04 April 2026, 18:55

BMKG Peringatkan Kemarau 2026 Lebih Awal dan Lebih Kering, 64,5% Wilayah Indonesia Masuki Kondisi Kritis

BMKG prediksi kemarau 2026 lebih awal, kering, dan panjang. La Niña berakhir Februari 2026, El Niño mengancam. Puncak Agustus, 64,5% wilayah kritis.

Reporter: Hasida Kuchiki
Editor: Deden M Rojani
397
BMKG Peringatkan Kemarau 2026 Lebih Awal dan Lebih Kering, 64,5% Wilayah Indonesia Masuki Kondisi Kritis
Peta prediksi awal musim kemarau 2026 di Indonesia berdasarkan Zona Musim (ZOM) yang dirilis BMKG. Sebagian besar wilayah diprediksi memasuki kemarau lebih awal mulai April hingga Juni 2026.​​​​​​​​​​​​​​​​ (foto: BMKG)

TEKNOLOGI, Perspektif.co.id — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerbitkan prediksi resmi musim kemarau 2026 yang memuat sinyal peringatan serius bagi seluruh wilayah Indonesia, setelah fenomena La Niña Lemah yang menjadi penyangga curah hujan nasional secara resmi dinyatakan berakhir pada Februari 2026.

Berdasarkan dokumen prediksi yang dipublikasikan di situs resmi bmkg.go.id pada 10 Maret 2026 dan disampaikan dalam konferensi pers pada 4 Maret 2026 di Jakarta, sebanyak 451 Zona Musim (ZOM) atau setara 64,5% wilayah Indonesia diprediksi mengalami akumulasi curah hujan di bawah kategori normal selama musim kemarau berlangsung. Kondisi ini merupakan konsekuensi langsung dari berakhirnya La Niña Lemah yang telah aktif sejak Oktober 2025 dan berakhir pada Februari 2026.

Tanpa penyangga La Niña, iklim Indonesia bergeser ke fase netral dengan indeks ENSO tercatat di angka -0,28 — jauh dari zona basah yang selama ini menahan laju kekeringan di kepulauan Indonesia. Situasi ini memposisikan ratusan juta penduduk Indonesia pada ambang babak iklim baru yang berpotensi jauh lebih kering dibandingkan dua musim kemarau terakhir.

BMKG menjelaskan bahwa pemicu utama percepatan musim kemarau 2026 adalah peralihan arah angin dominan dari Monsun Asia atau angin baratan menuju Monsun Australia atau angin timuran, yang menjadi penanda meteorologis klasik dimulainya musim kering di kepulauan Indonesia. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengungkapkan bahwa hasil pemantauan anomali iklim global di Samudera Pasifik menempatkan indeks ENSO pada kategori netral yang diproyeksikan bertahan hingga Juni 2026, namun yang lebih mengkhawatirkan adalah proyeksi berikutnya.

Peluang kemunculan El Niño kategori lemah hingga moderat pada semester kedua 2026 diperkirakan berada di kisaran 50 hingga 60 persen — skenario yang berpotensi memperburuk kekeringan secara signifikan. Sementara itu, Indian Ocean Dipole (IOD) diproyeksikan tetap pada fase netral sepanjang tahun dan tidak memberikan kontribusi berarti terhadap penambahan curah hujan nasional. Kombinasi faktor atmosfer inilah yang mendasari seluruh proyeksi BMKG terkait musim kemarau 2026 sebagai musim kering yang lebih ekstrem dan lebih panjang dari normalnya.

“La Niña lemah yang berlangsung sejak Oktober 2025 telah berakhir pada Februari tahun 2026,” kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam konferensi pers yang ditayangkan melalui kanal YouTube BMKG, Rabu (4/3/2026).

Mengacu pada pemetaan Zona Musim yang menjadi basis analisis BMKG, musim kemarau 2026 diprediksi merambah Indonesia secara bertahap mulai dari kawasan Nusa Tenggara sebagai titik awal, kemudian menyebar secara progresif ke wilayah-wilayah lain di seluruh nusantara. Sebanyak 114 ZOM atau 16,3% wilayah Indonesia diproyeksikan memasuki musim kemarau pada April 2026, mencakup pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta sebagian kecil Kalimantan dan Sulawesi sebagaimana dirinci dalam siaran pers resmi BMKG.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan merinci bahwa 184 ZOM atau 26,3% wilayah menyusul masuk musim kemarau pada Mei 2026, dan 163 ZOM atau 23,3% pada Juni 2026 — menjadikan Mei sebagai bulan dengan penambahan cakupan kemarau terbesar secara nasional. Secara kumulatif, lebih dari dua pertiga wilayah Indonesia telah berada dalam kondisi kemarau dalam rentang tiga bulan pertama saja, sebuah percepatan yang belum pernah tercatat dalam beberapa tahun terakhir. Data BMKG menunjukkan bahwa sebanyak 325 ZOM atau 46,5% wilayah Indonesia akan mengalami awal kemarau yang datang lebih maju dari rata-rata klimatologi historisnya, sementara 173 ZOM tetap sesuai pola normal dan 72 ZOM diprediksi mengalami kemunduran.

“Wilayah yang diprediksi mengalami awal kemarau lebih maju meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua,” ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan dalam konferensi pers yang sama.

