konvensional.

“Saya pikir apa yang kita lihat secara bersamaan orang-orang mengadopsi lebih banyak alat dan pencarian semakin meningkat, karena kemungkinan teknologi hanya memungkinkan lebih banyak pertanyaan,” tegasnya, seraya membandingkan momen ini dengan revolusi mobile yang sempat dikhawatirkan akan menggerus dominasi Google di era desktop—namun nyatanya justru memperkuat posisi perusahaan.

Pernyataan Reid muncul di saat yang sangat sensitif bagi ekosistem publisher digital global. Sebuah grafik yang viral pekan ini memperlihatkan bahwa berbagai publikasi teknologi besar kehilangan mayoritas traffic dari Google sejak perusahaan meluncurkan AI Overviews secara masif. Reid mengakui bahwa setiap pembaruan algoritma selalu menghasilkan pemenang dan pecundang, namun ia bersikeras bahwa pergeseran ini sebagian besar digerakkan oleh perilaku pengguna—bukan semata-mata oleh keputusan algoritmik Google—dengan generasi muda yang kini lebih memilih forum, video pendek, dan konten kreator dibandingkan artikel dari penerbit arus utama.

Berita Terkait