03 December 2025, 14:06

Bitcoin Tergelincir ke US$84 Ribu, Pasar Kripto Memerah Ditinggal Kabur Investor Global

Pasar aset kripto kembali berada dalam tekanan pada perdagangan Selasa (2/12/2025).

Reporter: M. Ansori
Editor: Deden M Rojani
1,956
Bitcoin Tergelincir ke US$84 Ribu, Pasar Kripto Memerah Ditinggal Kabur Investor Global
Foto: bitcoin btc

perspektif.co.id - Pasar aset kripto kembali berada dalam tekanan pada perdagangan Selasa (2/12/2025), seiring menguatnya sentimen penghindaran risiko (risk-off) di pasar keuangan global. Hampir seluruh aset kripto berkapitalisasi besar di jajaran 10 teratas kompak bergerak di zona merah pada sesi pagi ini.

Mengacu data CoinMarketCap, Bitcoin (BTC) diperdagangkan di kisaran US$86.631, melemah sekitar 1,04 persen dalam 24 jam terakhir dan turun 1,57 persen dalam sepekan. Kapitalisasi pasar BTC kini menyusut menjadi sekitar US$1,72 triliun, menandai pudarnya momentum penguatan yang sempat terbentuk pada awal Desember.

Ethereum (ETH), kripto berkapitalisasi terbesar kedua, juga tidak luput dari tekanan jual. ETH terkoreksi sekitar 1,93 persen secara harian dan ambles 4,83 persen sepanjang sepekan ke level US$2.801. Pelemahan ini mempertegas kecenderungan investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko tinggi, terutama di segmen altcoin besar yang koreksinya lebih dalam dibandingkan Bitcoin.

Tekanan paling tajam terlihat pada sejumlah altcoin unggulan. Solana (SOL) turun sekitar 1,09 persen dalam 24 jam terakhir dan merosot 8,20 persen dalam sepekan ke kisaran US$127,13, menjadikannya salah satu aset dengan penurunan paling agresif di kelas kripto papan atas.

Aset kripto lain seperti XRP juga mencatatkan tekanan signifikan, melemah sekitar 2,83 persen secara harian dan anjlok 10,21 persen dalam sepekan ke kisaran US$2,02. Sementara itu, Dogecoin (DOGE) merosot 2,83 persen dalam sehari dan terkoreksi 10,55 persen sepanjang sepekan.

Di tengah gejolak tersebut, dua stablecoin terbesar, yakni Tether (USDT) dan USD Coin (USDC), bergerak relatif stabil di sekitar level US$0,999. Pergerakan ini mencerminkan arus perpindahan dana investor yang kembali mencari “parkir aman” di aset kripto berdenominasi dolar AS.

Tekanan di pasar kripto semakin dalam setelah Bitcoin sempat merosot hingga sekitar 5 persen pada perdagangan Senin (1/12/2025). Aset kripto terbesar dunia itu anjlok dari kisaran US$91.000 pada Jumat menjadi serendah US$84.000 pada awal pekan, memunculkan keraguan baru atas peluang reli akhir tahun meski ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) kian menguat.

Sentimen negatif juga diperparah oleh kekhawatiran bahwa Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) dapat segera menaikkan suku bunga. Langkah itu berpotensi memicu pembalikan (unwinding) strategi carry trade yang selama ini memanfaatkan biaya pinjaman murah dalam yen untuk membeli aset berisiko, termasuk saham Amerika Serikat dan Bitcoin.

Kecemasan bahwa investor akan menutup posisi carry trade tersebut menjadi salah satu pemicu tekanan jual yang meluas di pasar kripto. Ketika leverage mulai dikurangi dan posisi spekulatif dibongkar, aset berisiko seperti kripto biasanya menjadi salah satu yang paling dulu dikorbankan.

Di tengah tekanan yang masih menyelimuti, sejumlah analis mulai menyoroti faktor musiman (seasonality) Bitcoin menjelang akhir tahun. Meskipun riwayat pergerakan BTC relatif belum sepanjang instrumen tradisional, data historis menunjukkan bahwa Bitcoin rata-rata mencatat kenaikan sekitar 9,7 persen pada bulan Desember, menjadikannya bulan dengan kinerja terbaik ketiga.

Secara historis, Oktober merupakan bulan paling kuat bagi Bitcoin dengan rata-rata kenaikan sekitar 16,6 persen, sedangkan September menjadi bulan terlemah dengan penurunan rata-rata sekitar 3,5 persen. Namun, pola masa lalu tersebut kini diuji oleh kombinasi faktor makroekonomi, mulai dari kebijakan bank sentral hingga dinamika pasar derivatif kripto.

Sejumlah strategis juga menyoroti hubungan antara pergerakan Bitcoin dan bursa saham global. Sebagian pelaku pasar melihat BTC kian berfungsi sebagai indikator awal (leading indicator) untuk mengukur sentimen risiko investor. Ketika Bitcoin tergelincir dalam, kekhawatiran akan menular ke aset berisiko lain seperti saham teknologi di Wall Street.

Joe Saluzzi, Co-Founder Themis Trading, mengingatkan bahwa meski Bitcoin dan saham dapat terhubung, terutama lewat kehadiran produk ETF, pergerakan keduanya tidak selalu searah.

 “Pasar saham hanya turun moderat pada Senin, tetapi aset kripto justru jatuh lebih dalam,” ujarnya, menggarisbawahi bahwa volatilitas kripto jauh lebih tinggi dibanding indeks saham utama.

Senada, XTB Research Director Kathleen Brooks menilai pergerakan Bitcoin belakangan ini semakin mencerminkan memburuknya selera risiko di pasar. “Bitcoin saat ini menjadi indikator utama untuk sentimen risiko, dan pelemahannya bukan pertanda baik bagi pasar saham di awal bulan ini,” kata Brooks.

Ia menambahkan, tidak ada satu pemicu tunggal yang jelas di balik koreksi tajam kripto kali ini. Namun, merosotnya volatilitas pekan lalu, ketika indeks VIX sempat turun di bawah rata-rata 12 bulan, justru membuat sebagian pelaku pasar waspada terhadap potensi guncangan baru menjelang penutupan tahun.

Dengan kombinasi sentimen global yang rapuh, ancaman pengetatan kebijakan moneter di Jepang, serta koreksi teknikal setelah reli panjang, pasar kripto kini kembali berada di persimpangan. Investor jangka pendek cenderung mengurangi risiko, sementara pelaku jangka panjang menimbang apakah pelemahan saat ini akan menjadi peluang akumulasi atau sinyal awal berakhirnya siklus kenaikan Bitcoin dan altcoin dalam beberapa bulan terakhir.

Berita Terkait