Proyeksi BMKG menunjukkan bahwa puncak musim kemarau 2026 akan mengepung hampir seluruh Indonesia pada intensitas tertingginya di bulan Agustus 2026, mencakup 429 ZOM atau sekitar 61,4% wilayah nasional.  Wilayah yang masuk dalam cengkeraman puncak kemarau Agustus meliputi Sumatra bagian tengah dan selatan, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, seluruh Bali dan Nusa Tenggara, serta sebagian Maluku dan Papua.

Sebagian wilayah lain akan mengalami puncak kemarau lebih awal pada Juli 2026 yang mencakup 12,6% wilayah, umumnya di Sumatra, Kalimantan bagian tengah dan utara, serta sebagian kecil wilayah lainnya.  Sementara sekitar 14,3% wilayah baru merasakan puncak kemarau pada September 2026, terutama di sebagian Lampung, sebagian kecil Jawa, dan sebagian besar NTT yang menjadi ekor terakhir dari rentetan musim kering panjang ini. Yang paling signifikan, sebanyak 410 ZOM atau 58,7% wilayah Indonesia diprediksi mengalami puncak kemarau yang datang lebih awal dari normal, sementara 142 ZOM lainnya diprediksi mengalami puncak pada waktu yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Kesimpulan umum dari musim kemarau 2026 yang akan kita hadapi ini, kita prediksi maju atau lebih awal. Sehingga pada banyak tempat dia juga menjadi lebih panjang karena awalnya itu maju,” tegas Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, saat menjelaskan dampak kumulatif percepatan musim kepada awak media dalam konferensi pers di Jakarta.

Satu aspek yang paling mengkhawatirkan dari prediksi BMKG adalah proyeksi durasi, di mana sebanyak 400 ZOM atau 57,2% wilayah Indonesia diprediksi mengalami musim kemarau yang berlangsung lebih panjang dari normalnya — konsekuensi langsung dari percepatan awal musim tanpa pergeseran serupa pada tanggal berakhirnya. Kondisi ini membawa implikasi besar bagi kualitas udara, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta yang secara historis mencatat lonjakan konsentrasi partikel PM2.5 selama musim kering.

Piotr Jakubowski, Co-Founder salah satu platform pemantau kualitas udara, mengungkapkan kepada detikcom pada 13 Maret 2026 bahwa berdasarkan data lima tahun terakhir, musim kemarau secara konsisten mendorong tingkat polusi Jakarta melampaui ambang aman World Health Organization (WHO), di mana pedoman WHO menetapkan batas aman PM2.5 di bawah 15 mikrogram per meter kubik. Laporan dari kabarsawitindonesia.com pada 1 April 2026 juga mencatat bahwa sektor perkebunan kelapa sawit nasional perlu bersiap menghadapi tekanan produksi yang berpotensi mendorong fluktuasi harga CPO di pasar komoditas global. Musim kemarau 2026 yang lebih panjang sekaligus mengancam stabilitas pasokan air irigasi, produksi pangan, dan kapasitas pembangkit listrik tenaga air di berbagai wilayah Indonesia secara bersamaan.

“Rata-rata Jakarta tahun lalu sudah di atas 40. Di musim kemarau bisa naik 80, 100, kadang-kadang 200,” kata Piotr Jakubowski kepada detikcom, merujuk pada konsentrasi partikel PM2.5 dalam satuan mikrogram per meter kubik yang berpotensi melonjak drastis selama puncak musim kering 2026.

Merespons seluruh proyeksi tersebut, BMKG mengeluarkan serangkaian rekomendasi lintas sektor yang mencakup pertanian, kehutanan, pengelolaan sumber daya air, dan energi sebagai respons terstruktur terhadap kondisi yang dinilai jauh dari normalnya. Para petani di seluruh Indonesia diimbau segera menyesuaikan kalender tanam dan beralih ke varietas tanaman yang lebih hemat air, tahan terhadap kekeringan, serta memiliki siklus panen lebih singkat untuk meminimalisasi kerugian akibat defisit curah hujan yang diprediksi meluas.

Di sektor kehutanan, pemerintah daerah diminta menyiapkan mekanisme respons cepat guna menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang secara historis meningkat tajam selama periode puncak kemarau, seiring dengan penurunan kualitas udara yang tak terhindarkan. Optimalisasi tampungan air dan perbaikan jaringan distribusi irigasi menjadi rekomendasi mendesak lainnya, mengingat proyeksi curah hujan di bawah normal akan menekan ketersediaan air secara signifikan di 64,5% wilayah Indonesia selama musim kemarau 2026.

Seluruh data prediksi BMKG diperbarui setiap 10 hari melalui prediksi hujan dasarian dan setiap bulan melalui prediksi hujan bulanan, yang dapat diakses publik melalui situs resmi bmkg.go.id, Instagram @infoBMKG, kanal X @infoBMKG, TikTok infoBMKG, serta aplikasi Info BMKG.

“BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi prediksi ini merupakan bentuk peringatan dini (Early Warning) yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata (Early Action) oleh para pemangku kepentingan demi meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia,” pungkas Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam siaran pers resmi yang dipublikasikan di bmkg.go.id.

Berita Terkait