15 February 2026, 17:39

Berkas Epstein Dibuka Lagi, Kejaksaan Paris Bentuk Tim Khusus Usut Dugaan Keterlibatan Warga Prancis

Kejaksaan Paris membentuk tim hakim khusus untuk menelaah kembali dokumen dan barang bukti yang berpotensi menyeret warga negara Prancis

Reporter: M. Ansori
Editor: Zainur Akbar
1,001
Berkas Epstein Dibuka Lagi, Kejaksaan Paris Bentuk Tim Khusus Usut Dugaan Keterlibatan Warga Prancis
Kejaksaan Paris membentuk tim hakim khusus untuk menganalisis bukti yang dapat melibatkan warga negara Prancis dalam kejahatan Jeffrey Epstein. Ilustrasi. (Getty Images via AFP/STEPHANIE KEITH).

Perspektif.co.id - Kejaksaan Paris membentuk tim hakim khusus untuk menelaah kembali dokumen dan barang bukti yang berpotensi menyeret warga negara Prancis dalam jejaring kejahatan seksual mendiang Jeffrey Epstein, terpidana kasus eksploitasi seksual di Amerika Serikat (AS).

Mengutip laporan AFP, Minggu (15/2), langkah ini ditempuh setelah otoritas Prancis memutuskan melakukan peninjauan ulang secara menyeluruh terhadap sejumlah fakta dan dokumen, termasuk perkara mantan eksekutif agensi model asal Prancis, Jean-Luc Brunel, yang dikenal sebagai rekan dekat Epstein.

Tim khusus tersebut akan bekerja bersama jaksa dari unit kejahatan keuangan nasional dan kepolisian. Tujuannya untuk menyaring dan mengolah kembali setiap dokumen yang dinilai relevan guna membuka kemungkinan penyelidikan baru terhadap dugaan tindak pidana yang melibatkan warga Prancis.

Perwakilan Kejaksaan Paris menyatakan langkah ini dilakukan “untuk dapat mengekstrak setiap bagian yang dapat digunakan kembali secara bermanfaat dalam kerangka investigasi baru.”

Brunel sebelumnya ditemukan meninggal dunia di sel tahanan di Paris pada 2022 setelah didakwa atas dugaan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur. Proses hukum terhadapnya resmi dihentikan pada 2023 menyusul kematiannya, tanpa ada terdakwa lain yang diproses dalam perkara tersebut.

Dalam penyelidikan terdahulu, jaksa menyebut Brunel merupakan “teman dekat Jeffrey Epstein” dan diduga menawarkan pekerjaan modeling kepada gadis-gadis muda yang berasal dari latar belakang ekonomi lemah. Setelah ditelusuri, ia disebut melakukan tindakan seksual terhadap anak di bawah umur di sejumlah lokasi, termasuk di AS, Kepulauan Virgin AS, Paris, dan wilayah selatan Prancis.

Berdasarkan keterangan kejaksaan, sedikitnya sepuluh perempuan melayangkan tuduhan terhadap Brunel. Beberapa di antaranya mengaku dibujuk mengonsumsi alkohol sebelum dipaksa melakukan hubungan seksual.

Perkembangan terbaru ini mencuat setelah Departemen Kehakiman AS (DOJ) merilis berkas terkait Epstein yang memuat sejumlah nama tokoh publik asal Prancis. Namun, otoritas menegaskan bahwa kemunculan nama dalam dokumen tersebut tidak otomatis menunjukkan keterlibatan dalam tindak pidana.

Kantor Kejaksaan Paris mengungkapkan telah menerima permintaan untuk menyelidiki tiga kasus baru yang disebut-sebut berkaitan dengan dokumen tersebut. Kasus itu melibatkan seorang diplomat Prancis, agen modeling, serta seorang musisi.

Atas permintaan Kementerian Luar Negeri Prancis, kejaksaan tengah memeriksa laporan terkait kemunculan nama diplomat senior Fabrice Aidan dalam kumpulan dokumen yang dipublikasikan otoritas AS.

Selain itu, kejaksaan juga menerima pengaduan dari seorang perempuan asal Swedia terhadap Daniel Siad, perekrut model yang disebut memiliki relasi dekat dengan Epstein. Ia menuduh Siad melakukan “tindakan seksual yang ia gambarkan sebagai pemerkosaan dan yang mungkin telah dilakukan di Prancis pada tahun 1990.”

Pengaduan lain juga ditujukan kepada konduktor asal Prancis, Frederic Chaslin, atas dugaan pelecehan seksual yang disebut terjadi pada 2016.

Rilis terbaru dokumen Epstein turut berdampak pada ranah politik dan budaya Prancis. Mantan menteri Prancis, Jack Lang, memutuskan mundur dari jabatannya sebagai pimpinan Institut Dunia Arab (IMA) setelah namanya muncul dalam dokumen yang dikaitkan dengan perusahaan lepas pantai yang didirikan Epstein pada 2016.

Lang membantah melakukan pelanggaran hukum dan menyatakan dirinya “terkejut” atas kemunculan namanya dalam dokumen tersebut.

Sementara itu, kantor jaksa keuangan nasional Prancis telah membuka penyelidikan awal atas dugaan “penipuan pajak berat dan pencucian uang” terhadap Lang dan putrinya, Caroline Lang.

Berita Terkait